Advertisement

Hizbul Wathan adalah gerakan kepan­duan Muhammad iyah yang dibentuk oleh K.H.A. Dahlan pada 1918. Pembentukan kepanduan Muhammadiyah ini diilhami oleh gerakan kepanduan yang terdapat di Keraton Mangkunegaran Solo yang disak­sikan oleh K.H.A. Dahlan pada waktu se-ring mengadakan tablig ke tempat ini. Hasrat tersebut mendapat sambutan dari guru-guru Muhammadiyah dan dibentuk­lah Padvinder Muhammadiyah. Atas usul K.H.R. Hajid kepanduan tersebut dirobah namanya menjadi Hizbul Wathan yang di­singkat dengan HW. Kepada para anggota kepanduan ini, di samping diberikan latih­an kepanduan yang biasa, juga diberikan pelajaran agama serta latihan berorganisasi pada umumnya agar mereka slap menjadi anggota dan pengurus Muhammadiyah bi­la kelak dewasa.

Pada 1924 berlangsung Kongres Mu­hammadiyah ke-13 dan salah satu kepu­tusannya adalah menempatkan HW dalam pengawasan Majelis Pendidikan dan Peng­ajaran dengan tugas memegang pergerakan pemuda-pemuda dengan memajukan kese­hatan jasmani dan rohani serta memimpin dan mendidik mereka dalam mengamal­kan amal saleh. Untuk itu ditetapkan se­puluh undang-undang HW, yakni:

Advertisement
  • HW itu selamanya dapat dipercaya,
  • HW itu setia kawan,
  • HW itu selalu siap menolong dan wajib berjasa,
  • HW itu suka akan perdamaian dan per­saudaraan,
  • HW itu tahu adat sopan santun dan perwira,
  • HW itu menyayang bagi semua makh­luk,
  • HW itu melakukan perintah dengan ti­dak mem bantah ,
  • HW itu sabar dan bermuka manis,
  • HW itu hemat dan cermat dan
  • HW itu suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Perkembangan 1-1W ke luar Yogyakarta, seperti Solo, Pekalongan, Pasuruan, Ba­nyumas, Surabaya darn Klaten menyebab­kan Kongres Muhammadiyah ke-15 di Su­rabaya pada 1926 melahirkan keputusan membentuk departemen khusus yang di-ben nama Majelis Hizbul Wathan. Dua ta­hun kemudian cabang-cabang Hizbul Wa­than berdiri pula di luar Jawa, dengan ca-bang pertama di Minangkabau.

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-21, 1930 di Makasar, berdasarkan pertimbang­an semakin meluasnya aspek gerak pemw da di kalangan Muhammadiyah yang tidak mungkin lagi diberi wadah dalam HW saja, diputuskan membentuk Bahagian Pemuda dalam Muhammadiyah dengan HW sebagai kekuatan intinya. Dalam perkembangan berikutnya Bahagian Pemuda ini berkem­bang menjadi Pemuda Muhammadiyah, organisasi otonom dalam Muhammadiyah.

Pada zaman kemerdekaan segenap ke­kuatan HW/Pemuda Muhammadiyah ter­jun ke medan juang aktif membentuk ba­risan Sabilillah, Tentara Pelajar Hizbullah. Dari sinilah munculnya tokoh-tokoh besar nasional seperti Panglima Besar Sudirman, Abdul Kahar Muzakkir, Brigjen Polisi Abdulhamid Swasana, H.’Muhammad Mar­zulci Yatim, Letjen Sudirman dan lain-lain.

Ketika seinua gerakan kepanduan di In­donesia dirobah menjadi gerakan Pramu­ka, kepanduan HW kemudian dirobah menjadi Pramuka Gugus Depan K.H.A. Dahlan yang berdiri di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Dewasa ini nama Hizbul Wathan tersebut diabadikan- kembali da­lam nama Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW) dalam jajaran Pemuda Muhammadiyah dengan maksud ikut ber­partisipasi dalam program pemerintah “memasyarakatkan olah raga dan meng­olahragakan masyarakat.”

Advertisement