Advertisement

Hijrah berarti berpindah. Peristiwa hij­rah yang amat penting bagi perkembangan sejarah umat Islam adalah hijrahnya (pin­dahnya) Rasulullah, Muhammad bersama para pengikutnya dari Mekah ke Yasrib (Madinah) pada 622 M. Mereka yang ber­hijrah itu disebut kaum Muhajirin, .sedang penduduk Yasrib yang menjadi penolong mereka disebut kaum Ansar (para peno­long).

Mayoritas penduduk Yasrib, dalam dua tahun menjelang hijrah Rasul, telah men­jadi penganut Islam, bermula dengan ter­tariknya enam orang Yasrib (yang datang ke Mekah pada musim haji) kepada ajakan Nabi Muhammad, disusul pada musim haji berikutnya dengan berbaiatnya 12 orang mereka (beat Aqabah I), dan pada mu­sim haji berikutnya lagi dengan berbaiat­nya (beat Aciabah II) 75 orang kepada Rasulullah. Mereka bahkan mengajak agar Rasulullah bersama kaum muslimin Me­kah berhijrah saja ke Yasrib, dan mereka bersumpah akan membela Rasul dengan jiwa mereka.

Advertisement

Karena kaum kafir Mekah sudah berbu­lat tekad hendak membunuh Rasulullah, maka ia menyuruh para pengikutnya agar secara diam-diam meninggalkan• Mekah dan pergi ke Yasrib, sedang ia akan me­nyusul. Hijrah Rasul dilaksanakan pada malam. ia hendak dibunuh oleh sepuluh pemuda pilihan yang ditunjuk oleh sidang pemuka-pemuka kota Mekah, yang masih kafir. Kendati rumahnya dijaga ketat, Ra­sulullah berhasil keluar dari rumahnya pada malam itu tanpa diketahui pihak yang mengepungnya. Ia terus ke rumah Abu Bakar Siddiq, dan pada tengah ma-lam itu juga pergi ke selatan menuju Gua Sur untuk bersembunyi selama tiga hari. Setelah itu baru bergerak menuju utara, menyusur pantai Laut Merah, melewati jalan yang tidak pernah ditempuh orang, selama beberapa hari, dan selamat sampai di Yasrib pada 2 Juli 622 (12 Rabiulawal), dengan dielu-elukan kaum Muhajirin dan Ansar.

Dengan hijrahnya Rasulullah bersama pengikutnya ke Yasrib itu, keadaan umat Islam menjadi berobah. Bila di Mekah umat Islam teraniaya, tertindas, diboikot, atau berada di bawah kuasa politik kaum kafir Quraisy, maka di Yasrib umat Islam yang terdiri dari Muhajirin dan Ansar itu menjadi jamaah yang berkuasa, kendati bersama mereka ada masyarakat Yahudi. Pimpinan politik tertinggi berada di ta­ngan Rasulullah dan karena itulah kota Yasrib diganti namanya menjadi Madinat ar-Rasz71 (kota Rasul), yang disingkat saja dengan Madinah.

Mengingat besarnya arti dan dampak hijrah tersebut bagi masa depan sejarah umat Islam, maka sejak peristiwa hijrah itu umat Islam sudah mulai menghitung kejadian-kejadian yang mereka alami de­ngan tahun Hijrah, tidak lagi dengan ta­hun Gajah atau lain-lain, hanya saja Khali-fah Umar bin Khattab lah (memerintah: 634-644/13-23 H) yang menetapkan se­cara resmi kalender atau penanggalan tahun Hijrah.  

Advertisement