Advertisement

Ikrar menurut arti bahasa adalah pengakuan. Dalam hukum Islam istilah  tersebut berarti pengakuan seseorang atas suatu tuduhan terhadap dirinya atau peng­akuannya atas hak orang lain atas dirinya. Umpamanya seorang penggugat, yang mengajukan tuntutan tanpa bukti-bukti selengkapnya, bisa menang apabila si ter­tuduh berikrar (mengakui) kebenaran tu­duhan tersebut. Dalam bentuk lain, tan-pa ada suatu tuntutan, ikrar dianggap mengikat juga apabila seseorang dengan sendirinya mengakui (ikrar) bahwa ia ber­hutang sekian jumlah kepada seseorang, atau mengakui bahwa ia benar-benar telah melakukan suatu kejahatan.

Ikrar adalah salah satu pembuktian da­lam peradilan Islam. Ikrar diterima sebagai alat bukti, didasaikan atas kehendak surat an-Nisa ayat 135 yang menyuruh untuk menegakkan keadilan, dan menjadi saksi karena Allah, meskipun kesaksian itu memberatkan dirinya sendiri. Ikrar adalah kesaksian seorang atas dirinya sendiri. Wa­laupun bisa memberatkan dirinya, demi keadilan, seseorang yang jujur akan meng­akui kesalahan atau hutangnya.

Advertisement

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sehingga ikrar seseorang meng­ikat dan diakui. Syarat-syarat itu, di sam­ping seseorang yang berikrar itu sudah ba­lig dan berakal, tidak dalam keadaan ter­paksa dan tidak pula dalam keadaan ma­buk, juga tidak ada kecurigaan bahwa ik­rarnya itu adalah palsu. Umpamanya ikrar yang timbul dari seorang yang sedang sa­kit keras yang membawa wafatnya, bahwa ia berhutang sejumlah harta kepada salah seorang ahli warisnya. Ikrar seseorang da­lam kondisi demikian perlu dilihat lebih jauh, apakah benar-benar ia berhutang, ataukah ikrar itu hanya sebagai topeng un­tuk memberikan hartanya kepada salah seorang ahli waris yang kebetulan paling disayanginya. Apabila ada kecurigaan akan kepalsuan ikrar tersebut dan tidak ada suatu bukti lain yang mendukung ke­benarannya, maka pengakuan (ikrar) ter­sebut dinyatakan tidak mengikat atau ti­dak sah menurut hukum Islam. Dalam contoh lain umpamanya seseorang berik­rar bahwa si fulan adalah anak kandung­nya. Ikrar seperti ini bisa terjadi disebab­kan yang berikrar itu mengharapkan ban­tuan atau harta pusaka dari si fulan tersebut apabila ia wafat. Sedangkan menurut penyelidikan seorang hakim umur si fulan itu lebih tua daripada yang berikrar, atau ada indikasi-indikasi lain yang menunjuk­kan kepalsuannya, maka ikrar tersebut di­nyatakan tidak sah.

Persyaratan lain ialah bahwa almuciarru lahu (seseorang yang dinyatakan punya hak atas diri yang berikrar atau seorang penggugat) tidak menolak ikrar tersebut. Jikalau al-muciarru lahu menolak atau me­nyatakan bahwa ikrar itu tidak benar, ma­ka ikrar dinyatakan tidak sah. Dalam per­adilan, penolakan penggugat atas pengaku­an tergugat, berarti penggugat mencabut gugatannya.

Ikrar hanya dianggap mengikat bagi di­ri yang mengucapkan ikrar. Artinya, suatu ikrar tidak dianggap mengikat, apabila se­seorang mengikrarkan sesuatu untuk diri orang lain. Umpamanya, si A berikrar bah­wa si B berhutang sejumlah uang kepada si C. Ikrar yang demikian tidak mengikat ba­gi si B.

Ikrar sebagai bahan bukti hanya ber­fungsi sebagai suatu keterangan dari yang bersangkutan bahwa (dalam utang piutang umpamanya) pada waktu yang lampau ia pernah berutang kepada seseorang. Jadi je­las bahwa utang itu wajib dibayar bukan­lah karena adanya ikrar, tetapi karena be­nar-benar ia berutang, yang terjadi pada waktu yang lalu. Oleh karena itu, apabila yang dinyatakan tempat berutang itu me­nolak, maka penolakannya itu adalah buk­ti bahwa di antara keduanya tidak pernah terjadi utang piutang, dan hal itu sekaligus menunjukkan kepalsuan ikrar tersebut.

Dalam masalah-masalah selain hudud (lihat Hudud), seseorang yang sudah ber­ikrar tidak boleh mencabut kembali ikrar­nya. Artinya, satu kali ia berikrar dalam keadaan sadar dan bebas tidak terpaksa, maka ikrar itu tetap mengikat dan harus ia laksanakan apa yang diikrarkannya itu. Adapun dalam masalah hudud, seperti se­seorang yang berikrar bahwa ia melakukan zina, atau mencuri dan lain-lain yang ter­masuk hudud, seseorang boleh mencabut kembali ikrarnya sebelum dijatuhi hukum an.

Ikrar sebagai bahan bukti, di samping bisa dilakukan dengan kata-kata, juga bisa dilakukan dengan isyarat atau tulisan bagi siapa yang tidak mampu melakukannya dengan kata-kata. Dalam bentuk isyarat umpamanya dengan gerakan kepala atau gerakan anggota tubuh lainnya yang meng­isyaratkan suatu pengakuan atas sesuatu.

Ikrar secara jujur hanya akan timbul da­ri seseorang yang jujur pula. Tanpa keju­juran, ikrar yang benar tidak akan terjadi. Pada awal masa Islam, di saat kesadaran beragama masih tebal dalam jiwa umat Is­lam, tidak banyak persoalan di peradilan dalam menyelesaikan suatu masalah. Bah­kan banyak di antara para sahabat yang datang kepada Rasulullah mengakui kesa­lahannya dan minta dijatuhi hukuman yang setimpal dengan kesalahannya. Da-lam sebuah hadis dikatakan, bahwa se­orang perempuan datang kepada Rasulul­lah mengaku bahwa ia telah melanggar hu­kum (berzina). Beberapa kali Rasulullah mengatakan, apakah ia (yang berikrar) dalam keadaan normal atau dalam keada­an terpaksa untuk mengakui sesuatu yang sebenarnya bukan perbuatannya. Namun perempuan itu tetap bertahan bahwa ia benar-benar telah melanggar hukum. Ru­panya perempuan tersebut memandang ringan hukuman duniawi, sedangkan yang paling ditakutinya adalah hukum akhirat dan murka Allah.

 

Advertisement