Advertisement

Hidayah atau hidayat berarti menunju­ki, membimbing atau petunjuk, bimbing­an. Kendati kata hidayah itu sendiri tidak dijumpai dalam al-Quran, kata itu adalah bentuk masdar (infinitif) dari kata kerja hada (telah menunjuki atau membimbing) dan yandi (akan atau sedang menunjuki atau membimbing), yang sangat banyak terdapat dalam al-Quran. Selain itu pe­ngertian petunjuk atau bimbingan yang terkandung dalam kata hidayah itu persis sama dengan kata al-huda, yang juga amat banyak terdapat dalam al-Quran.

Pengertian hidayah _yang terkandung dalam kata hada, yandi , dan al-huda itu pada umumnya mengacu kepada bimbing­an atau petunjuk bagi manusia kepada ja­lan yang lurus (as-sirat al mustajm), yang baik (as-tayyib), yang. benar (al-lzaqq), atau jalan yang terpuji (as-sirat al-hamid) Hidayat itu diberikan oleh Tuhan kepada manusia, supaya manusia mengikutinya dengan baik, agar mereka berhasil mem­peroleh apa yang mereka butuhkan di du­nia ini dengan cara yang baik, benar, lu­rus, atau terpuji, sehingga mereka berba­hagia di dunia dan akhirat. Tuhan telah mengingatkan bahwa barang siapa yang mengikuti hidayah-Nya, niscaya hidupnya bebas dari kegelisahan dan rasa sedih (3:38), ia tidak akan sesat atau bingung dan menderita (20:123).

Advertisement

Pemberian hidayah oleh Tuhan kepada manusia, dapat dipahami antara lain se­bagai pemberian berbagai potensi kepada­nya. Ada potensi berupa nafsu/instink/ garizah, yang dapat mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmaniahnya. Ada potensi akal, yang bila dikembangkan atau diaktualkan dengan baik, akan dapat menunjukkan kepada manusia apa yang benar, baik, atau berman­faat, dan juga dapat menunjukkan kepa­da. apa yang batil, buruk, atau berbahaya, baik bagi dirinya maupun bagi segenap lingkungannya. Melalui potensi akal yang dikembangkan itu, Tuhan menunjuki ma­nusia demi-memenuhi kebutuhan-kebutu­hannya yang lebih tinggi dari kebutuhan binatang. Manusia dikatakan berada dalam bimbingan Allah, bila akalnya dapat me­nunjukkan dirinya untuk berpihak kepada kebenaran dan kebaikan.

Potensi lain yang amat berharga, yang diberikan Tuhan kepada manusia, adalah perasaan moral hati nurani. Ini dapat di­pahami dan ayat al-Quran (91:7-8 Demi jiwa serta kesempurnaannya; maka ia (Allah) telah mengilhamkan kepadanya kemampuan untuk mengetahui apa itu takwa dan kedurhakaan). Hati nurani itu­lah yang senantiasa mendorong seseorang untuk bertakwa atau berbuat baik, dan menegurnya baik sebelum atau sesudah berbuat jahat atau kedurhakaan. Potensi hati nurani yang diberikan Tuhan kepada para nabi atau rasulnya demikian besar, sehingga mereka mampu menerima hida­yah Tuhan berupa wahyu, yang berisi ke­terangan-keterangan, perintah, dan larang­an, yang bila dipedomani dan diterapkan dengan tepat, pasti membawa manusia kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Hidayah berupa wahyu itulah yang me­rupakan hidayah yang tertinggi dari Tuhan, dan karena itu harus menjadi pedoman yang membimbing pengembangan segenap potensi lainnya, yang diterima manusia dari Tuhan. Selain dari wahyu tertinggi yang diterima khusus oleh para nabi atau rasul Tuhan, ada pula ilham atau bisikan atau dorongan baik yang senantiasa dipan­carkan Tuhan melalui para malaikat-Nya, dan itu akan mudah diterima oleh hati manusia yang bertekun dalam kesalehan. Ketekunan dan kesetiaan berbuat baik dan beribadat kepada Tuhan akan mem­buat hati manusia peka terhadap bisikan atau dorongan baik dari para malaikat. Itulah hidayah terbaik setelah wahyu atau kitab suci.

 

Advertisement