Advertisement

Hak berarti kebenaran atau yang benar, baik dalam arti teoritis (nazari) maupun dalam arti praktis (`amali).

Dalam lapangan teoritis, term hak da­pat mengacu kepada ide, keterangan, beri­ ta, atau pernyataan (tentang sesuatu) yang benar, yakni yang sesuai dengan kenyata­annya, seperti keterangan bahwa bumi bulat, bumi berputar pada sumbunya se­hingga terjadi siang dan malam secara ber­gilir, bumi beredar mengelilingi matahari, cahaya bulan berasal dari cahaya mata­hari, tidak ada Tuhan selain Allah, Mu­hammad bin Abdillah adalah utusan-Nya, al-Quran itu wahyu dari Allah, dan lain sebagainya. Keterangan-keterangan seperti itu dapat disebut hak (kebenaran atau yang benar), yakni keterangan yang benar.

Advertisement

Masih dalam lapangan teoritis, term hak dapat pula mengacu kepada kenyataan itu sendiri, dengan pengertian bahwa is benar atau pasti ada, balk ada selamanya atau ada sementara, balk ada di masa lalu, ada di masa sekarang, atau ada di masa men­datang. Dengan pengertian begini, dilcata­kan bahwa malaikat itu hak (benar ada), alam hak (benar ada), manusia hak (benar ada), akhirat hak (benar ada), surga hak (benar ada), Allah hak (benar ada), dan lain sebagainya. Biasanya untuk Tuhan dipakai term al-Hak (Yang Benar Ada atau Yang Maha Benar), sedang untuk yang se­lain-Nya dipakai hak saja. Sebagai contoh adalah pernyataan al-Hallaj yang berbu­nyi: “Bukanlah al-Hak (Yang Maha Benar) saya; saya hanyalah hak (yang benar ada); maka bedakanlah antara kami.” Tuhan adalah al-Hak yang absolut, tidak terbatas, yang ada dengan sendirinya, dan tidak bergantung kepada yang lain; sedangkan apa saja yang ada selain-Nya adalah hak, yang relatif, terbatas, yang keberadaan­nya bergantung kepada keberadaan Tuhan.

Dalam lapangan praktis, term hak me­ngacu kepada apa yang utama, apa yang baik, dan apa saja yang dibutuhkan oleh manusia. Dengan demikian hak itu banyak sekali, ada yang amat mendesak, yang ti­dak dapat tidak hams dinikmati atau dite­rima oleh setiap manusia, demi menjaga kelangsungan hidupnya, seperti udara, air, makanan, kemampuan untuk menolak atau menghindari bahaya, dan lain seba­gainya. Itulah kebutuhan primer atau hak primer yang tidak dapat tidak harus di­terima oleh setiap manusia. Selain itu ada pula hak yang perlu diterima atau dinikmati oleh setiap manusia, agar ia menjadi manusia yang utama, seperti pendidikan yang baik, kesehatan yang baik, pengeta­huan yang banyak, penghargaan, perlaku­an yang adil, perlindungan, keamanan, dan lain sebagainya.

Ada hak yang telah disediakan oleh Tu­han sedemikian rupa, sehingga setiap ma­nusia dapat menikmatinya langsung, tapi ada pula hak yang harus diupayakan oleh manusia untuk mewujudkannya. Menge­nai yang akhir ini, hak menghendaki ada­nya tanggungjawab, tugas, upaya, atau kewajiban yang harus dipikul oleh manu­sia itu sendiri. Makanan, sandang, dan tempat tinggal yang layak adalah hak bagi setiap manusia, termasuk bagi seorang fa­kir miskin. Fakir-miskin itu wajiblah ber­usaha dengan usaha yang halal, agar dapat meraih haknya. Apabila dengan usahanya itu ia tidak berhasil mendapatkan haknya, maka menjadi kewajiban pihak lain, seper­ti orang yang kaya atau pemerintah dan lain sebagainya, membantu fakir miskin tadi untuk mendapatkan atau menikmati haknya.

Islam mengajarkan bahwa pada prinsip­nya hak yang disediakan langsung atau tidak langsung, oleh Tuhan, adalah bagi segenap manusia; tak ada hak istimewa untuk sebagian dan hak yang tidak istime­wa untuk yang lainnya. Demikian pula tanggungjawab untuk mewujudkan hak yang belum siap-jadi adalah tanggung ja­wab yang harus dipikul oleh segenap ma­nusia. Tanggungjawab itu pada prinsipnya juga sama atas setiap manusia. Hadis Nabi yang menyatakan bahwa manusia itu sama seperti samanya gerigi sebuah sisir, atau yang menyatakan bahwa tidak ada kelebi­han orang Arab dari orang bukan Arab dan juga tidak sebaliknya, serta tidak ada kelebihan orang putih dari orang hitam dan juga tidak sebaliknya, semuanya itu mengandung arti bahwa pada prinsipnya tidak ada hak dan kewajiban istimewa un­tuk sebagian manusia melebihi hak dan kewajiban bagi sebagian yang lain.

Kendati demikian, Islam tidak menging­kari adanya perbedaan-perbedaan situasi dan kondisi yang dialami umat manusia, sehingga berbeda pula taraf aktualisasi ke­ mampuan-kemampuan yang mereka miliki untuk memikul tanggung jawab mewujud­kan hak-hak yang dibutuhkan. Menghada­pi kenyataan itu, Islam mengajarkan bah­wa Tuhan tidaklah membebani seseorang kecuali sebatas kemampuan (2:286). Ke­mampuan itulah yang harus dikembang­kan setiap orang semaksimal dan sebaik mungkin, agar ia dapat memikul tang­gungjawab atau kewajiban semaksimal dan sebaik mungkin pula dalam mewujudkan hak-hak yang dibutuhkan itu. Penilaian taraf-taraf kemuliaan manusia, menurut Islam, tidaklah ditentukan berdasarkan pertimbangan: siapa yang terbaik amal perbuatannya (dalam mewujudkan, men­dapatkan dan menggunakan hak-hak yang dibutuhkan) atau: siapa yang paling ber­takwa kepada Tuhan (49:13).

Banyak bukti di dunia ini bahwa orang berhasil mendapatkan haknya setelah me­nunaikan tanggungjawabnya dengan baik, dan orang gagal mendapatkan haknya ka­rena tidak menunaikan tanggungjawab. Juga banyak bukti bahwa sebagian orang gagal mendapatkan haknya, kendati sudah menunaikan tanggungjawab dengan baik, dan banyak pula yang mendapatkan de­ngan jalan yang mungkar. Karena di dunia ini tidak terlaksana keadilan dengan sem­puma antara memperoleh hak yang wajar dan penunaian tanggungjawab, maka hari pembalasan yang adil (akhirat) merupakan hak yang dibutuhkan keberadaannya.

 

Advertisement