Advertisement

Ihram menurut pengertian bahasa ialah, mengikat diri untuk menghindari sejumlah larangan yang sebelumnya dibolehkan. Dalam hukum Islam, istilah ihram berarti “niat melakukan ibadat haji atau umrah”. Dengan itu berarti seseorang mulai meng­ikat dirinya dengan cara dan pakaian ter­tentu serta menahan diri dari melakukan larangan-larangan tertentu. Ihram adalah salah satu dari rukun haji atau umrah. Se­seorang yang dalam keadaan ihram sebe­lum tahallul (lihat: Tahallul), yang pria di­sebut muhrim (lelaki yang sedang ihram), dan wanita disebut muhrimah (perempuan yang sedang ihram).

Sebelum melakukan ihram, lebih dahu­lu dianjurkan untuk membersihkan dan merapihkan diri, seperti mandi, memo-tong kuku, meminyaki dan menyisir ram-but, dan memakai harum-haruman. Rasu­lullah sebelum memulai ihram, lebih da­hulu memakai harum-haruman, dan masih tinggal bau harumnya sampai waktu ia su­dah berihram, seperti diterangkan dalam hadis Aisyah yang diriwayatkan oleh Bu­khari dan Muslim. Kemudian melepaskan pakaian biasa, dan memakai pakaian ih­ram, yang berbeda dengan pakaian dalam keadaan tidak ihram. Pria memakai dua helai kain yang tidak berjahit bertangkup, dan dianjurkan yang berwarna putih. Se­dangkan bagi wanita, dimestikan memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh, selain muka dan kedua telapak tangan. Kemudian salat sunah dua rakaat, seperti dilakukan oleh Rasulullah (H.R. Muslim). Setelah itu ia berniat mulai melakukan ibadat haji atau umrah. Niat itu dilakukan di miqat (tempat yang telah ditentukan bagi masing-masing negeri untuk memulai melakukan. Hiram. Lihat: Miqat), dan mu­lai waktu itulah ia terikat dengan segala ketentuan ibadat tersebut.

Advertisement

Ada beberapa larangan yang harus di­hindari selama seseorang dalam keadaan ihram. Larangan-larangan itu dapat dibagi kepada tiga kelompok:

  1. Larangan-larangan yang khusus bagi pria, yaitu sebagai berikut:
  • Memakai pakaian berjahit bertangkup atau berkarung, seperti celana, baju dan kain sarung.
  • Menutup kepala, seperti dengan topi, ikat kepala dan sebagainya. Tetapi ti­daklah dilarang memakai payung atau berteduh di bawah pohon dan sebagai­
  • Memakai sepatu yang menutup dua ma-

ta kaki. Seseoran’g yang kebetulan tidak mempunyai terompah, tidak diboleh­kan memakai sepatunya kecuali setelah dipotong sampai tidak menutup dua mata kakinya.

Larangan-larangan tersebut, dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

  1. Larangan-larangan yang khusus bagi wa­nita, yaitu menutup muka dan kedua telapak tangan, seperti dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Ahmad.
  2. Larangan-larangan bagi pria dan wanita:
  • Memakai pakaian yang dicelup dengan sesuatu yang harum dan harumnya itu berkelanjutan, seperti dijelaskan sebuah hadis Rasulullah (R. Bukhari dan Mus­lim). Adapun ketinggalan bau haruman yang dipakainya sebelum berihram, ti­daklah mengapa seperti terdahulu telah
  • Bercukur atau menghilangkan rambut, seperti dijelaskan dalam ayat 196 surat al-Bagarah. Apakah rambut itu rambut kepala atau lainnya, dengan cara meng­gunting atau mencabutnya.
  • Memotong kuku. Hukumnya dikiaskan oleh para mujtahid pada larangan meng­hilangkan rambut. Kecuali jikalau kuku itu pecah yang menyakitinya, hukum­nya dipotong tanpa harus membayar fidyah (denda).

Mengakadkan nikah, baik untuk diri sendiri atau untuk orang lain. Usman bin Affan m.enjelaskan bahwa Rasulul­lah berkata: “Seorang yang dalam keadaan ihram tidak boleh nikah dan tidak pula menikahkan.” (H.R. Muslim).

  • Bersetubuh suami istri atau pendahulu­annya, seperti bercumbu, meraba de­ngan syahwat dan sebagainya. Dalam surat al-Baqarah, ayat 196 dijelaskan bagi seseorang yang sedang menunaikan ibadat haji dilarang melakukan rafs (me­ngeluarkan perkataan yang menimbul­kan birahi atau bersetubuh).
  • Berbantah, bertengkar dan memperbuat kejahatan (maksiat, seperti dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 196).
  • Berburu binatang daratan, sedangkan binatang lautan dibolehkan, seperti di-
    jelaskan dalam ayat 96 surat al-Maidah.
  • Memakan daging binatang buruan yang didapat dengan suruhan atau pertolong­ Karena ada hadis yang melarang demikian (R. Bukhari). Adapun daging yang diburu, bukan atas suruhan atau pertolongannya, artinya ia tidak ikut memburunya, dagingnya boleh dima­kan. Rasulullah waktu ditanya menge­nai daging yang didapati dengan jalan demikian, membolehkan memakannya (R. Bukhari dan Muslim).

Orang-orang yang dalam keadaan uzur atau terdesak mengerjakan larangan-la­rangan tersebut, selain bersetubuh suami istri dan melakukan akad nikah, boleh me­lakukannya dengan keharusan membayar denda (Lihat: Dam). Adapun bersetubuh, adalah membatalkan haji. Dan adapun me­lakukan akad nikah, menurut Imam Sya­fil, Ahmad dan Malik, tidak dikenakan denda, dan tidak pula merusak hajinya, tetapi akad nikahnya itu tidak sah.

Larangan-larangan tersebut, belum bo­leh dilakukan, sebelum ia’ melakukan ta­hallul. Selama itu pula ia berada dalam ke­adaan ihram, yang mencerminkan kesama­rataan manusia di nisi Tuhannya.

Advertisement