Advertisement

Haji berarti menuju atau menziarahi suatu tempat; menurut istilah fikih ziarah ke Baitullah, Mekah, untuk melaksanakan ibadat dengan cara tertentu, dalam waktu dan pada tempat-tempat tertentu. Ia ada­lah salah satu dari rukun Islam yang lima yang diwajibkan pada tahun ke sembilan setelah Rasulullah hijrah ke Madinah.

Ibadat haji sudah dikenal dari masa Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim beserta putra­nya Ismail disuruh Allah membangun Bai­tullah (Ka’bah). Kemudian is disuruh me­ngajak umat manusia menziarahi rumah Allah tersebut. Dari waktu itu bangsa Arab di sekitarnya setiap tahun berbon­dong-bondong menuju Ka’bah untuk me­lakukan ibadat haji dengan cara syariat Nabi Ibrahim. Pelaksanaan haji berjalan terus sampai masa Muhammad diutus menjadi Rasulullah. Dalam kurun waktu yang begitu panjang, pelaksanaan haji sedikit demi sedikit berubah dari ajaran semula, tidak lagi secara murni dilaksana­kan seperti petunjuk Nabi Ibrahim. Kalau dalam ajaran semula kedatangan jemaah haji ke Ka’bah secara bersama-sama untuk menghubungkan diri dengan Allah, bersih dari menyekutukan-Nya, maka secara ber­angsur-angsur ketauhidan itu menjadi sa­mar, dan akhirnya sampai beratus-ratus berhala digantungkan di keliling Ka’bah, dan kepada berhala-berhala itulah mereka memohon apa yang mereka inginkan. Pe­laksanaan korban binatang ternakpun di­tujukan kepada pembesar-pembesar ber­hala itu. Kalau pada mulanya di antara hikmah ibadat haji yang ditujui agar umat manusia terlatih merasa kebersamaan derajat di hadapan Tuhan mereka, maka pada masa jahiliyah terjadi sebaliknya, di­mana suatu kelompok yang khusus me­ngurusi Ka’bah dan memegang kuncinya adalah kelompok yang menganggap diri­ nya lebih tinggi dari masyarakat lainnya, merasa tidak setaraf dengan sesamanya.

Advertisement

Muhammad Rasulullah datang menga­jak umat manusia untuk kembali kepada agama tauhid, agama Nabi Ibrahim. “Kata­kanlah, sesungguhnya aku (Muhammad) telah ditunjuki Tuhanku ke jalan yang lu­rus, agama yang benar, yaitu agama Nabi Ibrahim yang hak, dan is bukanlah ter­masuk orang-orang yang musyrik.” (7: 161).

Rasulullah mendapati pelaksanaan haji yang tidak sesuai lagi dengan agama tau-hid. Oleh sebab itu, termasuk tugas ke­rasulannya untuk mengembalikan ibadat haji ke dalam bentuk ibadat agama tau-hid. Maka mulai tahun kesembilan hijrah kepada Rasulullah diberikan petunjuk-pe­tunjuk tentang pelaksanaan haji seperti yang dilaksanakan Nabi Ibrahim. Mulai dari saat itu ibadat haji kembali murni, bersih dari syirik jahiliyah, dan berhala­berhala yang bergantungan dikeliling Ka’-bah itupun dibuang. Pelaksanaan kurban yang tadinya dipersembahkan kepada pembesar-pembesar berhala tersebut, di­bersiikan oleh Islam untuk semata-mata secara ikhlas dipersembahkan kepada Allah. Hal itu mengingatkan umat manu­sia betapa tinggi kesediaan berkurban yang dimiliki Nabi Ibrahim yang tidak ragu hendak menebas pisau tajam di leher putranya tercinta, pengorbanan jiwa untuk nilai yang lebih tinggi dari nilai jiwa itu sendiri, yaitu karena mematuhi titah Allah.

Ada tiga cara untuk melaksanakan iba­dat haji dan ketiganya itu adalah diakui oleh hukum Islam. Yaitu:

Pertama: dengan cara haji ifrad, yaitu de­ngan melaksanakan ibadat haji lebih dahu­lu secara tersendiri, kemudian setelah sele­sai melaksanakan haji, lalu melakukan ibadat umrah secara tersendiri pula. Se­orang yang datang dari luar Mekah umpa­manya, setelah melakukan ihram dari mikatnya (lihat miqat), bagi yang hendak melakukan haji ifrad, setibanya di Mekah hendaklah melaksanakan tawaf qudum (tawaf selamat datang). Tawaf qudum ini boleh disambung dengan sal dan boleh juga tidak. Apabila tawaf qudum bagi haji ifrad ini disertai dengan sal, maka sal ini bisa terhitung sebagai sal haji, sehingga dengan itu waktu melakukan tawaf ifadah (tawaf rukun haji) setelah melakukan wu­kuf di Arafah dan melontar jumrah al­Aqabah nanti, tidak lagi perlu disertai de­ngan sal. Di Mekah setelah melakukan tawaf qudum bagi yang melakukan haji ifrad ini, harus tetap dalam keadaan ihram sampai waktu pergi ke Arafat untuk me­lakukan wukuf dan seterusnya sampai waktu tahallul (lihat tahallul). Haji de­ngan cara demikian tidak perlu membayar dam (denda).

Kedua: Haji tamattu`, yaitu lebih dahulu mengerjakan umrah, secara tersendiri, ke­mudian setelah selesai mengerjakan um-rah, baru mengerjakan haji secara tersen­diri pula. Bagi seseorang yang hendak me­ngerjakan haji tamattie, setelah sampai di Mekah langsung melakukan ibadat umrah. Setelah selesai iapun bertahallul dari ihramnya dan membuka pakaian ihram­nya. Setelah sampai waktu untuk berang­kat ke Arafah ia barn kembali melaku­kan ihram untuk haji. Di antara waktu selesai mengerjakan umrah dan mulai me­lakukan haji itu, ia bebas dari ikatan ih­ram. Oleh sebab itu ia disebut haji tamat-

Tamattu` artinya bersenang-senang, artinya seseorang bersenang-senang bebe­rapa waktu, di antara waktu selesai mela­kukan umrah dengan waktu mulai me­ngerjakan haji. Cara haji serupa ini mewa­jibkan denda What Dam).

Ketiga: Haji qiran, yaitu dengan melaku­kan haji sekaligus bersama-sama dengan melakukan ibadat umrah. Caranya ialah dengan meniatkan dalam ihramnya sekali­gus untuk haji dan umrah. Bagi yang hen­dak melakukan haji qiran ini, setelah sam­pai di Mekan (bagi yang bukan penduduk Mekah) melakukan tawaf qudum. Apabila tawaf ini disertai dengan sal, maka sal itu tidak bisa dianggap sebagai haji atau sal umrah. Oleh sebab itu ia tetap harus melakukan setelah selesai nanti dari melakukan tawaf ifadah, dan tawaf ifadah dan ini mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai tawaf dan sal untuk haji dan urn-rah yang diked akan sekali gus.

Seseorang yang melakukan haji qiran, setelah melakukan tawaf qudum, harus tetap dalam keadaan ihram haji dan urn­rahnya sampai selesai hajinya.

 

Advertisement