Advertisement

Hawa adalah istri Nabi Adam. Al-Quran, kitab suci umat Islam, dalam sejumlah ayat-ayatnya (2:36-37; 7:21-25; 20:119-123) berbicara tentang Adam dan istrinya, tapi tidak menyebut bahwa nama istrinya itu Hawa. Kendati demikian tidak ada halangan bagi umat Is­lam untuk memandang bahwa istri Nabi Adam yang dibicarakan dalam al-Quran itu tidak lain dari istri Adam yang dibi­carakan dalam kitab Kejadian (bagian dari kitab suci umat Yahudi dan Kristen); da­lam kitab Kejadian itu nama istri Adam adalah Hawa dan itulah sebabnya umat Is­lam juga menamainya demikian.

Seperti umumnya umat Yahudi dan Kristen percaya, juga sebagian umat Islam percaya bahwa Hawa itu diciptakan oleh Tuhan dari tulang dan daging rusuk Nabi Adam, tatkala yang akhir ini sedang terti­dur dalam kesendirian di taman (jannah). Sebenarnya dapat dimaklumi bahwa umat Yahudi dan Kristen mempunyai keperca­yaan seperti itu, karena kitab suci mereka terang mengatakan demikian (lihat kitab Kejadian 2:21-25), tapi menjadi persoal­an bahwa sebagian umat Islam mempu­nyai kepercayaan seperti itu Pula, karena al-Quran tidak mendukungnya. Al-Quran memang menyatakan bahwa Tuhan telah menciptakan kamu (wahai manusia) dari satu nafs, dan menciptakan dirinya (dari nafs itu) pasangannya, serta menebarkan dari keduanya itu banyak laki-laki dan pe­rempuan (4:1). Tidak ada keterangan al­Quran tentang penciptaan istri Adam da­ri rusuk Adam sendiri, sedang kata satu nafs (nafs wahidah) dalam ayat 4:1 itu bi­sa berarti satu diri atau satu jiwa, dan satu diri itu bisa berarti satu orang manusia, satu jenis sel atau satu pasangan bibit. Me­mahami bahwa Hawa diciptakan dari ru­suk Adam, hanya cocok untuk mereka yang mempercayai kitab Kejadian, yang juga menggambarkan Adam sebagai manu­sia pertama yang diciptakan Tuhan di bu­mi (Tuhan membentuknya dari debu ta­nah dan menghembuskan napag hidup ke dalam hidungnya dan jadilah is manusia yang hidup), tapi tidak cocok untuk di­anut oleh umat Islam yang mempercayai al-Quran, yang selain tidak menyatakan begitu, juga tidak menyatakan Adam se­bagai manusia pertama. Al-Quran hanya menggambarkan Adam dan turunannya sebagai khalifah di bumi, yang bisa berarti sebagai penguasa di bumi atau sebagai ge­nerasi pengganti atas generasi manusia se­belumnya. Hawa dan Adam lebih tepat di pahami kejadian mereka seperti kejadian turunan mereka, karena mereka berdua ti­dak dinyatakan oleh al-Quran sebagai ma­nusia pertama di bumi.

Advertisement

Sebagian umat Islam juga memandang, seperti urnat Yahudi dan Kristen meman­dang, bahwa dalam hal pelanggaran Adam dan Hawa terhadap larangan Tuhan (tidak boleh mendekati sebuah pohon)—Hawalah yang pertama kali melakukan pelanggaran, karena terperdaya oleh bujukan setan, dan setelah itu Baru Adam mengikuti pelang­garan tersebut. Tidak jarang karena ada­nya pandangan seperti itu, Hawa dan kaumnya (kaum perempuan) dituding-tu­ding sebagai biang keladi kejatuhan manu­sia atau masyarakat kepada jurang dosa. Sebenarnya pandangan demikian juga ha­nya cocok untuk umat Yahudi dan Kris­ten, karena kitab suci mereka memang menyebutkan begitu, tapi tidak untuk umat Islam, yang berpegang kepada al­Quran. Dalam kitab al-Quran tidak dise­butkan siapa yang lebih dahulu terperdaya dan melakukan pelanggaran; yang dinyata­kan adalah bahwa setan berhasil mengge­lincirkan keduanya dan mengeluarkan me­reka dari ketaatan mereka. Setan berhasil memperdaya dan membuat keduanya lu­pa, sehingga larangan Tuhan terlanggar oleh mereka. Itulah sebabnya kedua mere­ka atau kedua mereka bersama kaum me­reka’ terusir dari kehidupan yang berbaha­gia di dalam taman, jatuh ke dalam kehi­dupan yang mengandung penderitaan di tempat lain.

Sebagian umat Islam, yakni mereka yang berpandangan bahwa Hawa dan Adam adalah sepasang manusia pertama yang di­ciptakan Tuhan di bumi, cenderung meng­gambarkan — karena memang demikian ditulis oleh sebagian buku kitab nabi-nabi — bahwa Hawa belasan atau dua puluhan kali melahirkan kembar dua yang terdiri dan laki-laki dan perempuan. Anak-anak­nya yang berpuluh-puluh itu, karena ke­luarga lain tidak ada, kemudian dinikah­kan sesama mereka dengan ketentuan ti­dak boleh nikah dengan saudara kembar­nya sendiri. Keterangan seperti itu sulit untuk dipertanggungjawabkan kebenaran­nya, karena al-Quran sendiri tidak membe­rikan informasi tentang itu dan tidak mem­berikan dukungan bagi dasar pandangan yang melahirkan gambaran demikian.

Berapa lama Hawa dan Nabi Adam dan di mana persisnya mereka hidup di bumi ini, baik ketika di taman maupun di luar taman, tidaklah diketahui dengan terang. Al-Qur’an tidak memberikan informasi tentang itu. Para penulis kisah di kalangan umat Islam menyebutkan bahwa Hawa wafat setahun setelah wafatnya Nabi Adam, sedangkan yang akhir ini menurut kitab Kejadian wafat tatkala ia berusia 930 tahun (5:5), atau menurut sebagian penulis kisah, tatkala ia berusia hampir 1000 tahun, satu jangka masa hidup yang terlalu lama (panjang) menurut manusia sekarang. Sangat mungkin penulis kisah terlalu berlebihan dalam menetapkan bi­langan usia tersebut.

Advertisement