Advertisement

Himpunan Mahasiswa Islam dising­kat HMI, adalah sebuah organisasi maha­siswa yang bersifat independen. Organisasi ini bertujuan membina insan akademis, pencipta, pengabdian yang bernapaskan Islam dan bertanggung jawab atas ter­wujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah.

Menurut catatan sejarah yang dapat di­percaya, HMI didirikan di Yogyakarta pada 5 Februari 1947 (13 Rabiulawal 1966 H) untuk waktu yang tidak ditentu­kan dan berkedudukan di tempat Pengu­rus Besarnya.

Advertisement

Prakarsa atau gagasan mendirikan HMI sebenarnya sudah muncul pada November 1946, yang dicetuskan oleh Lafran Pane, yang saat itu adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) tingkat I di Yogyakar­ta. Ialah yang kemudian mcnjadi ketua HMI yang pertama. Lafran Pane dilahir­kan di Sumatra, dan pernah menjadi maha­guru pada Institut Pendidikan Guru di Yogyakarta, dan dikenal pada waktu itu sebagai seorang pemuda yang ulet. Ia ber­sama-sama dengan Kartono, Dahlan Hu­sein dan Misroh Hilal, semuanya mahasis­wa Sekolah Tinggi Islam, akhirnya menye­lenggarakan sebuah pertemuan untuk membicarakan bagaimana seharusnya menghadapi tantangan zaman dan menyu­sun pedoman bagi penyaluran cita-cita para cendekiawan muslim muda pada saat itu.

Pertemuan yang dipimpin oleh Lafran Pane itu diselenggarakan di sebuah gedung yang sekarang dimiliki Pastoran Katolik Roma di Jalan Senopati 30, Yogyakarta. Pertemuan diadakan pada 5 Februari 1947, dalam hari kuliah sepPrti biasa. Laf­ran Pane pada akhir pertemuan memberi­kan pernyataan resmi bahwa sebuah orga­nisasi untuk semua mahasiswa muslim te­lah didirikan dan bernama Himpunan Mahasiswa Islam. Ketika diwawancarai oleh Victor Tanja (penulis tentang seja­rah dan kedudukan HMI di tengah gerak­an pembaharuan di Indonesia dalam rang­ka disertasi doktornya) Lafran Pane mene­gaskan bahwa, kpputusan untuk mendiri­kan organisasi itu diambil dengan tergesa­gesa, mengingat harusnya para cendekia­wan muslim muda ikut serta di dalam per­juangan kemerdekaan nasional, dan di samping itu juga untuk melestarikan dan mengamankan ajaran-ajaran Islam.

Di antara peran-peran yang dimainkan HMI adalah: pada masa awal sejarahnya HMI sangat terlibat dalam perjuangan ber­senjata dan politik untuk merebut kemer­dekaan nasional. Misalnya, tak lama sete­lah HMI berdiri pada 1947 berlangsung Perundingan Linggarjati antara pemerin­tah Belanda dengan wakil-wakil pemerin­tah Indonesia. Terhadap perundingan ini HMI. telah menanggapinya dengan serius, dan HMI mengatakan telah membenarkan hasil perundingan tersebut sebagai sesuatu yang mungkin menyebabkan penyerahan kedaulatan terjadi melalui jalan damai. Untuk menopang perjuangan itu HMI ber­usaha membentuk cabangnya di mana­mana di seluruh Indonesia, dengan cara menyalakan kembali semangat Islam se­bagai landasan moral guna keikutsertaan­nya di dalam perjuangan itu.

Selanjutnya HMI juga berperan dalam upaya pembaharuan di bidang pendidikan, yang ketika itu bercorak sekuler di satu pihak, dan bercorak tradisional di,pihak lain. HMI dalam pada itu mencoba mema­dukan keduanya, sesuai dengan semangat ajaran Islam yang tidak menghendaki pe­misahan antara urusan dunia dengan akhi­rat. Untuk itu HMI berhasil mendirikan Yayasan Pendidikan Mahasiswa Islam pada 1948, suatu lembaga yang bertugas menyediakan bantuan, baik keuangan maupun barang, bagi para anggotanya yang berniat menjadi mahasiswa sepenuh­nya. Segera setelah kedaulatan Indonesia diakui oleh pemerintah Belanda pada akhir 1949, HMI mengalihkan perhatian­nya kepada kegiatan sosio edukasi.

Kemudian pada 1965 kaum komunis (PKI) tak pernah henti-hentinya berusaha agar HMI dibekukan secara nasional. Na­mun usaha tersebut gagal. HMI bersama­sama organisasi nonkomunis lainnya mem­bentuk sebuah persatuan yang terkenal de­ngan sebutan KAMI, kependekan dari Ke­satuan Aksi Mahasiswa Indonesia pada 25 Oktober 1965 di Jakarta, dan Pemerintah Orde Barupun lahirlah. KAMI yang dipim­pin oleh tokoh-tokoh HMI melancarkan demonstrasi besar-besaran, dengan berge­rak dari kampus langsung menuju ke ger­bang Istana Presiden, menuntut dibubar­kannya PKI. Akhirnya pada 11 Maret 1966 Presiden Sukarno menyerahkan ke­kuasaan pemerintahannya kepada Jende­ral Suharto melalui surat yang dikenal sekarang dengan nama Super Semar (Surat Perintah Sebelas Maret).

Kini HMI berkiprah dalam segala bi­dang, khususnya dalam menyiapkan kader­kader pemimpin yang berkualitas tinggi, seperti dengan duduknya anggota-anggota HMI dalam organisasi pemuda yang ber­nama Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang lahir pada 1973 di Jakarta, di samping dengan melalui kegiatan kade­risasi anggota yang bersifat regular dan nonregular seperti Basic Training, Inter­mediate Training, Advance Training, dan lain-lain. Sedangkan yang bersifat non re­gular seperti seminar-seminar mengenai berbagai permasalahan sosial budaya, eko­nomi, masyarakat dan lain-lain, up-grading di bidang kewartawanan, dakwah, dan lain-lain. Hal ini terus berlangsung sampai sekarang.

Advertisement