Advertisement

Himpunan Seni Budaya Islam di­singkat HSBI adalah organisasi profesi ke­karyaan yang mandiri berakidah Islamiyah dan bergerak dalam bidang seni budaya. Ia bertujuan untuk membina dan mengem­bangkan seni budaya Islam dalam arti yang seluas-luasnya dalam kehidupan nasional.

Sejarah berdirinya Himpunan Seni Bu­daya Islam berawardari pembicaraan yang terjadi antara H. Abdullah Aidit, Kepala Jawatan Penerangan Agama Kementerian Agama RI dengan staffnya, M. Nur Alian, Kepala Seksi Kebudayaan yang aktif me­nulis sandiwara radio dan langen suara lewat RRI Jakarta. Pembicaraan tersebut berkisar di sekitar suasana yang terjadi pada waktu H. Abdullah Aidit yang baru saja mengikuti Konferensi Asia Afrika di Bandung. Beberapa delegasi negara-negara Islam sempat meneteskan air mata di ka­mar hotel Homan Bandung, ketika men­dengar langen suara Maulid Nabi Muham­mad yang disiarkan oleh RRI Jakarta. Dakwah Islam lewat seni dan budaya ter­nyata begitu berpengaruh, tetapi sayang sangat sedikit digarap oleh umat Islam. Kepada Nur Alian, penulis naskah langen suara tersebut H. Abdullah Aidit memin­ta agar dipikirkan pembentukan suatu wadah yang bergerak sebagai penyuluh agama di bidang seni dan budaya.

Advertisement

Mulai saat itu dirintislah usaha-usaha bagi mewujudkan wadah tersebut. Pada 24 September 1956 terbentuklah HSBI dengan susunan pengurus yang pertama sebagai berikut: M. Nur Alian (Ketua), M. Anthony (Sekretaris), M. Asrori (Ben­dahara) serta dibantu oleh Bagian-bagian Seni Suara/Musik, Drama, Sastra, Lukis, Hias Wanita, Film, Usaha dan Penerangan, masing-masing dijabat oleh Mas’udi Noor, R.O. Hudaya, Z.A. Harahap, M. Anthony, Ny. Jamari Amin, M. Nur Alian, M. Saad St. Mudo.

HSBI dalam masa periode perintis ini berada langsung di bawah jajaran Jawatan Penerangan Agama Kementerian Agama RI. Berbagai kegiatan seni dan budaya di­selenggarakan oleh HSBI. Sejak 1957, HSBI mendapat bantuan biaya dari Ke­menterian Agama RI sebesar Rp 17.000,— sebulan. Kegiatan yang patut dicatat ada­lah malam kesenian yang berlangsung pada 15 dan 16 Mei 1959 di gedung kese­nian Pasar Baru Jakarta. Kegiatan ini me­rupakan pukulan gong bagi kiprah dakwah Islam lewat jalur seni dan budaya, yang selama ini hanya muncul dalam bentuk pi­dato di atas podium para mubalig. Ke­munculan kegiatan-kegiatan HSBI dengan napas Islam menjadi saingan utama dari kegiatan-kegiatan seni budaya “merah” yang secara_teratur dilakukan oleh Lemba­ga Kebudayaan Rakyat (Lekra/PKI).

HSBI Jakarta, setelah dipimpin oleh Yunan Helmy Nasution (yang ketika itu berpangkat Lettu), melakukan gebrakan yang cukup berarti. Kerja sama ABRI dan HSBI terjalin dengan sangat intimnya. Pe­mentasan Kisah Isra dan Mikraj karya Yunan Helmy Nasution yang berlangsung pada akhir Desember 1959, di samping mendapat sambutan yang sangat meriah, tetapi juga mendapat kecaman yang tidak tanggung-tanggung. HSBI sudah melaku­kan karena telah memper­mainkan Nabi Muhammad di atas pang­gung sandiwara. Bahkan beberapa orang khatib Jumat menyinggung kegiatan terse-but dalam khutbahnya dengan menyebut kegiatan itu sebagai: “Dajjal akhir zaman telah datang dan turun di pangkuan kese­nian.”

Kecaman dan kritikan tersebut tidaklah membuat HSBI menjadi mundur, bahkan lebih mempertebal keyakinan tentang missi suci yang sedang diemban, yakni: menggali dan memanifestasikan seni yang bernapas Islam bagi kemaslahatan umum dalam tugas dakwah dan diayah.

Pada 4 September 1961 dalam rangka Pekan Maulid Nabi Besar Muhammad, HSBI mementaskan sebuah drama kolosal yang didukung oleh lebih kurang 120 orang pemain dan melibatkan dua puluh ekor kuda dari Batalyon Kavaleri Angkat­an Darat. Pementasan tersebut berlang­sung di halaman Mesjid Agung al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta.

Muktamar I HSBI berlangsung pada 24 September 1961. Dalam Muktamar ini ter­pilih sebagai Ketua Umum yang baru PP HSBI, yakni Lettu Yunan Helmy Nasuti­on. Dalam kepemimpinan Lettu Yunan Helmy Nasution ini, berlangsung Musya­warah Majelis Seniman dan Budayawan Is­lam. Musyawarah ini telah berhasil meru­muskan fatwa tentang seni dan budaya, sebagai berikut:

  1. Semua kesenian adalah ibadat, kecuali yang berunsur cabul, syirik dan muba­
  2. Seni musik, seni rupa, sastra, drama, film dapat menjadi alat dakwah Islami­
  3. Seni Islam ialah memanifestasikan rasa, cipta dan karsa muslim dalam mengabdi kepada Allah.
  4. Segala kesenian yang membawa kerusak­an akhlak, iman dan kepribadian bangsa Indonesia, harus ditolak.
  5. Persatuan dan kesatuan seniman dan budayawan Islam adalah sama penting­nya dengan persatuan dan kesatuan ula­ma dan sarjana Islam.

Dewasa ini HSBI dipimpin oleh Drs. H. Masbuchin sebagai Ketua Umum dan Drs. H. Sanusi Hasan sebagai Sekretaris Jende­ral. Kepengurusan terakhir ini merupakan hasil dari Muktamar VII HSBI yang ber­langsung pada 28 s/d 30 September 1986 di Jakarta.

Incoming search terms:

  • himpuna seni budaya islam hsbi

Advertisement
Filed under : Review, tags:

Incoming search terms:

  • himpuna seni budaya islam hsbi