Advertisement

Ikhtiar (Ikhtiyar) secara etimologis ber­asal dan kata kerja ikhtara — yakht’dru yang artinya memilih, satu akar dengan kata “khair” yang berarti baik. Dengan demikian, ikhtiar berarti memilih mana yang lebih baik di antara yang ada.

Dalam istilah Teologi (Ilmu Kalam), ikhtiar diartikan dengan kebebasan dan kemerdekaan manusia dalam memilih dan menentukan perbuatannya.

Advertisement

Tuhan adalah pencipta alam semesta, termasuk di dalamnya manusia. Selanjut­nya Tuhan Maha Kuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat mutlak. Kaitannya dengan masalah ikhtiar, akan timbul bebe­rapa pertanyaan; sampai dimanakah ma­nusia sebagai ciptaan Tuhan bergantung pada kehendak dan kekuasaan mutlak Tu­han dalam menentukan perjalanan hidup­nya? Apakah manusia mempunyai kebe­basan dan kemerdekaan dalam memilih dan menentukan segala perbuatannya? Ataukah manusia terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan?

Menghadapi pertanyaan-pertanyaan se­perti ini, aliran Qadariyah, suatu aliran yang pertama kali dibangun oleh Ma`bad al-Juhani dan Gailan ad-Dimasyqi, berpendapat bahwa manusia mempunyai kebe­basan dan kemerdekaan dalam menentu­kan perjalanan hidupnya. Dengan kata lain, manusia mempunyai kebebasan dan kemerdekaan untuk menentukan dan me­wujudkan perbuatan-perbuatannya. Manu­sia berbuat baik adalah atas kemauan dan kehendaknya sendiri. Demikian pula ma­nusia berbuat jahat adalah atas kemauan dan kehendaknya sendiri. Perjalanan nasib manusia ditentukan oleh dirinya sendiri.

Aliran Jabariyah, yang dibangun oleh al-Ja`d Ibnu Dirham dan Jahm Ibnu Saf­wan, berpendapat sebaliknya, manusia ti­dak mempunyai kebebasan dan kemerde­kaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia, menurut aliran ini, terikat pada kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan. Manusia ketika mengerja­kan perbuatannya dalam keadaan terpak­sa, karena perbuatan-perbuatan manusia telah ditentukan sebelumnya oleh kada dan kadar Tuhan. Manusia tidak mempu­nyai kekuasaan untuk berbuat apa-apa, manusia tidak mempunyai daya, manusia tidak mempunyai kehendak sendiri dan ti­dak mempunyai pilihan; manusia dalam perbuatannya dipaksa dengan tidak ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya.

Rupanya pertentangan yang sangat diametral antara aliran Qadariyah dengan aliran Jabariyah tersebut mendorong lahir­nya faham lain yang berusaha mengambil jalan tengah di antara keduanya. Menurut asy-Syahrastani faham ini dibawa oleh al-Husain Ibnu Muhammad an-Najjar dan Dirar Ibnu Amar. An-Najjar berpendapat, Tuhanlah yang menciptakan perbuatan­perbuatan manusia, baik perbuatan baik maupun perbuatan jahat, tetapi manusia mempunyai bahagian dalam pewujudan perbuatan-perbuatan itu. Tenaga yang di­miliki manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Inilah yang dimaksud dengan kasb atau acquistion. Dalam faham an-Najjar dan Di­rar ini, manusia tidak lagi hanya merupa­kan wayang yang digerakkan dalang. Ma­nusia masih mempunyai bahagian yang efektif dalam perwujudan perbuatan-per­buatannya. Menurut faham ini Tuhan dan manusia bekerja sama dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan manusia. Manusia ti­dak semata-mata dipaksa dalam melaku­kan perbuatan-perbuatannya, is mempu­nyai kebebasan dan inisiatif yang sama-sa­ma efektif dengan kekuasaan dan kehen­dak Tuhan.

Advertisement