Advertisement

Hal dan Maqam dua istilah yang lazim dipakai dalam tasawuf. Sejak kapan kedua istilah ini dipakai ma­sih belum dapat dipastikan, namun Zun Nun al-Misri (860/245 H) disebut-sebut sebagai orang yang pertama di Mesir yang berbicara tentang hal dan maqam. Menu-rut Bahasa, hal, yang jamaknya ahwal (ah­IQ° berarti keadaan, sedang maqam, yang jamaknya maqamat (maqamat), berarti tempat berdiri, posisi, kedudukan, atau derajat. Para sufi atau ahli tasawuf meng­gambarkan hal atau ahwal sebagai perasa­an, keadaan, atau suasana hati, yang masih bersifat temporal (tidak tetap), yang dira­sakan oleh orang-orang yang sedang ber­juang keras menjalani kehidupan kesufian; sedangkan maqam atau maqamat digam­barkan sebagai tahap-tahap yang harus di­capai oleh orang-orang tasawuf nu, mulai dari tahap-tahap awal sampai ke tahap-ta­hap tertinggi, yakni tahap dekat sekali dengan Tuhan. Bila hal dipandang sebagai keadaan yang masih bersifat tidak mene­tap pada hati, maka maqam dipandang se­bagai keadaan atau sifat yang sudah mene­tap dalam hati.

Tentang mana keadaan-keadaan yang termasuk hal atau ahwal, dan mana pula yang termasuk ke dalam kategori maqam, para sufi tidak memberikan daftar dan susunan yang sama. Bisa juga dijumpai bahwa apa yang disebut oleh satu pihak sebagai hal, oleh pihak lain disebut ma­qam. Orang dapat menjumpai daftar hal atau ahwal itu sebagai berikut: khauf (pe­rasaan takut), tawadu’ (perasaan tunduk/ rendah terhadap Tuhan), takwa, ikhlas, Uns (perasaan berteman dengan Tuhan, wajd (kegembiraan hati), syukur, dan lain sebagainya; sedang daftar maqamat seba­gai berikut: tobat, zuhud (tidak tertarik kepada dunia), sabar, tawadu’, takwa, ta­wakal, rida, mahabbah (cinta pada Tuhan), mikrifah, fana, baqa’, ittihad (bersatu de­ngan Tuhan), dan lain-lain.

Advertisement

Sebagian besar dari deretan nama dalam maqamat, dan juga dalam ahwal, tidak lain dari sifat-sifat, sikap-sikap atau keada­an-keadaan, yang dapat diupayakan men­jadi aktual secara mantap dalam hati orang-orang tasawuf. Adapun yag lain —se­perti: keadaan terbuka hijab (dinding yang menutup mata batin), perasaan fana dari selain Tuhan atau baqa bersama-Nya, perasaan ittihad, dan lain sebagainya me­rupakan keadaan atau perasaan yang ber­langsung sesaat atau beberapa saat dalam hati para sufi, namun dapat muncul ber­ulang-ulang. Sebagian kecil yang disebut­kan itu, karena memang berlangsung se­saat atau beberapa saat dan tidak terus menerus, dapat disebut hal; tapi juga da­pat disebut maqam, karena dapat menun­jukkan kepada yang mengalaminya taraf perkembangan kemajuan rohaniah yang telah dicapai.

Dari berpuluh-puluh sifat, keadaan, si­kap atau perasaan yang harus diaktualkan secara mantap dalam hati orang-orang tasawuf atau yang hendak dicapai oleh mereka, ada beberapa buah yang menjadi tonggak-tonggak yang menonjol, yakni: tobat, zuhud, sabar, rida, cinta, dan mak­rifah.

Tobat, sebagai tahap atau maqam yang amat penting, berarti kembali, yakni kern­bali dari dosa atau suatu keadaan kepada keadaan yang lebih utama. Seperti maqam yang lain, tobat itu bertingkat tingkat; tingkat tertinggi berarti tobat yang meng­angkat pelakunya kepad a kesempumaan (tingkat maksimal yang dapat diusahakan manusia). Tidak mengherankan bahwa. Abu Yazid al-Bistami masih bertobat dari mengucapkan ungkapan “tidak ada Tuhan selain Allah” kepada mengucapkan ung­kapan “tidak ada Tuhan kecuali Engkau”.

Zuhud (tidak tertarik) kepada sesuatu, merupakan sikap yang amat menentukan dalam tasawuf. Bila zuhud pada tahap awal berarti tidak tertarik kepada apa saja yang haram atau makruh menurut hukum fikih, maka zuhud tingkat tertinggi me­ngandung arti tidak tertarik kepada apa pun selain Allah, termasuk tidak tertarik kepada surga. Dengan zuhud demikian, jelas hanya Allah saja yang menarik per­hatiannya (orang tasawuf).

Semua upaya dalam mendekatkan kepada Tuhan akan gagal, bila sifat sabar tidak diaktualkan sesempurna mungkin. Orang yang berjuang dalam jalan tasawuf, bukan saja sabar dalam mengerjakan ke­wajiban dan hal-hal yang sunnah, serta meninggalkan hal-hal yang haram dan ma­kruh menurut ukuran fikih, tapi juga sabar mengalami kesulitan dan penderita­an yang bagaimana pun. Agar penderitaan tidak terasa sebagai penderitaan, orang ta­sawuf mengembangkan perasaan rida (se­nang) kepada Tuhan sedemikian rupa, se­hingga is tidak akan memohon agar di­lepaskan dari suatu cobaan, tapi malah meminta agar diberi cobaan yang lebih be-rat.

Olah rasa dalam tasawuf ini mencapai puncaknya dengan mengembangkan rasa cinta kepada Allah. Tuhan tidak lagi di­rasakan sebagai zat yang ditakuti, tapi di­rasakan sebagai kekasih, yang menggairah­kan atau menimbulkan rasa asyik masyuk dengan-Nya. Dengan perasaan asyik ma­syuk bersama kekasih itulah, maka tidak terasa berat bagi orang tasawuf untuk ber­sujud dihadapan-Nya sampai 400 rakaat dalam sehari semalam.

Tidak ada upaya yang tidak membuah­kan hasil. Terbukanya hijab (kasyf al-hi­jab) untuk sesaat atau beberapa saat, se­hingga rahasia-rahasia Tuhan dapat dilihat oleh mata hati, keadaan fana dan perasaan berdua saja dengan Tuhan, bahkan perasa­an bersatu dengan-Nya, kendati dipandang sebagai anugerah dari Tuhan, tidak bisa di­lepaskan kaitan kausalitasnya dengan olah rasa mengaktualkan sikap atau perasaan: tobat, zuhud, sabar, rida, dan mahabbah (cinta) tadi.

Demikianlah, hal dan maqam juga pat menggambarkan kaitan kausalitas antara anugerah Tuhan dengan upaya olah rasa orang tasawuf.

Advertisement