Advertisement

Ibadiyah adalah suatu golongan dalam Islam yang dihubungkan kepada seorang pemuka yang bernama Abdullah bin Ibad. Pemuka tersebut memisahkan dirinya pa­da 686 (66 H) dari kaum Khawarij Azari­qah, dan berhasil membangun satu jemaah, yang dikenal dengan Ibadiyah. Para penu­lis sejarah Islam atau penulis mazhab teo­logi dalam Islam, memandang mereka se­bagai salah satu dari belasan sub-sekte da­lam Khawarij. Mereka tercatat sebagai sub-sekte yang paling lunak (moderat) da­lam Khawarij, baik dilihat dan pendirian teologisnya maupun dan sikap politiknya.

Sebagai satu golongan di dalam Islam, kaum Ibadiyah memiliki banyak kesama­an pendirian dengan kaum muslimin lain­nya. Namun yang lazim ditonjolkan orang sebagai pendirian mereka adalah: 1. Orang­orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka, mereka sebut kafir-nikmat (orang yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan), bu­kan mukmin dan bukan pula musyrik. Da-rah orang kafir-nikmat haram ditumpah­kan, dan daerahnya disebut daerah tauhid (dar at-tauhid). Yang mereka pandang se­bagai daerah perang (dar al-harb) hanyalah kompleks tentara pemerintah, yang bukan dan golongan mereka. 2. Boleh diterima syahlidah (kesaksian) orang kafir-nikmat dan boleh pula dilaksanakan dengannya hubungan perkawinan serta hubungan wa­risan. 3. Orang Islam yang berbuat dosa besar adalah muwahhid (orang yang meng­esakan Allah), tapi tidak mukmin,; is ada­lah kafir-nikmat bukan lafir-millah (me­nolak agama Islam). 4. Yang boleh diram­ pas dalam peperangan hanyalah kuda dan senjata, sedang emas dan perak harus dikembalikan kepada orang yang empunya.

Advertisement

Bahwa sikap politik mereka lunak, me­mang terlihat dan .sikap pemuka-pemuka mereka. Abdullah bin Ibad, sebagai pemu­ka pertama mereka, tidak mau mengada­kan konfrontasi dengan. penguasa Daulat Umayyah, padahal pada waktu itu kaum Khawarij Azariqah sedang berperang se­ngit dengan Daulat tersebut. Sikap yang sama juga diperlihatkan oleh pemuka ke­dua, Jabir bin Zaid al-Azdi (bermukim di Basrah, Irak) dan wafat pada 712 (92 H) dan pemuka-pemuka berikutnya.

Berbeda dengan kaum Khawarij lain­nya yang dihancurkan oleh peperangan demi peperangan, kaum Ibadiyah berhasil mempertahankan eksistensi mereka sam­pai sekarang. Mereka berhasil mendirikan pemerintahan sendiri sejak 753 (135 H) di Oman. Mereka gigih mempertahankan ke­kuasaan mereka di kawasan kecil itu sam­pai belasan abad. Kaum Ibadiyah juga ber­hasil mendirikan Daulat mereka di Alja­zair, yaitu Daulat Rustamiyah, pada 777 (160 H), dan dapat bertahan sampai 909 (296 H) (berhasil ditaklukkan oleh Daulat Fatimiyah). Dewasa ini masyarakat-ma­syarakat Ibadiyah, yang cenderung me­misahkan diri dan masyarakat Islam lain­nya, dapat dijumpai di Aljazair, Tunisia, Libia, Oman, dan Zanzibar.

Advertisement