Advertisement

Hijab (hijab), berarti dinding, tirai, atau pemisah antara sesuatu dengan yang lain. Dalam lapangan tasawuf, hijab berarti sesuath yang menutup hati seseorang, se­hingga mata hatinya tidak mampu melihat realitas non empiris, terutama rahasia-raha­sia Tuhan. Bila semua yang menjadi hijab telah dapat disingkirkan atau disingkap­kan, maka mata-hatinya baru dapat me­nyaksikan rahasia-rahasia Tuhan itu, dan dengan demikian orang itu disebut: telah memperoleh ma `rifatullah (pengetahuan tentang Tuhan) yang sejati.

Biasanya, yang dipandang sebagai hijab bagi hati manusia adalah perbuatan-per-. buatan dosa. Semakin banyak orang me­lakukan perbuatan dosa, maka semakin teballah hijab yang menutup hatinya. Dosa digambarkarr sebagai bintik hitam yang menodai hati. Semakin banyak dosa dilakukan, maka semakin banyak pula bintik-bintik hitam yang menodai kesuci­an hati, dan sekali gus berfungsi sebagai hijab, yang menghalangi mata batin untuk melihat rahasia-rahasia Tuhan. Ungkapan dalam al-Quran bahwa Allah menutup hati­hati mereka”, tidak lain maksudnya dari “menutup mati hati-hati mereka dengan dosa-dosa yang amat banyak mereka laku­kan”; dalam al-Quran juga terdapat penje­lasan bahwa apa-apa yang telah mereka kerjakan telah menutup hati-hati mereka (al-Quran “r73. : 14).

Advertisement

Tujuan tertinggi dalam upaya tasawuf tidak lain dari menyingkirkan atau me­nyingkapkan apa saja yang telah menjadi hijab pada hati. Orang dalam tasawuf ber­juang keras •untuk menjauhkan dirt dari segala macam dosa, mulai dari dosa yang sebesar-besarnya sampai dosa yang se­ringan-ringannya. Dengan kata lain, siapa yang hendak menyingkapkan hijab dari hatinya, is haruslah bertobat dari dosa apa saja, bahkan dari apa yang masih menjadi hijab pada hati, kendati oleh kaum awam atau pun oleh ulama fikih dan teologi tidak lagi dipandang sebagai dosa. Bagi calon-calon sufi, yang berharap untuk me­lihat Tuhan dengan mata hati mereka, ke­sibukan dengan urusan harta, kendati dalam batas-batas yang dihalalkan oleh syariat agama, dipandang sebagai hijab. Mereka bertobat dari kesibukan harta itu dan dari semua sikap atau sifat yang be­lum sempurna, seperti: kurang zuhud pada dunia, kurang sabar, kurang rida pada Tuhan, dan kurang cinta pada-Nya. Bagi sebagian sufi, mengucapkan kalimat

 ilaha ilia mengandung arti bah­wa orang yang mengucapkan kalimat ter­sebut, masih jauh dari Tuhan. Allah masih gaib. dari orang yang mengucapkan itu. Itulah sebabnya sebagian sufi tersebut ma­sih merasa perlu bertobat dari mengucap­ kan la ilaha Allah (tiada Tuhan selain Allah) dan beralih kepada mengucapkan ‘Id ildha ills Anta (tiada Tuhan kecua­li Engkau)”. Pertobatan seperti ini me­ngandung arti pertobatan dari keberadaan yang masih jauh dari Tuhan dan pindah kepada keberadaan yang dekat dengan Tuhan sudah langsung berhadapan/sudah tidak berhijab lagi), sehingga sufi itu lebih tepat menyebut Engkau, bukan Dia atau Allah, kepada Tuhan.

Dalam lapangan fikih, juga terdapat term hijab, yang mengacu kepada ahli wa­ris yang lebih dekat atau lebih kuat perta­lian darahnya dengan seseorang (mayat) yang meninggalkan harta warisan; ahli waris tersebut menjadi hijab (dinding) yang menghalangi ahli waris yang lebih jauh, sehingga ahli waris yang lebih jauh itu tidak mendapatkan harta warisan sama sekali. Term hijab itu juga mengacu kepa­da ahli waris yang keberadaannya menye­babkan ahli waris yang lain hanya mem­peroleh patokan (ukuran) pembagian yang lebih kecil.

Sebuah contoh untuk hijab yang me­nyebabkan ahli waris yang lain hanya memperoleh ukuran pembagian yang lebih kecil adalah anak-anak yang menjadi hijab terhadap suami. Menurut ketentuan hu­kum fikih, bila seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan, maka suaminya akan memperoleh seper­dua dari harta warisan itu, bila wanita itu tidak mempunyai anak (laki-laki atau perempuan), tapi hanya memperoleh se­perempat saja, bila wanita itu mempunyai anak. Jadi, anak menjadi hijab bagi suami untuk mendapatkan seperdua, tapi masih berhak mendapatkan seperempat harta warisan. Hijab begini hanyalah hijab me­ngurangi saja.

Sebagai contoh untuk hijab yang me-. nyebabkan ahli waris yang lain sama sekali terhalang untuk memperoleh harta waris­an, dapat dikemukakan: ayah terhadap kakek. Bila seseorang meninggalkan harta warisan (pada waktu wafat), maka kakek­nya tidak berhak memperoleh harta waris­an, bila ayahnya ada. Bila ayahnya sudah tidak ada, ketika orang itu wafat, barulah kakeknya berhak memperolehnya (menu-rut ketentuan yang telah digariskan syari­at). Dari contoh di atas, maka dikatakan ayah menjadi hijab terhadap kakek de­ngan hijab penuh.

Ketentuan terperinci tentang ahli waris mana yang menjadi hijab penuh terhadap ahli waris yang lain, dan mana pula ahli waris yang menjadi hijab mehgurangi saja terhadap ahli waris yang lain, telah digaris­kan oleh para fukaha, dan dapat dibaca dalam kitab-kitab fikih (dalam bab faraid, yakni pembagian harp warisan atau pu­saka).

Advertisement