Advertisement

Hakikat Muhammadiyah secara har­fi berarti hakikat yang terpuji. Istilah ini digunakan oleh sufi terkenal dan Andalu­sia, Ibnu Arabi, dan para pengikutnya, sebagai sebutan yang mengacu kepada makhluk pertama atau limpahan pertama dan al-Haq, Yang Maha Benar (Tuhan). Sebelum Ibnu Arabi, ide tentang makhluk atau limpahan pertama itu telah dikenal dan diberi sebutan nous (oleh Plotinus), akal pertama (oleh al-Farabi dan Ibnu Sina), nur Muhammad (oleh al-Hallaj), dan nur pertama (oleh Suhrawardi al­Maqtul).

Sebutan-sebutan yang digunakan Ibnu Arabi bagi makhluk atau limpahan perta­ma tersebut cukup banyak, lebih dari dua puluh sebutan, yang sebagiannya adalah sebutan-sebutan yang juga telah diguna­kan oleh kalangan sufi atau pemikir yang mendahuluinya (seperti Plotinus, Hallaj, Farabi, dan Ibnu Sina tersebut tadi). Di antara sebutan-sebutan yang banyak itu adalah: hakikat Muhammadiyah, hakikat Muhammad, ruh Muhammad, nur Mu­hammad, hakikat dari segala hakikat, akal pertama, ruh yang paling agung, `arasy, pena yang paling tinggi, khalifah, manusia sempurna, asal alam, Adam hakiki, bar­zakh, falak kehidupan, hayula (materi per­tama), ruh, dan qutub.

Advertisement

Sebutan hakikat Muhammadiyah itu, seperti halnya sebutan ruh Muhammad, nur Muhammad, dan hakikat Muhammad, biasanya dikaitkan dengan beberapa ung­kapan, yang beredar luas di kalangan para sufi, yaitu: “Yang pertama dijadikan Allah adalah nur atau ruhku”, “Aku ada­lah seorang nabi di scat Adam masih ber­ada di antara air dan tanah”, dan “Tuhan berkata kepadaku: ‘Jika bukan karena engkau, niscaya tidak Aku jadikan sege­nap alam ini'”. Ketiga ungkapan tersebut oleh para sufi yang mempunyai pengajar­an tentang hakikat Muhammadiyah, dinis­batkan kepada Nabi Muhammad dan di­yakini sebagai hadis Nabi, kendati para ahli hadis sendiri mengingkari kesahihan-nya. Karena ungkapan-ungkapan itu di­pandang berasal dari Nabi Muhammad, maka nur atau ruhku dalam ungkapan pertama mengacu kepada nur atau ruh Muhammad, kata ganti aku pada ung­kapan kedua dan engkau pada ungkapan ketiga sama-sama mengacu kepada Mu­hammad. Hanya saja dalam pemahaman mereka itu Muhammad, nur atau ruh Muhammad itu tidak mengacu kepada jiwa-raga Nabi Muhammad yang diutus oleh Tuhan sebagai rasul terakhir di per­mukaan bumi ini, tapi mengacu kepada hakikatnya, yang merupakan makhluk pertama dan asal bagi segenap alam, ter­masuk nabi terakhir, Muhammad. Karena itulah muncul sebutan hakikat Muham­mad atau hakikat Muhammadiyah.

Hakikat Muhammadiyah sebagai makh­luk pertama atau sebagai limpahan perta­ma dari al-Haq Yang Maha Mutlak, keli­hatannya tidak lain dari wujud ilmi yang muncul sejak azali pada zat al-Haq Yang Maha Mutlak.

Hakikat al-Haq (Tuhan) sekaligus men­jadi dasar bagi segenap alam yang dicipta­kan-Nya, atau dengan kata lain gambar (bentuk) Tuhan sekaligus menjadi patron bagi keberadaan alam yang diciptakan­Nya. Bukan manusia saja, tapi segenap alam ini dikatakan diciptakan Tuhan me­nurut gambar atau hakikat-Nya, agar alam ini dapat berfungsi sebagai tempat bagi Tuhan untuk memanifestasikan hakikat dan segenap sifat-sifat-Nya, atau sebagai kaca bagi-Nya untuk melihat diri-Nya me­lalui kaca tersebut.

Dikatakan juga oleh mereka yang meng­anut faham hakikat Muhammadiyah, bahwa is (hakikat Muhammadiyah ini) bila dilihat dalam kaitannya dengan al­Haq Yang Maha Mutlak, merupakan iden­tifikasi (ta’ayyum) dari al-Haq. Tanpa proses (sejak azali) identifikasi itu, al-Haq akan tetap saja sebagai al-Haq yang Maha Mutlak yang tidak bisa dikenal dengan cara apa pun dan oleh siapa pun, kecuali oleh al-Haq sendiri. Dengan identifikasi itu muncullah hakikat Muhammadiyah, yang tidak lain dari identitas Tuhan, yang dinyatakan dengan nama-nama atau sifat­sifat-Nya. Bila al-Haq dalam martabat aha­ diyah (esamutlak) tidak mungkin dikenal dan diidentifikasi, kecuali dengan ungkap­an negasi (bukan ini, bukan begitu, dan se­terusnya), maka al-Haq dalam bentuk hakikat Muhammadiyah, bisa dikenal haki­kat, sifat-sifat, atau nama-namanya, mela­lui pengetahuan (makrifah) mistik. Bila dilihat dalam kaitannya dengan segenap alam empiris, maka hakikat, sifat-sifat, atau nama-nama al-Haq (Tuhan) dalam hakikat Muhammadiyah itu sekaligus me­rupakan hakikat-hakikat segenap alam, yang biasa disebut dengan eytin gbitat (hakikat-hakikat/prototip-prototip/identi­tas-identitas man,ap). Adanya hakikat­hakikat alam empiris dalam hakikat. Mu­hammadiyah itu menjadi sebab bagi ada­nya alam empiris tersebut secara aktual, tapi keberadaannya yang aktual itu sela­manya bergantung pada al-Haq (Tuhan) seperti bergantungnya keberadaan bayang­bayang suatu bend a pada benda itu sendiri.

Pada hakikat Muhammadiyah itulah al­Haq yang Maha Mutlak memanifestasikan secara langsung dan paling sempurna haki­kat, sifa-sifat, atau nama-nama-Nya. Pada giliran berikutnya, hakikat Muhammadi­yah itu pula yang memancarkan sinarnya kepada setiap hati manusia. Hati-hati ma­nusia yang tertutup oleh hijab dosa atau kecintaan kepada selain Allah, tentu tidak mampu menerima sinar tersebut. Hanya hati-hati yang suci dan sudah terbuka, yang mampu menerima sinar hakikat Mu­hammadiyah. Manusia-manusia yang hati­hati mereka paling sempurna menerima sinar itu, dan dengan demikian juga paling sempurna memanifestasikan sifat-sifat atau nama-nama Tuhan, dapat disebut in­san-insan kamil, sebagaimana halnya haki­kat Muhammadiyah juga disebut insan ka­mil.

Advertisement