Advertisement

Harimau nan Salapan (Harimau yang Delapan) adalah sebutan untuk dela­pan orang ulama yang gagah berani dan tegas mengajak masyarakat untuk melak­sanakan ajaran Islam di Minangkabau. Kedelapan ulama tersebut merupakan tokoh-tokoh penting yang memberikan kekuatan kepada gerakan Paderi.

Sebagai diketahui gerakan Paderi mun­cul setelah tiga orang haji kembali dari Mekah ke tanah kelahiran mereka Mi­nangkabau. Mereka adalah Haji Miskin dad Pandai Sikat (Luhak Agam), Haji Abdurrahman Piobang (Luhak Lima Pu­luh Koto) dan Haji Muhammad Arif Su­manik (Luhak Tanah Datar) yang terke­nal pula dengan sebutan Tuanku Lintau.

Advertisement

Ketiga haji ini berusaha memurnikan praktek-praktek umat Islam di tanah Mi­nangkabau yang menurut mereka telah menyimpang jauh dari ajaran yang sebe­namya. Namun usaha mereka tersebut mendapat tantangan yang hebat dari masyarakat sendiri terutama dari kaum ad at. Haji Muhammad Arif Sumanik men­dapat perlawanan hebat di negerinya sen­diri. Demikian pula Haji Miskin diusir dari negerinya Pandai Sikat dan terpaksa hijrah ke Ampat Angkat.

Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh ketiga haji tersebut baru mendapat ke­kuatan setelah tujuh orang TuankU (gelar ulama di Minangkabau) ikut ambil bagian. Mereka adalah Tuanku Nan Renceh di Ka­mang, Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Kota Am­balau dan Tuanku di Lubuk Aur.

Jumlah tujuh orang Tuanku atau ulama di atas, kemudian ditambah dengan Haji Miskin dari Pandai Sikat inilah yang men­jadi sebutan Harimau Nan Salapan. Gerak­an Paderi dengan demikian bertambah kuat, sehingga akhirnya keturunan raja-raja adat meminta bantuan Kompeni Be­landa. Akhirnya perang Paderi menjadi pe­rang terbuka melawan Belanda.

 

Advertisement