Advertisement

Ilham, menurut bahasa, berarti menelan­kan (sesuatu). Kata itu dalam bentuk kata kerja alhama dapat dijumpai sekali saja da­lam al-Quran, yakni dalam surat asy­Syams. Dinyatakan dalam ayat 7-10 se­bagai berikut: “Dan demi jiwa serta pe­nyempurnaannya, maka Dia (Allah) meng­ilhamkan kepadanya (alhamahii) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan sung­guh merugi orang yang mengotorinya.” Dapat dipahami dari pernyataan ini bahwa Tuhan memasukkan, memberikan, atau menanamkan kesadaran ke dalam jiwa se­seorang tentang hal-hal yang termasuk ka­tegori takwa, baik, atau benar, dan ten-tang hal-hal yang termasuk kategori kefa­sikan, buruk, atau salah.

Dalam terminologi teologi Islam, kata ilham hanya dihubungkan kepada Tuhan atau malaikat-Nya, sedangkan kepada iblis atau setan dihubungkan kata wiswas atau waswas. Bila Tuhan atau malaikat-Nya mengilhamkan sesuatu kepada seseorang, maka itu mengandung arti bahwa orang itu melalui hatinya memperoleh ide, biSikan, atau suatu dorongan dari Tuhan atau ma­laikat-Nya, yang tentu bertujuan untuk kebaikan orang itu atau lingkungannya yang lebih luas. Sebaliknya bila iblis atau setan mewiswaskan sesuatu kepada sese­orang, maka hal itu mengandung arti bah­wa orang itu melalui hatinya mendapat­kan bisikan, ide, atau dorongan dari makhluk halus itu, agar is terjerumus ke­pada kejahatan.

Advertisement

Selain itu, juga dalam terminologi teo­logi Islam dibedakan antara ilham dengan wahyu, kendati dari sudut bahasa kedua kata itu bisa dipahami dengan pengertian yang sama, yakni sejenis pemberitahuan secara rahasia. Menurut batasan teologi Islam, wahyu diberikan Tuhan hanya ke­pada para nabi atau rasul-Nya, sedangkan ilham selalu diberikan Tuhan atau malai­kat-Nya kepada para nabi atau rasul, juga kepada manusia yang bukan nabi atau ra­sul. Setiap jiwa manusia memiliki potensi untuk menerima ilham dari Tuhan atau malaikat-Nya. Oleh sebab itu haruslah ma­nusia itu mengembangkan potensinya itu dengan beramal saleh atau menyucikan batinnya. Semakin bersih jiwa seseorang semakin terbuka kesempatan baginya un­tuk menerima karunia ilham, tapi semakin kotor jiwa seseorang berarti semakin tipis kesempatan baginya untuk mendapatkan ilham itu.

Bagi orang-orang yang menempuh jalan tasawuf, memperoleh ilham ‘.merupakan bagian dari tujuan yang hendak mereka capai melalui perjuangan keras melehyap­kan sifat-sifat tercela dari dirinya dan ber­hias diri dengan sifat-sifat terpuji. Ilham­ilham yang dikaruniakan itu akan mem­buat iman seseorang menjadi iman yang sejati, yang tidak mungkin dapat digoyah­kan oleh godaan apa pun; keimanannya kepada Allah dan rasul-Nya mencapai ta­raf tertinggi.

Advertisement