Advertisement

Hudud kata jamak dan had, menurut pengertian bahasa ialah batas, seperti da­lam contoh had al-ard yang berarti batas tanah. Ia juga berarti pencegahan. Dari pengertian yang disebut terakhir ini se­cara umum suatu ancaman hukuman atas pelanggaran suatu larangan disebut had, karena is diharapkan dapat mencegah orang dari melakukan kejahatan itu. Ke­mudian dalam hukum Islam, istilah hudrid berarti ancaman hukuman yang telah di­tentukan kadar dan bentuknya oleh al­Quran atau hadis, atas pelaku tindakan ke­jahatan yang berkenaan dengan hak ma­syarakat umum.

Pada prinsipnya setiap tindakan keja­hatan itu efek negatifnya akan dirasakan oleh perorangan dan masyarakat umum. Namun dan segi berat ringannya dan dari segi langsung atau tidak langsungnya me­nimpa perorangan dan masyarakat umum, dalam hukum Islam dibedakan antara dua kelompok tindakan kejahatan, yaitu:

Advertisement

Pertama: tindakan kejahatan yang me­langgar hak perorangan. Yaitu suatu tin­dakan kejahatan yang efek negatifnya le­bih berat dan langsung dirasakan perorang­an terbanding masyarakat umum. Umpa­manya pembunuhan atau melukai orang lain, yang diancam dengan hukuman gisas (hutang nyawa dibayar nyawa dan hutang anggota tubuh dibayar dengan anggota tu­buh yang sama) atau denda (lihat diat). Hukum qisas dan diat itu dalam hukum Is­lam termasuk hak perorangan. Oleh kare­ na itu perorangan (ahli waris terbunuh) berhak menggugurkan hukuman itu de­ngan jalan memaafkan. Tetapi oleh karena pembunuhan itu juga mengancam keaman­an umum, maka walaupun perorangan telah memaafkan, namun si pembunuh harus di­hukum oleh masyarakat umum yang diwa­ldli oleh hakim dengan bentuk hukuman ta` zir (lihat Ta`zir).

Kedua: tindakan kejahatan yang me­langgar hak umum. Yaitu suatu tindakan kejahatan, yang lebih berat efek negatif­nya dirasakan oleh masyarakat umum. Tindakan-tindakan kejahatan yang bersi­fat demikian, dalam hukum Islam dian­cam dengan hukuman had. Tindakan-tin­dakan kejahatan yang diancam dengan hu­kuman had antara lain ialah:

Zing, pelakunya antara lain diancam de­ngan hukuman had yang tercantum dalam surat an-Nur ayat 2.

Qazf (menuduh orang lain berbuat zina), pelakunya apabila tidak sanggup menge­mukakan saksi-saksi yang diperlukan, di­ancam dengan hukuman had seperti ter­cantum dalam surat an-Nur ayat 4.

Mencuri, pelakunya diancam dengan hu­kuman had yang dijelaskan dalam surat al-Maidah ayat 38.

Meminum minuman keras, diancam de­ngan hukuman had sebanyak empat puluh kali dera (cambuk) seperti dilakukan oleh Rasulullah yang dijelaskan dalam sebuah hadis riwayat Muslim.

Al—muharabat atau gum’ at-tarrd (ganggu­an keamanan atau perampokan), pelaku­nya diancam dengan hukuman had dalam surat al-Maidah ayat 33.

Masing-masing kejahatan tersebut dian­cam dengan hukuman had seperti bentuk dan jumlah yang telah dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut, apabila terbukti tin­dakan kejahatan itu dengan syarat-syarat yang secara terinci dijelaskan di dalam ki­tab-kitab fikih. Tetapi apabila tidak men­cukupi syarat-syarat yang telah ditentu­kan itu secara sempurna, maka hukuman had tidak bisa dilakukan dan pelaku ha­nya dapat dikenakan hukuman ta`zir. Da­ri itu hukuman had adalah merupakan hukum terberat dari tindakan-tindakan kejahatan tertentu.

Hukuman /.tudii(1, seperti dikemukakan di atas, adalah ancaman hukuman atas pe­laku kejahatan yang berkenaan dengan ke­pentingan umum. Oleh karena itu hukum an hudiid adalah hak umum, bukan hak perorangan. Oleh karena ia adalah hak umum, tidak seorang pun yang berhak menggugurkannya. Seorang yang terbukti mencuri, tetap dihukum dengan hukuman had, walaupun yang kecurian menyatakan maaf atau menyatakan tidak menuntut agar si pencuri dihukum had. Di sini yang dirugikan hanya berhak untuk menggugur­kan haknya, yaitu tidak menuntut pencuri untuk mengembalikan atau mengganti hartanya yang dicuri, tetapi ia tidak ber­hak untuk menggugurkan hukum had yang menjadi hak umum. Hukuman had yang menjadi hak umum itu, dituntut atau tidak dituntut oleh yang dirugikan, oleh hakim harus dilaksanakan atas nama masyarakat umum. lnilah antara lain per­bedaan antara kejahatan yang berkenaan dengan hak umum dengan yang berkenaan dengan hak perorangan. Dalam kasus yang disebut terakhir ini perorangan berhak menggugurkan sanksi hukumnya seperti dalam masalah gi5a,Y tersebut di atas.

Begitu ketat hukuman had dalam hu­kum Islam, sehingga tidak seorangpun yang berhak menggugurkannya..Namun dalam pelaksanaannya sangat tergahtung kepada situasi dan kondisi. Oleh sebab itu Umar bin Khattab tidak melaksanakannya terha­dap pencurian dalam keadaan paceklik. Di camping itu, dalam beberapa bentuk keja­hatan yang mengakibatkan hukuman had, dikemukakan beberapa persyaratan yang kelihatannya sulit untuk dipenuhi, sehing­ga menggambarkan bahwa Islam prinsip­nya tidak menginginkan hal itu terjadi.. Andaikan terbukti dengan persyaratan yang begitu ketat, hukuman had harus di­lakukan, karena memang si pelakunya te­lah sampai ke batas di bawah dari ukuran minimal kemanusiaan. Umpamanya dalam pembuktian perzinaan, harus ada empat orang yang benar-benar menyaksikan pe­ristiwa itu secara jelas seperti seseorang memasukkan pedang ke sarungnya.

Advertisement