Advertisement

Hibah adalah pemberian harta kepada orang lain dengan kemurahan hati, tanpa mengharapkan pengganti. Dalam agama Is­lam hukumnya sunnah (dianjurkan). Urn­mul-Mukminin Aisyah menerangkan bah­wa Rasulullah pernah bersabda: “Hadiah menghadiahilah kamu, niscaya terjalinlah kasih sayang di antaramu.” (H.R. Bukha­ri).

Dalam pemberian hibah itu timbang te­rimanya dilakukan pada saat pemberi hi-bah masih hidup. Inilah yang membeda­kannya dengan wasiat, karena dalam hal terakhir ini pemberian itu barn terlaksana (pindah milik) setelah pemberi wasiat itu wafat.

Advertisement

Seseorang boleh menghibahkan seluruh hartanya. Tetapi dianjurkan untuk rnenya­maratakan pemberian antara beberapa orang anak, bahkan sebagian ahli-ahli hu­kum Islam berpendapat wajib disamakan, sehingga pemberian yang tidak sama rata antara belY6apa orang anak hukumnya adalah batal, artinya dianggap tidak berla­ku, karena pernah dibatalkan Rasulullah seperti diceritakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Mus­lim bahwa Rasulullah pernah, tidak meng­akui pemberian yang serupa itu. Pemberi­an yang demikian dianggap batal, apabila hajat antara beberapa orang anak itu sa­ma. Adapun apabila hajat antara mereka tidak sama, seperti ada di antara mereka yang hidup melarat, sedangkan yang lain sebaliknya, maka tidak ada halangan meng­adakan pemberian yang lebih kurang.

Imam Syaukani dalam kitabnya Nailul­Autar pernah menjelaskan hilcmah larang­an ini agar anak tidak berdengkian antara satu dengan yang lain.

Menurut mazhab Syafil dan Hambali hibah kepada selain anak tidak boleh dica­but kembali, karena hal ini diumpamakan oleh Rasulullah sebagai anjing yang menji­lat muntahnya (Hadis muttafaqalaih). Ber­beda dengan itu, mazhab Hanafi mengata­kan bahwa hibah boleh dicabut kembali, kecuali hibah kepada kerabat yang berke­dudukan sebagai mahram dari hubungan darah yang selain anak, selama tidak ada yang menghalanginya, seperti ada hu­bungan perkawinan, atau ada imbalan yang diterima oleh si pemberi dari yang menerima hibah, karena Rasulullah per­nah bersabda: “Orang yang menghibahkan lebih berhak dengan sesuatu yang dihibah­kannya selama ia tidak menerima sesuatu imbalannya.” (H.R. Ibnu Majah). Adapun pencabutan hibah kepada anak, mereka sepakat membolehkannya, selama ada maslahatnya. Ibnu Qudamah dalam kitab­nya al-Mugni menyebutkan beberapa, ke­tentuan bagi bolehnya pencabutan hibah atas seorang anak, di antaranya bahwa se­suatu yang dihibahkan itu masih tetap se­bagai milik anaknya. Apabila milik anak telah hilang, si bapak tidak dibolehkan la­gi mencabutnya, walaupun barang itu te­lah kembali ke tangan anaknya dengan ja­lan lain.

Advertisement