Advertisement

Hilal berasal dari kata Arab hit& Kata hilal mempunyai banyak arti, di antara­nya: curah hujan, warna putih pada pang­kal kuku dan bulan sabit (bulan baru). Dalam al-Quran (lihat surat al-Baqarah: 189) dijumpai kata ahillat (jamak dari kata dengan pengertian bulan sabit. Demikian pula dalam al-Hadis seperti da­pat dilihat dalam beberapa Hadis Rasulul­lah, yang berkenaan dengan pelaksanaan ibadat puasa dan Idulfitri.

Menurut ayat yang telah disebutkan di atas, di antara fungsi bulan sabit ialah un­tuk menentukan waktu bagi umat manu­sia terutama waktu pelaksanaan ibadat haji di samping ibadat-ibadat lain tentu­nya seperti salat dan puasa. Dalam syariat Islam, pelaksanaan setiap ibadat pada da­sarnya telah ditentukan waktunya demi­kian rupa sehingga orang yang melakukan ibadat di luar waktu yang telah ditetapkan syariat batal hukumnya kecuali ada ketentuan lain yang memang dibenarkan syariat.

Advertisement

Sebagai misal, salat fardu umpamanya telah ditentukan waktunya (perhatikan al­Quran surat an-Nisa 103) yakni zuhur, asar, magrib, isya’ dan subuh. Demikian pula halnya ibadat puasa wajib yakni di bulan Ramadan (lihat al-Quran surat al­Baqarah: 183-185) dan ibadat haji yak­ni di bulan-bulan Syawal, Zulaedah dan Zulhijjah (baca surat al-Baqarah: 197) menurut kesepakatan ulama Islam.

Seperti diketahui, ada dua macam per­hitungan mengenai pergantian tanggal, bu­lan dan tahun yakni:

  • perhitungan Syamsiyyah yang biasa disebut dengan perhitungan Masehi dan
  • perhitungan Qamariyyah yang lazim dikenal dengan perhitungan Hijrah.

Yang pertama perhitungannya didasar­kan atas perjalanan matahari dengan jum­lah waktu 30 atau 31 hari untuk tiap bu­lannya, kecuali pada bulan Februari yang berkisar antara 28 dan 29 hari sedangkan yang kedua perhitungannya didasarkan atas peredaran bulan dengan jumlah wak­tu 29 atau 30 hari untuk setiap bulannya.

Sungguhpun kedua perhitungan terse-but yakni Qamariyyah dan Syamsiyyah sama-sama mempunyai jumlah 12 bulan dalam satu tahunnya, namun antara ke­duanya terdapat perbedaan mengenai jum­lah harinya. Untuk setiap satu tahun, ka­lender Hijrah 12 hari lebih pendek dari­pada kalender Masehi. Itulah sebabnya mengapa bulan Ramadan umpamanya, bila diukur dengan bulan Masehi akan se­lalu bergeser ke depan dan inilah pula yang mengakibatkan bulan Ramadan itu akan dapat dialami oleh seluruh bulan Syamsiyyah.

Khususnya di dunia barat, yang menge­nal empat macam musim (dingin, bunga, panas dan rontok), seseorang yang ber­puasa akan pernah mengalami rasa panas yang membakar dan rasa dingin yang menggigil. Kesemuanya itu merupakan ujian dari Allah dan sekaligus merupakan tanda keadilan-Nya yang meratakan pe­laksanaan ibadat puasa di segala musim.

Dalam pada itu, umat Islam dalam menghitung tanggal, bulan dan tahun, memegangi perhitungan Qamariyyah atau kalender Hijrah yang perhitungannya di­dasarkan atas perjalanan bulan. Untuk ke­pentingan tersebut pada dasarnya ada dua cara yang dilakukan umat Islam yakni rukyat dan hisab. Rukyat yang umum di­kenal dengan sebutan rukyat al-hilal, ialah menetapkan awal bulan Qamariyyah de­ngan cara melihat bulan sabit dengan mata kepala baik melalui peralatan seperti yang umum dikenal di mana-mana terakhir ini maupun tanpa alat seperti yang umum di­lakukan di masa-masa silam. Sedangkan hisab ialah menetapkan awal bulan Qama­riyyah berdasarkan perhitungan ilmu falak (ilmu astronomi) sehingga dapat ditentu­kan secara eksak tentang letak dan tinggi bulan.

Selain rukyat dan hisab, untuk menen­tukan awal bulan Qamariyyah agaknya dapat dikatakan masih ada satu cara lagi yakni istikmal, yaitu dengan menggenap­kan jumlah hari bulan yang sebelumnya. Untuk menentukan awal bulan Ramadan umpamanya, dapat dilakukan dengan me­nyempurnakan bilangan hari bulan Sya’­ban yakni 30 hari. Menurut Hadis Rasulul­lah istikmal itu dipergunakan manakala rukyat talc dapat dilakukan, seperti karena cuaca mendung. Rasulullah bersabda: “Berpuasalah kamu karena melihat bulan, dan berbukalah kamu (juga) karena meli­hat bulan. Apabila kamu tak dapat meli­hat bulan karena mendung, makes sem­purnalcanlah jumlah bilangan bulan Sya’­ban menjadi 30 hari” (H. Muttafaq alaih dari Ibnu Umar).

Dalam pada itu di kalangan para ulama Islam terdapat perbedaan pendapat bila antara hasil rukyat dan hisab ‘tidak sama atau berbeda dalam menentukan awal Ra­madan atau Hari Raya umpamanya. Se­bagian dari mereka mempertahankan hash rukyat,. sementara sebagian yang lain her­pendirian harus mengutamakan hasil hisab. Namun demikian ada pula yang menyata­kan bahwa menentukan awal dan akhir bulan puasa umpamanya, boleh memper­gunakan cara yang sama saja yakni boleh atas dasar) irukyat dan tidak dilarang ber­dasarkan hash hisab.

Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, yang jelas antara kedua cara tersebut satu sama lain pada dasarnya mempunyai hubungan yang erat dan keduanya mem­punyai dalil yang agaknya sama kuatnya yakni beberapa Hadis Nabi di samping ter­utama ayat al-Quran yakni surat Yunus ayat 5. Atas dasar ini maka kiranya cukup alasan jika di masyarakat Islam Indonesia rukyat dan hisab itu boleh dikatakan men­dapatkan perlakuan yang sama dalam arti sama-sama diariggap penting. Ad anya Badan Hisab dan Rukyat di lingkungan Direktorat Badan Pembinaan Peradilan Agama (Dirbinbapera) Departemen Aga-ma RI, umpamanya, menunjukkan itu.

Advertisement