Advertisement

Hisab menurut aslinya dalam bahasa Arab berarti hitungan atau perhitungan. Atas dasar itu ia dipakai dalam beberapa pengertian yang pada pokoknya berdasar­kan pada hitungan atau perhitungan. Se­kurangnya ada tiga pengertian populer ba­gi pemakaian kata tersebut, yaitu:

  1. Ilmu berhitung; mengenai soal-soal ang­ka dan segala perhitungan yang didasar­kan atas angka.
  2. Perhitungan di hadapan Allah di hari akhirat (YaumulHisab).
  3. Ilmu hisab; mengenai perhitungan jalan bumi dan bulan di sekeliling matahari, untuk mengetahui pergantian bulan dan tahun.

Ilmu hisab yang disebut terakhir ini di­anggap penting di kalangan umat Islam da­ri masa ke masa.

Advertisement

Ilmu hisab adalah termasuk dalam as­tronomi. Umat Islam sudah mengenalnya semenjak permulaan abad ke-2 Hijrah. Ah­li mengatakan bahwa seorang sarja­na India telah membawa ilmu itu ke Bag­dad di masa .al-Mansur (754 —775/136 — 158H), khalifah ke-2 pemerintah Abbasi­yah. Suatu buku tentang ilmu hisab dalam bahasa India bernama Sidhanta yang da­lam bahasa Arab disebut Sindhind dan berasal dan buku Brahmasbutasidhanta, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada 771 (1541 H) oleh al-Fazari, Ibra­him bin Habib dan Ya’kub bin Tary. Se­menjak itu ilmu hisab telah menjadi ilmu bangsa Arab (baca: Islam) yang dipelajari dan abad ke abad.

Di Indonesia ilmu hisab dianggap pen­ting untuk menetapkan awal puasa dan hari raya. Pemerintah Indonesia selalu mencari penyesuaian antara prinsip rukyat yang berdasarkan pandangan mata dengan prinsip hisab yang didasarkan kepada per­hitungan ilmu pengetahuan, yang dinama­kan hisab hakiki. Ulama yang pertama kali terkenal sebagai ahli ilmu hisab di Indone­sia ialah.Syekh Taller Jalaludin al-Azhari, dan kemudian Syekh Muhammad Jamil Jambek Bukittinggi, Sumatra Barat. Ilmu ini kemudian diwarisi oleh anaknya Sa’- duddin Jambek. Di samping itu terkenal juga sebagai ahli hisab: K.H. Ahmad Bada­wi, ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dalam periode (1962-1966).

Ilmu hisab penting juga untuk mengeta­hui perhitungan sejarah. Misalnya ahli hi­sab Mesir, Mahmud al-Falaki, sangat besar jasanya dalam menetapkan tanggal lahir Nabi Muhammad.

Advertisement