Advertisement

Ijmak mengandung dua mak­na, yaitu menyusun dan mengatur suatu hal yang tidak teratur, dan berarti pula se­pakat atau bersatu dalam pendapat. Me­nurut istilah fukaha, ijmak ialah kesepa­katan pendapat di antara para mujtahid, atau persetujuan pendapat di antara ula­ma fikih di abad tertentu mengenai hu­kum syara. Persetujuan pendapat ini diwu­judkan dalam tiga carat _

  1. dengan qauli qauli), yaitu penda-
    pat yang diucapkan oleh para mujtahid yang diucapkan oleh para mujtahid yang diakui sah;
  2. dengan _WU (ijma”amalT), yaitu apabila ada kesepakatan dalam praktek;
  3. dengan diam (ijina’ sukuti), yaitu apa­bila para mujtahid tidak membantah atas suatu pendapat yang dikeluarkan oleh satu atau beberapa Pada umumnya ulama berpendapat, bahwa ijmak adalah kesepakatan pendapat pa­ra mujtahid saja, sehingga orang yang tidak alim dalam hukum Islam tidak boleh mengambil bagian dalam ijmak. Dalam pada itu ada yang berpendapat, bahwa ijmak berarti persetujuan penda­pat di antara kaum muslimin; hanya anak kecil dan orang gila saja yang ti­dak dilibatkan dalam ijmak.

Ada berbagai pendapat tentang apakah ijmak itu hanya terbatas pada suatu tern-pat, atau terbatas pada satu atau beberapa generasi. Imam Malik mendasarkan ijti­hadnya atas kesepakatan pendapat ulama Madinah. Secara teoritis, pembatasan se­macam itu tidak dapat dibenarkan, jika diingat bahwa orang terpelajar tak hanya terbatas di Madinah saja. Pendapat yang paling bisa diterima ialah bahwa ijmak ha­rus melibatkan para ulama di segala tern-pat. Di antara golongan Ahlus-Sunnah wal Jamaah, ada sebagian yang berpendapat bahwa ijmak hanya terbatas pada para sa­habat Nabi, sedangkan sebagian lagi ber­pendapat, ijmak itu meliputi generasi ber­ikutnya, yaitu tabiin. Pendapat yang umum ialah bahwa ijmak tidak terbatas pada suatu generasi, atau pada suatu nega­ra tertentu. Oleh sebab itu, ijmak yang se­benarnya ialah kesepakatan pendapat di antara sekalian mujtahid dari semua negara dalam abad mana pun, tetapi ini adalah sesuatu yang hampir-hampir tidak mung­kin.

Advertisement

Mengenai kedudukan ijmak sebagai huj­jah, sebagian ulama berperidapat, bahwa ijmak ulama menjadi hujjah (dasar hu­kum) yang kuat. Kebulatan pendapat para mujtahid atas suatu hukum syara tertentu, meskipun berbeda aliran dan lingkungan, itu menunjukkan bahwa kebenaran yang satu telah berada dalam kebulatan penda­pat mereka. Kebenaran itu harus terwujud dalam keserasian hukum hasil ijmak itu dengan jiwa syariat dan dengan dasar-da­sarnya yang umum (global). Apabila hu­kum ijmak tentang suatu masalah telah di­tetapkan, maka konsekuensinya tidak se­orang ahli hukum pun diizinkan membuka kembali pembicaraan tentang hal itu, ke­cuali jika sebagian ahli hukum pada waktu ijmak itu dilaksanakan telah menyatakan pendapat yang berlainan. Suatu ijmak bo­leh saja dibatalkan oleh ijmak lain yang dilaksanakan pada abad yang sama atau abad berikutnya, dengan syarat bahwa ijmak sahabat Nabi tidak boleh dibatalkan oleh generasi yang datang kemudian. Ke­dudukan ijmak sebagai dasar hukum syari sebenarnya telah ditunjukkan oleh Quran dan hadis. Dapat dilihat firman Allah da­lam surat an-Nisa, ayat 59. Sedangkan ha­dis Nabi mengatakan: “Umatku tidak akan bersepakat atas “Kesesatan” (al­Hadis).

 

Advertisement