Advertisement

Imam adalah suatu istilah yang berarti pemuka dipakai dalam berbagai aspek kehidupan umat Islam. Sejak awal istilah imam telah digunakan guna menyebut seseorang yang memimpin (amma) salat berjemaah di antara para partisan (ma’-mum). Ikatan yang demikian erat dengan dimensi keagamaan kelihatannya menjadi­kannya kurang dikaitkan dengan pengerti­an politik, sebagaimana dapat dilihat dari penggunaan istilah khalifah, bukan imam, bagi Abu Bakar dan para penerusnya. Na­mun karena seorang khalifah yang juga amirul-mukminin otomatis hams memim­pin seluruh aspek keagamaan, khususnya salat jemaah di Mesjid Nabawi, maka ia pun digelari dengan imam. Bagaimanapun persoalannya apakah memang istilah imam yang holistik telah dipakai sejak ma­sa Khulafaur Rasyidin?

Karena sentralitas fungsi keagamaan se­orang pemimpin (baca: khalifah) dalam Is­lam, talc rnengherankan jika kemudian ge­rakan-gerakan protes dan oposisi terhadap tatanan status quo seperti Umayyah dan Abbasiyah selalu mengemukakan alterna­tif kepemimpinan (imamah) yang diang­gap lebih konsisten dengan aspirasi dan spirit keagamaan yang dibawa Nabi. Ke­cenderungan ini dengan jelas diwakili ke­ lompok oposan awal seperti Khawarij dan kemudian dipopulerkan para pengagum kepemimpinan Ali beserta keturunannya yang akhirnya dikenal dengan Syi`ah. Ju­ga, berbeda dengan para khalifah Umay­yah, Bani Abbas berupaya memberi corak keagamaan yang lebih jelas, minimal sela­ma kampanye gerakan mereka (dakwah Abbasiyah) guna memenangkan konsep kepemimpinan yang mereka tuntut. Hal ini jelas tercermin dalam gelar imam yang diberikan kepada para pembina dan pe­mimpin gerakan Abbasiyah. Namun kare­na kenyataannya para khalifah Abbasiyah pada umumnya tidak mencerminkan ideal pemimpin yang agamis dan tidak memiliki otoritas keagamaan, upaya para oposan dan pengritik seperti Syi`ah tetap terfokus pada pola kepemimpinan imam yang me­miliki dimensi keagamaan jelas.

Advertisement

Istilah imam yang akhirnya mengacu kepada pengertian pemimpin spiritual dan penegak hukum telah mengalami perkem­bangan historis. Para Khulafaur Rasyidin semenjak Abu Bakar otomatis memimpin salat jemaah di Mesjid Nabawi atau lain­nya karena mereka telah dipilih sebagai penerus Nabi. Yang juga menarik, di anta­ra argumen klasik guna memperkuat ke­khalifahan Abu Bakar adalah penunjukan Nabi, pada waktu sakit sebelum wafatnya, kepada Abu Bakar untuk mewakilinya memimpin salat jemaah, yaitu sebagai imam. Sebab Khulafaur Rasyidin telah di­gelari khalifah dan kemudian juga amirul­mukminin maka istilah imam yang mereka gunakan kelihatannya belum mempunyai pengertian holistik sebagaimana yang ke­mudian identik dengan khalifah. Kemu­dian protes dan oposisi kelompok Kha­warij baik terhadap kepemimpinan Ali maupun Mu`awiyah di bawah slogan me­reka yang terkenal “Pengadilan hanyalah di tangan Allah” (la /plan illa lillah) me­nandai perkembangan baru dalam pema­kaian istilah imam. Kedua penguasa de facto tersebut telah dianggap meninggal­kan prinsip Islam dengan mengikuti am­bisi pribadi mereka. Bagi kelompok Kha­warij alternatifnya adalah memilih pemim­pin (imam) yang teguh mengikuti ajaran Islam tanpa memasukkan ambisi manusiawinya. Di samping itu, ketidakpuasan terhadap corak dan pola kepemimpinan Umayyah telah mendorong semakin popu­lernya berbagai corak kepemimpinan baik yang ala Khulafaur Rasyidin, Khawarij, lokal, maupun keluarga Nabi. Namun yang menonjol dalam konteks ini adalah munculnya berbagai gerakan yang dikenal dengan Syi`ah.

Konsep kepemimpinan (imamah) Syi`ah tidak dapat dilepaskan dari peranan dan misi keagamaan. Sebab umat selalu menibutuhkan bimbingan maka Tuhan menaruh perhatian utama guna memberi­kan bimbingan yang tak putus-putus buat umat manusia, di antaranya dengan menu­gaskan Nabi memilih (nassa; aw,sci) pene­rusnya (imam) dan setiap penerus menen­tukan penggantinya; demikian seterusnya. Dengan cara ini, mereka berpendapat, bahwa jiwa dan misi keagamaan (Islam) dapat dipertahankan sepanjang masa. Mes­kipun konsep Syi`ah ini lebih mengacu ke­pada aspek spiritual, dalam kenyataannya pemimpin Syi`ah juga dituntut merealisir kehidupan yang komplit. Sebagai pemim­pin yang mendapatkan warisan ajaran langsung dari pendulunya, para imam ha­ms memperjuangkan nasib pengikut-peng­ikut mereka. Hal ini telah dibuktikan para pemimpin Syi`ah awal seperti Husein (w. 680/611-1), Zaid bin Ali (w. 740/122 1-1), Yahya bin Zaid (w. 743/126 H) dan Muhammad bin Ali (w. 743/125 H). Ke­nyataan bahwa tidak semua pemimpin Syi`ah (imam) bangkit memimpin para pengikutnya secara aktif telah diartikan sebagai menjalani prinsip “penyembunyi­an diri” (taqiyah). Atau ,dengan kata lain, taqiyah adalah konsep yang berkembang kemudian guna melegitimasi ketiadaan ak­tifitas langsung para imam untuk meno­long dan membina para pendukung secara nyata.

Istilah imam juga dipakai secara luas di kalangan ulama. Berbagai disiplin ilmu yang mernpunyai hubungan erat dengan kehidupan keagamaan seperti tafsir, hadis, fikih dan kalam berhasil menarik sebagi­an besar energi dan perhatian para pemi­kir muslim; tentunya karena prestige dan makna penguasaan ilmu-ilmu tersebut bagi kehidupan pribadi dan masyarakat. Gengsi yang diberikan masyarakat kepada para ahli dalam bidang ilmu keagamaan terse-but dapat dilihat dari gelar imam yang me­reka sandang, umpamanya Imam at-Taba­ri, Imam al-Bukhari, Imam al-Juwaini, dan Imam Abu Hanifah. Gelar “panutan” (imam) yang mereka terima ini bisa juga diartikan sebagai alternatif terhadap ke­pemimpinan politik yang menarik pan­dangan kelompok agamis tak berhasil me­menuhi ideal yang dituntut.

Advertisement