Advertisement

Ijab-Kabul, berasal dan kata Arab yakni ijab dan qabill. Secara harfiah, ijab berarti menuntut, mewajibkan dan memastikan; sedangkan kabul artinya menerima atau meluluskan. Adapun yang dimaksud de­ngan pengertian ijab dalam istilah fikih Is­lam ialah pernyataan kehendak yang di­sampaikan oleh orang atau pihak pertama kepada orang atau pihak kedua yang me­lakukan suatu akad (perjanjian) seperti akad nikah, jual beli, sewn-menyewa dan lain sebagainya. Dan yang dimaksud de­ngan kabul ialah pernyataan setuju atau sikap menerima dan pihak kedua terhadap ijab yang dinyatakan pihak pertama.

Ibarat dua nisi mata uang yang satu sa­ma lain mustahil dapat dipisahkan meski­pun bisa dibedakan, ijab dan kabul meru­pakan dua pernyataan dan kegiatan yang harus selalu berpasangan. Ijab tanpa kabul mustahil ada, dan kabul tanpa ijab tak mungkin tetwujud. Dalam melakukan ijab dan kabul bagi suatu akad, ada beberapa prinsip umum yang harus diperhatikan agar akad tersebut dipandang sah menu-rut hukum Islam. Prinsip-prinsip umum yang dimaksudkan ialah:

Advertisement

Pertama, orang yang melakukan ijab­kabul harus mumayyiz, yakni mampu membedakan antara yang benar dengan yang salah dan antara yang bermanfaat dengan yang tidak ada gunanya. Oleh ka­rena itu ijab kabul yang dilakukan orang gila umpamanya, dipandang tidak sah ka­rena orang gila tidak mumayyiz. Demikian pula ijab-kabul yang dilakukan oleh anak kecil yang belum mumayyiz, kecuali da­lam hal-hal tertentu yang menurut kebia­saan dianggap sebagai suatu hal yang wajar seperti jual bell (jajan) yang dilakukan oleh anak-anak dalam kehidupan sehari­hari.

Kedua, ijab dan kabul dilakukan dalam waktu yang sama, dalam pengertian antara pernyataan ijab dan pernyataan kabul ti­dak boleh terpisah dengan perkataan atau kegiatan lain yang dianggap menghalangi (mengganggu) kelangsungan suatu akad, kecuali dalam hal-hal yang dibenarkan syariat.

Ketiga, ijab kabul dalam suatu akad, pa­da dasarnya harus dilakukan atas dasar su­ka sama suka (kerelaan) dan kedua belch pihak yang berakad. Transaksi jual-beli yang dilakukan atas dasar pemaksaan sa­lah satu pihak umpamanya, dianggap ti­dak sah kecuali ada alasan yang dibenar­kan syariat seperti membeli dengan paksa tanah dan atau bangunan seseorang de­ngan harga wajar jika kepentingan umum benar-benar membutuhkannya.

Keempat, antara ijab dan kabul harus ada persesuaian atau persamaan, dalam pe­ngertian pernyataan kabul tidak bola: me­nyalahi pernyataan ijab seperti dalam hal jumlah mahar (mas-kawin) dalam akad ni­kah, jumlah harga pembayaran dalam transaksi jual beli dan lain-lain.

Advertisement
Filed under : Review,