Advertisement

Ihtikar adalah kata Arab yang belum Ba­ku menjadi bahasa Indonesia ini makna asalnya ialah (bersikap tidak baik, tidak ramah, bertindak lalim, aniaya, sesuka ha-ti atau sewenang-wenang). Adapun yang di­maksud dengan ihtikar dalam istilah fikih Islam ialah perbuatan menim bun atau me­nahan barang-barang dagangan demikian rupa sehingga tidak beredar di pasar-pasar dengan maksud supaya harganya menjadi mahal meskipun orang banyak membu­tuhkannya.

Menimbun barang-barang dagangan itu dinamai ihtikar terutama makanan po­kok seperti dinyatakan sebagian ulama —karena tindakan demikian memang meru­pakan tindakan yang sewenang-wenang, lalim dan bertentangan dengan perikema­nusiaan serta akhlak yang terpuji. Nabi Muhammad sebagai terlihat dalam bebera­pa hadisnya, tidak membenarkan tindakan ihtikar dan mengecam para pelakunya (muhtakir). Sebagian dari hadis yang di­maksud ialah: “Orang yang melakukan ih­tikar adalah orang yang bertindak salah.” (Hadis riwayat Abu Daud, at-Turmuzi dan Muslim dari Ma`mar)

Advertisement

Dan dalam sabdanya yang lain, konon Rasulullah pernah menyatakan: “Sejelek­jelek orang adalah muhtakir. Kalau men­d engar harga turun (murah) ia merasa ke­sal, tetapi bila mendengar harga melonjak mahal ia akan gembira.”

Dalam pada itu para ulama berlainan pendapat dalam menentukan jenis-jenis barang dagangan apa sajakah yang apabila ditimbun seseorang tergolong ke dalam perbuatan ihtikar yang diharamkan. Me­nurut sebagian ulama seperti asy-Syafil dan Ahmad ibnu Hambal, yang termasuk ke dalam kategori ihtikar ialah terbatas dalam menimbun barang-barang dagangan yang berupa makanan; sementara sebagian ulama yang lain memasukkan ‘pula jenis­jenis dagangan yang lain seperti pakaian dan lain sebagainya.

Syariat Islam mengharamkan perbuatan ihtikar, karena ihtikar merugikan kepentingan umum. Namun demikian syariat ti­dak merincinya secara detail, syarat-syarat apa saja yang harus diperhatikan sehingga suatu penimbunan dapat dikategorikan se­bagai ihtikar yang diharamkan? Sebagian ahli fikih ada yang mengemukakan pen­dapatnya bahwa ihtikar yang diharamkan ialah ihtikar yang paling sedikit terpenuhi ketiga syarat berikut:.

Pertama: barang-barang dagangan yang ditimbun itu terutama makanan po­kok — melebihi kebutuhan yang diperlu­kan penimbun dan keluarganya untuk ma­sa selama satu tahun. -Kedua: penimbunan itu dilakukan semata-mata demi menung­gu kenaikan harga mahal yang tidak wajar di kala konsumen sangat membutuhkan. Dan ketiga: penimbunan itu dilakukan di saat-saat orang banyak membutuhkannya sedangkan mereka tidak mendapatkannya di pasaran dengan harga yang wajar.

 

Advertisement
Filed under : Review,