Advertisement

Ifrit adalah nama satu pribadi yang hi­dup pada masa pemerintahan Sulaiman, seorang nabi dan raja di tanah Kan’an, (Palestina) pada abad ke-10 SM. Nama ter­sebut dapat dijumpai sekali saja dalam al­Quran (27:39), sehubungan dengan kisah Nabi Sulaiman yang mengajukan perta­nyaan kepada para pembantunya tentang siapa di antara mereka yang sanggup me­wujudkan atau menghadirkan ke hadap­annya singgasana Ratu Saba (Ratu yang berkuasa di negeri Saba, Yaman). Menurut al-Quran (27:39): “Ifrit dari kelompok Jin berkata (menjawab), ‘Aku akan meng­hadirkan atau mewujudkannya ke hadap­an Tuan, sebelum Tuan berdiri dari tem­pat duduk Tuan; aku benar-benar kuat un­tuk pekerjaan itu dan dapat dipercaya’.” Jawaban Ifrit tersebut disusul pula oleh jawaban dari seseorang yang mempunyai ilmu dari suatu kitab stici, katanya (27: 40): “Aku akan membawa atau mewujud­kan singgasana itu bagi Tuan, sebelum tarf Tuan kembali kepada Tuan.”

Berkenaan dengan Ifrit khususnya dan kisah-kisah di sekitar Nabi Sulaiman pada umumnya, pemahaman para ulama terbagi dua. Pemahaman pertama memandang If­rit itu betul-betul makhluk halus dari go­longan En. la dipahami bisa menghadir­kan singgasana (kursi) istana Kerajaan Sa­ba (di Yaman) ke hadapan Sulaiman di istananya (di Kan’an, Palestina) dalam waktu yang singkat, yakni: sebelum Sulai­man berdiri dan tenVat duduknya, singga­sana tersebut sudah dapat dihadirkan. Pri­badi yang satu lagi (orang yang berilmu dan kitab suci) dipahami lebih hebat lagi kemampuannya, yakni: dapat menghadir­kan singgasana itu sebelum mata Sulaiman berkedip. Pemahaman pertama ini dianut oleh sebagian ulama, tapi ditolak oleh se­bagian yang lain, karena pemahaman de­mikian dinilai berlebihan dan bercorak mitologis.

Advertisement

Pemahaman kedua memandang Ifrit ti­dak lain dan manusia, yang menjadi pem­besar Sulaiman. Dalam pemahaman kedua ini, keterangan al-Quran bahwa If ter­masuk golongan Jin, dikaitkan juga de­ngan keterangan lain (juga dan al-Quran) bahwa Nabi Sulaiman mempunyai tiga ke­lompok pasukan, yaitu: kelompok ins (manusia), kelompok jin, dah kelompok tair (burung). Ketiga kelompok pasukan itu dipahami sebagai tiga divisi pasukan, yang semuanya manusia, tapi diberi tiga nama yang berbeda (Divisi Manusia, Divi­si Jin, dan Divisi Burung), seperti halnya tentara di masa sekarang dibagi ke dalam sejumlah divisi, dan masing-masing divisi diberi nama pahlawan, nama burung, na­ma binatang darat atau laut, atau nama yang lain. Pembagian pasukan Sulaiman ke dalam tiga divisi itu, bisa saja didasar­kan pada perbedaan tugas atau kemampu­an. Bahwa Ifrit (pembesar Sulaiman dan Divisi Jin) sanggup menghadirkan singga­sana Ratu Saba sebelum Nabi Sulaiman berdiri dan tempat duduknya, dipahami dengan pengertian bahwa Ifrit sanggup membuat singgasana (persis seperti singga­sana Ratu Saba), sebelum Nabi Sulaiman berdiri dalam upacara penyambutan keha­diran Ratu Saba di istana Sulaiman. Orang yang berilmu yang menyanggupi lebih ce­pat untuk menghadirkan singgasana terse-but, dipahami sebagai orang yang dapat menyelesaikan pembuatan singgasana, per­sis seperti singgasana Ratu Saba, sebelum tarf (secara harfi berarti “ujung atau ping­gir”; dalam pemahaman pertama dipahami sebagai kelopak mata, tapi dalam pema­haman kedua ini dipahami sebagai peru­tusan) atau perutusan Sulaiman kembali dari negeri Saba, mendahului kehadiran Ratu Saba di istana Sulaiman. Sejalan de­ngan pola pemahaman kedua ini, Hud­hud, yang bisa mengetahui keadaan dan keberagamaan rakyat dan Ratu Saba, bu­kanlah seekor burung, tapi nama seorang pembesar Sulaiman, dari Divisi Burung. Begitu juga lembah Semut (Naml), yang dilewati pasukan Sulaiman, dipahami bu­kan sebagai lembah yang didiami oleh binatang semut, tapi sebagai lembah yang didiami manusia dari suku Naml (Semut), seperti halnya kawasan lain didiami oleh suku-suku lain dengan nama binatang: su­ku Asad (Singa), suku Numair (Harimau), dan lain-lain.

Advertisement