Advertisement

Hisbah, tugas amar makruf dan nahi mungkar (menyuruh orang berbuat baik dan melarang berbuat mungkar) mengan­dung wewenang yang dalam bidang nahi mungkar meliputi pencegahan penipuan di pasar, seperti masalah timbangan, sukatan, ukuran, menjual barang ;yang telah rusak tetapi tidak diketahui si pembeli, serta mencegah tindakan-tindakan yang meru­sak moral; dan dalam bidang amar mak­ruf, seperti memberitahukan masuk waktu salat, waktu berbuka puasa dan imsak, dan sebagainya, yang berupa masalah-ma­salah ringan, tidak berbelit, tetapi memer­lukan penyelesaian secara cepat, dan tidak berkehendak kepada prosedur peradilan biasa.

Pada dasarnya dalam ajaran Islam, se­tiap orang muslim berkewajiban melaksa­nakan amar makruf dan nahi mungkar. Na­mun dalam masalah-masalah tersebut, da­lam Islam dikhususkan suatu badan yang menanggulanginya. Sebagai landasan dari adanya tugas tersebut dalam al-Quran su­rat Ali Imran ayat 104 dijelaskan agar ada di antara mereka yang bertugas untuk me­nyuruh orang berbuat baik dan mencegah kemungkaran. Maksud ayat tersebut, di samping menunjukkan kewajiban dakwah secara umum, juga menjadi landasan bagi kewajiban menunjuk suatu badan yang khusus dalam tugas tersebut. Ibnu Khal­dun menjelaskan, bahwa tugas hisbah yang merupakan tugas keagamaan itu ada­lah merupakan kewajiban bagi badan yang mengurus kaum muslimin. Untuk itu dipi­lih orang yang dipandang cakap. Tugasnya adalah menyelidiki adanya kemungkaran dan mengoreksinya, menertibkannya dan berusaha agar orang mau melakukan hal­hal yang berguna bagi kepentingan umum, dan menjauhkan din dari yang merugikan mereka.

Advertisement

Tugas ini, walaupun terlembaga secara resmi pada periode kemudian, namun pe­laksanaannya telah mulai dari masa yang paling awal, masa Rasulullah, sesuai de­ngan tugasnya untuk mengajak orang me­lakukan kebaikan dan menjauhkan diri dari kemungkaran. Diriwayatkan, ketika Rasulullah pada suatu hari melihat-lihat ke pasar, is mengetahui ada semacam ba7 rang dagangan yang di bagian bawahnya telah rusak. Ia lalu berkata kepada saha­batnya bahwa apakah yang cacad itu sengaja diletakkan di sebelah bawah agar orang yang akan membeli tidak melihat­nya. “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian berlaku curang di antara kamu, barang siapa berlaku tidak jujur, bukanlah termasuk pengikutku”.

Apa yang dilakukan Rasulullah itu ti­dak lain adalah mencegah seseorang dari melakukan sesuatu tindakan yang bisa me­rugikan orang lain at yang tidak disukai Allah. Tindakan ya g dilakukan Rasulul­lah itu dalam peradilan Islam disebut his-bah. Sedangkan yang melakukan tindakan itu disebut muhtasib.

Seperti dikemukakan di atas, pada masa Rasulullah, tugas hisbah belum secara res­mi terbentuk dalam suatu badan. Ia dilem­bagakan secara resmi pada periode kemu­dian, di waktu permasalahan kaum mus­ limin menjadi lebih kompleks. Diriwayat­kan bahwa Umar bin Khattablah orang yang mula-mula menunjuk suatu badan yang khusus bertugas dalam hal tersebut. Abdul-Karim Zaidan dalam- kitabnya al­Qacla .11 menyebutkan bahwa lcha­lifah kedua itu pernah menunjuk seorang perempuan untuk mengawasi pasar dari tindakan-tindakan penipuan.

Badan yang ditunjuk itu mendapat gaji dari baitulmal. Ia tidak berhak memutus­kan sesuatu perkara kecuali dalam hal-hal ringan yang tidak memerlukan proses per­adilan biasa.

Pada masa pemerintah Bani Umayyah, tugas tersebut tidak begitu jelas pemisah­annya dari tugas kepolisian biasa yang di antara wewenangnya adalah mengawasi pasar dari tindakan penipuan. Namun, da­lam beberapa waktu ada satu badan yang disebut (petugas pasar) yang wewenangnya terbatas pada coal timbang­an dan ukuran yang dipergunakan di pasar serta pelanggaran-pelanggaran kecil yang dapat diselesaikan dengan segera. Kemu­dian wewenangnya lebih luas lagi, menca­kup hal-hal yang bisa mempertahankan moralitas Islam. Tetapi hal ini tidak ber­langsung lama. Oleh karena itu, pada masa pemerintah Bani Abbas, seperti halnya pa­da awal pemerintah Bani Umayyah, kern­bali tidak begitu jelas pemisahan antara tugas hisbah dengan tugas kepolisian. Tu­gas ini, di samping ada hal-hal yang dima­sukkan ke dalam wewenang hakim per­adilan biasa, juga ada yang termasuk ke dalam wewenang kepolisian. Kepala kepo­lisian kota waktu itu ada yang disebut muhtasib, yaitu orang yang melakukan tu­gas hisbah. Ia, polisi hisbah bertugas mengawasi keadaan paiar dan moral, mengawasi timbangan dan ukuran, men­sahkan pembayaran hutang, mencegah ter­jadinya tindakan-tindakan terlarang, se­perti perjudian, eksploitasi, minuman ke­ras dan sebagainya.

Di beberapa negara Islam dalam sejarah, seperti Ubaidiyun di Mesir dan Magribi, Bani Umayyah di Andalus, seperti dikata­kan oleh Ibnu Khaldun, tugas hisbah ter­masuk di antara tugas-tugas hakim yang selanjutnya menunjuk seseorang untuk menduduki jabatan tersebut menurut ke­bijaksanaannya, kecuali dalam beberapa periode, tugas hisbah di negara-negara ter­sebut pernah berbentuk badan tersendiri, terpisah dari wewenang peradilan biasa.

Pada masa pemerintah Turki Usmani, tugas hisbah pada umumnya ditangani oleh peradilan biasa yang dibantu oleh ke­polisian. Badan yang disebut terakhir ini, termasuk wewenangnya mengawasi pasar dan tindakan-tindakan yang merusak mo­ral, dan dalam hal-hal yang memerlukan pengesahan dan putusan dilimpahkan ke peradilan.

Dengan demikian tugas hisbah dari awal Islam tetap berjalan, dengan beberapa per­kembangan dan perubahan dalam bentuk dan teknisnya.

 

Advertisement