Advertisement

Iktikaf berasal dan bahasa Arab yang secara harfiah berarti berdiam. Menurut pengertian sya­ra, iktikaf adalah berdiam diri dalam ruang mesjid karena taat kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan niat beribadat. Ajaran Islam tentang iktikaf mengandung makna serta hikmah yang sa­ngat dalam, yaitu bahwa setiap muslim yang berada di dalam mesjid jika tidak ada kegiatan yang bersifat ilmiah, musya­warah dan muzakarah — dipandang lebih utama untuk mengambil tempat, lalu du­duk menghadap kiblat,. dengan niat men­dekatkan diri kepada Allah. Pada waktu iktikaf sangat baik dilakukan: membaca ayat-ayat al-Quran, zikir, tahlil, tasbih, salawat dan sebagainya. Hukum iktikaf pada dasarnya adalah sunah, kecuali jika iktikaf itu sebagai nazar (qaul), maka hu­kumnya wajib. Iktikaf dapat dikerjakan di setiap waktu.

Syarat-syarat sah iktikaf adalah:

Advertisement
  • Beragama Islam,
  • Berakal sehat,
  • Bersih dari hadas — seseorang yang berhadas besar (junub) tidak boleh menetap dan berdiam diri di dalam mesjid. Sedang rukun-rukun iktikaf:
  1. Berniat melaksanakan iktikaf, baik ikti­kaf yang sunnah maupun yang wajib,
  2. Berdiam dan menetap di dalam mesjid, setidak-tidaknya seltedar telah dapat di­anggap menetap, walaupun tidak lama,
  3. Harus di dalam mesjid, sebab tidaklah sah iktikaf dilakukan di tempat selain mesjid,
  4. Orang yang melakukan iktikaf. Iktikaf menjadi batal karena melakukan hu­bungan seksual atau keluar dari mesjid tanpa alasan (uzur).

Dasar hukum iktikaf adalah al-Quran dan sunnah Rasulullah. Al-Quran membica­rakan iktikaf, misalnya dalam surat 2:187. Sedangkan sunnah Rasulullah, antara lain menurut keterangan Aisyah, bahwa Ra­sulullah selalu beriktikaf pada sepuluh ter­akhir bulan Ramadan. Menurut keterang­an Safiyah (istri Nabi): “Sewaktu Rasulul­lah sedang beriktikaf, saya datang men­ziarahinya pada malam hari dan bercakap­cakap dengannya” (al-Hadis).

Advertisement