Advertisement

Ihsan menurut bahasa berasal dari kata keija ahsana yuktsinu yang berarti ber­buat balk atau memperbuat kebaikan. Ka­ta ihsan ini mencakup dua pengertian: un­tuk diri sendiri, dan untuk orang lain. Ar­Ragib al-Asfahani dalam alMufraddt men­jelaskan, kata ihsan mempunyai dua pe­ngertian: pertama, memberikan kenikmat-

an atau kebaikan kepada orang lain; ke­dua, mengetahui dengan baik tentang se­suatu pengetahuan dan mengerjakan de­ngan baik tentang sesuatu pekerjaan.

Advertisement

Kata ihsan sedikitnya delapan kali dise­butkan dalam al-Quran (al-Baqarah: 83, 178, 229; at-Taubah: 101; an-Nisa: 61; al-Ahqaf: 15; ar-Rahman: 60; dan an­Nahl: 90). Kata ini, dalam anti khusus, se-ring disamakan dengan akhlak, tingkah­laku, sikap dan perbuatan atau budi pe­kerti yang balk menurut Islam. Selain itu, ihsan juga terkadang diartikan dengan ke­sempurnaan.

Sedangkan yang dimaksud ihsan menu-rut syariat, secara tegas telah dirumuskan oleh Nabi Muhammad sendiri melalui sa­lah satu sabdanya, yaitu: “Ihsan ialah bah­wa engkau menyembah Allah,seakan-akan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat engkau.” Tegasnya, dalam mengabdikan diri atau beribadat kepada Allah hendaklah seseorang merasa melihat Tuhan, dan jika tidak ia merasa melihat­Nya, maka hendaklah ia merasa bahwa Allah senantiasa melihatnya. Dengan de­mikian, yang dirnaksud dengan perkataan ihsan ialah ikhlas beribadat, atau ikhlas dalam melaksanakan iman dan islam. Ka­rena arti ibadat yang sebenarnya, seperti yang dijelaskan sebagian ulama, adalah nama yang melingkupi segala yang disukai oleh Allah dan diridai-Nya, balk berupa perkataan maupun perbuatan, yang terang ataupun yang tersembunyi.

Imam an-Nawawi dalam menjelaskan sabda Nabi tentang arti ihsan itu, antara lain menegaskan: “Perkataan ini termasuk kata-kata yang ringkas tetapi mengandung pengertian yang luas (laweimi` alkalim), yang didatangkan oleh Nabi. Karena itu, jika di antara kita ada kesanggupan untuk mengerjakan ibadat, karena merasa berha­dapan dengan Tuhan, tentu ia tidak akan meninggalkan sedikit pun dari apa yang disanggupinya, ia akan bersikap tawadu dan khusyuk serta memperbaiki dart me­nyempurnakan segala kelakuannya, balk secara lahir maupun secara batin.”

Imam Abu &Aid memberikan penje­lasan tentang kata “muhsin” (orang yang berbuat ihsan), yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 112, sebagai berikut: “Menyerahkan diri kepada Allah itu arti­nya menghadap kepada-Nya untuk taat dan beribadat atau berbakti dengan tulus ikhlas, dengan tidak mempersekutukan­Nya dengan siapa pun juga. Dan berbuat ihsan itu artinya berbuat baik dalam sege­nap pekerjaannya, yaitu mengerjakan amal perbuatan menurut ajaran yang sebenar­nya, seperti telah dijelaskan oleh Nabi da­lam hadis tersebut. .”

Dalam menjelaskan ayat 125 dari surat an-Nisa, sebagian ulama tafsir mengemu­kakan: “Tidak ada satu agama pun yang lebih baik daripada agama Islam, yaitu menyerahkan wajahnya dengan penuh ikhlas kepada Allah dan melakukan keba­jikan (berbuat ihsan) serta mengikuti aga­ma Nabi Ibrahim yang hanif. Yang dimak­sud berbuat ihsan di sini, ialah melakukan segala pekerjaan dengan tulus ikhlas, ba­gus dan rapi, baik yang fardu maupun yang sunah. Yakni, segala perbuatannya itu dilakukan dengan perasaan penuh tang­gung jawab kepada Allah.

Ihsan merupakan tiang atau soko-guru ketiga bagi agama yang benar (Din al-ifaq, Din al-Islam), setelah iman dan islam. Ka­rena, yang dinamakan agama yang benar itu bukan hanya berupa kepercayaan di dalam hati pada adanya Tuhan Yang Maha Esa dan segala sifat-sifat-Nya (iman), tetapi kepercayaan itu harus disertai dengan amal perbuatan nyata (islam), amal per­buatan itu tidak cukup dengan asal berbu­at raja, tetapi hams disertai dengan tulus ikhlas menurut petunjuk Allah (ihsan). Dengan kata lain, agama yang benar itu berupa kesatu-paduan antara tiga soko­gurunya: iman, islam dan ihsan. Sehu­bungan dengan itu, Imam al-Hasan al-Basri mengatakan: “Iman itu bukanlah hiasan dari luar dan bukan pula cita-cita yang be­lum terwujud akan tetapi berada tetap dan teguh di dalam hati yang dibuktikan dengan amal perbuatan yang nyata. Ba­rangsiapa yang mengakui akan kebaikan dan mengerjakan amal yang tidak baik, Allah mesti menolak pengakuannya, dan barangsiapa yang mengakui akan kebaikan dan mengerjakan yang baik pula, sesuai dengan pengakuannya, Allah akan mening­gikan amal perbuatannya itu ke hadirat­Nya.”

 

Advertisement