Advertisement

Hukum Wadi ialah hukum Islam yang mengatur sebab, syarat dan hal-hal yang bisa menjadi halangan bagi pelaksanaan sesuatu hukum. Di samping hukum wad`i ada lagi semacam hukum yang disebut hu­kum taklifi (lihat Hukum Taklifi). Wadi artinya menurut bahasa “meletakkan” atau “menetapkan”. la disebut hukum wadi, karena is ditetapkan oleh syariat Islam sebagai sebab atau syarat, dan seba­gai halangan bagi pelaksanaan sesuatu hu­kum. Seorang mukallaf (orang yang dibe­bani hukum) berkewajiban untuk melak­sanakan hukum-hukum yang telah dite­tapkan oleh syariat Islam. Untuk memu­dahkan pelalcsanaan hukum itu dan untuk keabsahannya, Allah memberi petunjuk­petunjuk, dan dengan petunjuk-petunjuk itu seorang mukallaf dapat mengetahui ka­pan waktu sesuatu kewajiban harus dIlalc­sanakan dan apa penyebab sesuatu pertanggungjawaban, serta dapat mengetahui syarat-syarat apa yang hams ada atau ha­rus dilakukan dan dalam hal bagaimana se­seorang dianggap berhalangan melaksana­kan sesuatu tuntutan.

Hukum wadi terbagi kepada tiga ma-cam:

Advertisement

Pertama: Sebab, yaitu tanda bagi da­tangnya waktu pelaksanaan suatu kewajib­an, atau suatu hal baik berupa peristiwa atau berupa tindakan yang bisa menimbul­kan atau menghilangkan hak milik, atau berupa tindakan yang bisa mengakibatkan tanggungjawab.

Sebab dapat dibagi kepada dua macam: yaitu sebab yang telah ditetapkan oleh syariat Islam yang bukan berupa perbuat­an manusia, dan sebab berupa perbuatan manusia. Adapun sebab yang bukan beru­pa perbuatan manusia, seperti tergelincir­nya matahari adalah sebab atau tanda bagi datangnya waktu wajib melakukan salat zuhur. Cukupnya hart a yang dimiliki satu nisab, adalah sebab atau tanda bagi kewa­jiban mengeluarkan zakat. Mengetahui timbul bulan Ramadan, menjadi sebab ba­gi kewajiban menunaikan puasa fardu Ra­madan. Wafatnya seseorang menjadi sebab bagi mewarisi hartanya, dan sebagainya. Segala sebab atau tanda yang tersebut da­lam contoh-contoh di atas, sudah ditetap­kan oleh Allah, bukan timbul dari per­buatan manusia. Adapun sebab yang tim­bul dari perbuatan manusia, contohnya seperti: perjalanan menjadi sebab bagi hu­kum rukhsah (keringanan), yaitu dibolehkan memendekkan salat empat rakaat se­perti zuhur, asar dan isya, menjadi dua ra­kaat. Akad nikah menjadi sebab bagi ha­lalnya pergaulan suami istri. Akad .jual beli menjadi sebab bagi perpindahan mi­lik. Perbuatan merusak harta orang lain menjadi sebab bagi kewajiban ganti rugi, dan lain-lain.

Kedua: Syarat, yaitu hal yang hams ada atau hams dipenuhi sebelum melakukan sesuatu hukum. Umat Islam dalam melak­sanakan hukum-hukum syariat hams me­lengkapi syarat-syarat yang telah ditetap­kan untuk setiap hukum tersebut. Syarat­syarat itu merupakan suatu keharusan un­tuk dipenuhi, dan jika tetadi kurangnya suatu persyaratan yang telah ditentukan, pelaksanaan hukum dianggap tidak sah. Contohnya berwudu adalah menjadi sya­rat bagi sahnya salat. Adanya dua orang saksi menjadi syarat bagi sahnya akad ni­kah.

Syarat dapat dibagi kepada dua macam: yaitu syarat yang telah ditetapkan oleh syariat untuk tiap-tiap macam hukum yang harus dipenuhi oleh seorang mu­kallaf, dan syarat yang dibikin oleh manu­sia dalam batas-batas yang dibenarkan oleh syariat. Adapun syarat yang telah di­tetapkan oleh syariat seperti contoh-con­toh yang telah disebutkan di atas seperti suci dari najis adalah salah satu syarat-sya­rat sahnya salat. Dan adapun syarat yang timbul dan seorang mukallaf sendiri seper­ti dalam perkawinan, pihak •perempuan membuat persyaratan agar mahar yang te­lah disepakati dibayar lunas pada waktu akad nikah.

Ketiga: Mani’, yaitu halangan berlaku­nya sesuatu hukum. Seorang mukallaf ber­kewajiban melaksanakan sesuatu hukum selama tidak ada halangannya. Dengan adanya halangan itu kewajiban bisa ter­angkat dari seorang mukallaf, atau hukum tidak bisa dilaksanakan. Umpamanya ke­adaan sakit merupakan halangan yang menggugurkan kewajiban salat Jumat. Ke­adaan menstruasi bagi seorang perempuan, merupakan halangan yang menggugurkan kewajiban salat. Tindakan pembunuhan yang dilakukan seorang anak terhadap ayahnya merupakan halangan bagi haknya untuk mewarisi hartanya. Keadaan hutang yang pelunasannya bisa. menghabisi atau mengurangi nisab harta kekayaan yang di­miliki seseorang merupakan halangan yang menggugurkan kewajiban membayar za­kat. Keadaan gila merupakan halangan bagi kecakapan seseorang untuk melaku­kan sesuatu kewajiban yang tidak me­nyangkut harta. Oleh sebab itu, seorang gila tidak dibebani untuk melakukan ke­wajiban seperti salat dan puasa. Tetapi da­ri harta kekayaannya tetap wajib dikeluar­kan zakatnya, dan tindakannya yang mengakibatkan rusaknya harta orang lain, tetap menjadi sebab bagi kewajiban ganti rugi kepada yang dirugikan.

Mani’ terbagi kepada tiga macam:

Pertama: mani` yang tidak bisa berkum­pul dengan suatu hukum taklif. Contoh­nya seseorang dalam keadaan gila tidak ca­kap untuk melakukan hukum taklif, kare­na hilang akal adalah mani` yang mengang­katkan hukum, kecuali jika ia merusak harta orang lain, maka penanggungjawab­nya berkewajiban mengganti rugi, yang di­ambilkan dari harta si gila itu, jika ia pu­nya harta.

Kedua: mani` yang mungkin berkumpul dengan pelaksanaan hukum taklif. Con­tohnya seorang wanita dalam keadaan menstruasi mungkin melakukan salat, na­mun oleh Islam, ia dibebaskan dan kewa­jiban tersebut.

Ketiga: mani` yang merubah posisi se­suatu hukum dari satu kewajiban kepada kebolehan memilih antara melakukan atau tidak melakukan. Contohnya seseorang dalam keadaan sakit tidak berkewajiban melakukan salat Jumat. Namun sah hu­kumnya jika ia lakukan.

Hukil Rani), secara harfiah, berarti ber­tempat (mengambil tempat). Kata ini da­pat digunakan untuk menunjukkan keber­adaan sesuatu pada sesuatu yang lain, se­perti keberadaan air dalam tanah, keber­adaan sebuah rumah pada sebuah lapang­an, keberadaan sebuah anak kalimat pada tempat subyek, dan lain sebagainya. Bagi orang-orang yang berpandangan bahwa manusia itu terdiri daii jiwa dan tubuh, maka jiwa itu dikatakan hulul (bertempat) dalam tubuh. Pemakaian kata hulul, se­jauh beberapa contoh yang telah dikemu­kakan ini tidak menjadi persoalan di ka­langan para ulama.

Paham hulul yang ditolak oleh umum­nya para ulama Islam adalah paham hulul­nya jiwa manusia ke dalam badan secara berulang-ulang. Hulul yang berulang-ulang ini lebih dikenal dengan sebutan tanFisukh al-arwah atau reinkarnasi jiwa, dan paham yang ditolak itu dapat dijumpai pada fal­safat Pitagoras, Plotinus, dan Hinduisme. Paham lhulul lainnya yang juga ditolak oleh para ulama Islam, adalah paham hululnya atau inkarnasinya satu pribadi Tuhan da­lam tubuh Isa al-Masih, sehingga Isa al-Masih itu dipandang sebagai Tuhan sejati dan sekaligus manusia sejati.

Menurut Islam, Isa al-Masih tidak lebih statusnya dari manusia yang diangkat menjadi rasul atau nabi Allah, seperti hal­nya para rasul atau nabi lainnya.

Paham hulul, yang menjadi perbincangan hangat pula di kalangan para ulama Islam, adalah paham hulul dalam tasawuf. Tokoh sufi yang dipandang sebagai pembawa per­tama paham hulul itu, adalah al-Hallaj (w. 914/301 H). la dikatakan membawa paham hulul, karena mengeluarkan ucap­an-ucapan sebagai berikut: “Aku adalah Dia yang kucintai; dan Dia yang kucintai adalah aku. Kami adalah dua roh; yang menempati satu badan.” “Kau mengalir di antara lapis-lapis jantung dan hatiku; se­perti air mata mengalir dalam pelupuk ma­ta. Kau tempati damir dalam rongga kal­buku; seperti hululnya arwah dalam ba­dan-badan.” “Telah berpadu roh-Mu de­ngan rohku; seperti berpadunya anggur dengan air yang bening. Bila sesuatu me­nyenta-Mu; tentu is menyentuhku. Ma­ka dalam setiap hal Kau adalah aku.”

Memang jelas sekali bahwa al-Hallaj menggunakan kata hulul, untuk meng­ungkapkan keberadaan Tuhan dalam hati­nya. Tapi pantaskah orang memahami ungkapan al-Hallaj tentang hululnya Tu­han dalam hatinya, yang sedang mabuk kepayang, yang sedang merasa asyik mak­syuk dengan Tuhan sebagai kekasihnya, seperti memahami paham hululnya jiwa yang berada dalam badan, sepanjang ha­yatnya badan itu, atau seperti memahami paham hulul umat Nasrani, yakni hulul­nya Logos atau Kalarn (salah satu dari tiga oknum Tuhan) dalam tubuh Isa al-Masih (minimal sejak berada dalam kandungan Maryam sampai gaib dari tanah Kan’an)? Jelas tidak pantas, sebab hululnya Tuhan dalam hati al-Hallaj adalah hulul yang di­rasakan dalam suasana mabuk bercinta dengan Tuhan, sedangkan hululnya jiwa dalam badan atau hululnya oknurn Tuhan dalam tubuh Isa al-Masih, bukanlah hulul yang dirasakan dalam keadaan mabuk ber­cinta, tapi hulul yang dirumuskan oleh re­nungan logika.

Paham hulul al-Hallaj haruslah dipahami seperti memahami ucapan-ucapan dua insan yang sedang mabuk bercinta. Ungkapan al-Hallaj bahwa “aku adalah Dia yang kucinta dan. Dia. yang kucinta adalah aku” tak lebih maksudnya dari ungkapan dua insan yang sedang mabuk bercinta “aku adalah engkau, kau adalah aku”. Demikian pula ungkapan al-Hallaj bahwa “Kau berada dalam hatiku, seperti roh berada dalam badan”, tidaklah lebih maksudnya dari ungkapan .dua insan yang sedang berkasihan, bahwa “kau senantiasa berada di hatiku”, seperti Monas (Monu­men Nasional) terus menerus berada di la­pangan Merdeka Jakarta.

Kehadiran Tuhan dalam hati para sufi, menurut paham hulul ini, tidaklah lain da­ri kehadirannya dalam ingatan atau pera­saan hati mereka, yang memang amat mencintai-Nya. Kecintaan itu bisa me­muncak sedemikian rupa, sehingga Tuhan itu benar-benar dirasakan (bukan dipa­hami) sebagai satu wujud. yang hadir da­lam hati atau kesadaran mereka. Dalam paham hulul ini tersirat gambaran bahwa bukan hati para sufi yang terbang naik menuju hadirat Tuhan yang Maha Tinggi, tetapi sebaliknya, Tuhan yang dirasakan hadir di dalam hati mereka.

Bila dipahami dengan logika, kehadiran Tuhan dalam hati para sufi, tidak lain dari kehadiran makna-makna atau ide-ide ketu­hanan (al-marmi ar-rubribiyyat), yang me­menuhi kesadaran atau perasaan hati me­reka; sedangkan ide-ide yang lain lenyap dari kesadaran mereka. Kehadiran Tuhan atau makna-makna ketuhanan, yang tidak memberi ruang bagi kehadiran makna­makna yang lain, merupakan puncak pera­saan yang dapat dialami sufi, dan itu ti­daklah berlangsung terus-menerus. Hulul itu berlangsung sesaat atau beberapa saat saja; setelah itu hati sufi kembali kepada kesadaran yang biasa, dan sewaktu-waktu bisa lagi mengalami hulul.

Hulul dalam tasawuf, menggambarkan terjadi rasa bersatu (ittiljad atau mystical-union) antara sufi dengan Tuhan. Namun tidak setiap rasa bersatu itu dapat disebut hulul. Pengalaman rasa bersatu dengan Tu­han, seperti yang dialami oleh Abu Yazid .al-Bistami, tidaklah disebut hulul, tapi ittihad saja. Ittihad al-Bistami lebih menge­sankan naiknya rohnya ke atas sampai ter­jadi rasa bersatu itu, sedangkan ittihad al­Hallaj, mengesankan turunnya Tuhan un­tuk hulul di dalam, atau bersatu dengan, hatinya.

Advertisement