Advertisement

Hizbullah, yang berarti tentara Allah adalah suatu organisasi me­nyerupai barisan militer bagi pemuda-pe­muda Islam. Ia dibentuk oleh partai Islam, Masyumi pada 4 Desember 1944 sebagai kekuatan cadangan bagi Pembela Tanah Air (PETA) dan siswa-siswa madrasah dan pesantren dalam batas usia 17 sampai de­ngan 25 tahun.

Pusat pimpinan Hizbullah berkeduduk­an di Jakarta, dengan susunan: Zainul Ari­fin Mr. Mohammad Rum (Ketua Muda), S. Surawijono dan Sujono (Anggo­ta Urusan Umum), Anwar Cokroaminoto, Imam Zarkasyi dan Masyhudi (Anggota Urusan Propaganda), Sunaryo Mangunpus­pito, Mr. Yusuf Wibisono dan Muhammad Junaidi (Anggota Urusan Rencana), R.H. 0. Junaidi dan Prawoto Mangkusasmito (Anggota Urusan Keuangan).

Advertisement

Hisbullah bertujuan untuk menjunjung perintah agama Islam, menginsafkan sege­nap umat Islam serta membulatkan tenaga buat berjuang bersama tentara Dai Nip­pon. Tetapi perlu dicatat bahwa kehadiran Hizbullah, yang pada awalnya dalam rang­ka partisipasi umat Islam dalam memban­tu perang Asia Timur Raya Jepang yang menjanjikan kemerdekaan bagi bangsa In­donesia, akhirnya sangat aktif dalam usa­ha perebutan senjata dari Jepang sebagai modal perjuangan bangsa selanjutnya da­lam mempertahankan kemerdekaan.

Pada tahun pertama revolusi tisik Hiz­bullah ikut bertempur di front perlawan­an menghadapi Belanda. Dua divisi Hiz­bullah Jawa Barat di bawah pimpinan Zai­nul Bakhri dan Syamsul Bakhri telah ber­hadapan dengan kekuatan Belanda bersa­ma-lama Tentara Keamanan Rakyat. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kegiatan Hizbullah tersebar di Banyumas, Peka­longan, Kedu, Semarang, Pati, Surakarta dan Yogyakarta sendiri.

Setelah Tentara Nasional Indonesia (TNI) terbentuk, maka sebagian besar ang­gota Hizbullah bergabung ke dalamnya.

Advertisement