Advertisement

Halal bil Halal secara etimologis istilah ini berasal dari bahasa Arab: namun secara terminologis is tidak ditemukan dalam budaya kebahasaan masyarakat Arab. Ke­cuali itu, istilah tersebut memang merupa­kan hasil proses budaya masyarakat Islam Indonesia yang sangat diwarnai oleh sema­ngat budaya masyarakat legalistik, fikih oriented, sebagai ciri khas budaya keber­agamaan masyarakat tradisional: terutama di Jawa. Karena itu, istilah dan tradisi Halal bil Halal bukan saja tidak ditemukan dalam masyarakat Arab, tetapi juga istilah dan tradisi tersebut tidak ditemukan di kalangan masyarakat Islam manapun, ter­masuk di kalangan masyarakat Islam Me­layu: seperti di Malaysia dan Brunei.

Secara historis, tradisi Halal bil Halal — sebagai bagian dari seremoni keagamaan Hari Raya Idul Fitri — menemukan ben­tuknya yang khas adalah setelah masa ke­merdekaan Indonesia. Karena bagaimana­pun, tradisi Halal bil Halal sangat memer­lukan kondisi pendukung, baik sosial bu­daya, politik, dan ekonomi. Sebagai tradisi Baru dalam sistem seremoni keagamaan, Halal bil Halal mulanya berkembang di Jawa dan kemudian menyebar ke seluruh wilayah Nusantara.

Advertisement

Main semakin memperkokoh tata for­malisme seremonial Hari Raya Idul Fitri, Halal bil Halal — yang secara teknis diarti­kan sebagai praktek saling memaafkan antar sesama — mempunyai fungsi reinte­gratif sosial yang cukup penting: dalam bahasa agama dikenal dengan istilah mem­perkuat semangat Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang didasarkan kepada nilai­nilai keislaman. Meskipun demikian, fung­si reintegratif sosial tersebut sering ber­sifat sangat lokal dan eksklusif: misalnya, Halal bil Halal untuk masyarakat Jawa, Sunda, Minang, dan lain-lain. Secara se-pintas, tradisi Halal bil Halal memberikan peluang untuk terbentuknya kembali se­mangat primordialisme: ikatan sosial ber­dasarkan nilai-nilai kedaerahan, kesukuan, dan lain sebagainya. Selain fungsi-fungsi tersebut, tentu saja Halal bil Halal bisa berfungsi sebagai media dakwah, sebagai­mana layaknya seremoni-seremoni keaga­maan pada umumnya dalam sistem kehi­dupan keagamaan masyarakat Islam Indo­nesia.

Advertisement