Advertisement

Haid berarti mengalir. Dalam istilah fi­kih berarti darah yang biasanya keluar dari rahim wanita yang sehat pada waktu­waktu tertentu tanpa ada sesuatu sebab. Ada beberapa macam darah yang keluar dari rahim wanita.

  1. Darah haid. Dalam keadaan haid seorang wanita muslimat dilarang melakukan beberapa hal karena ia dalam keada­an berhadas besar. Seseorang yang dalam keadaan hadas besar berarti dalam keada­an tidak suci. Oleh sebab itu ia tidak bo­leh melakukan beberapa ibadat dan be­berapa hal yang telah ditentukan. Hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang yang sedang dalam keadaan haid ialah:
  2. Melakukan salat, baik salat fardu. mau­pun salat.sunnah. Seorang yang dalam keadaan haid dilarang mengerjakan sa­lat, dan salat yang ditinggalkannya itu tidak perlu ,dikada pada hari-hari beri­ Hal itu berdasarkan hadis yang diriwayatkan Aisyah bahwa ia berkata: Kami hanya disuruh mengkada puasa, tidak disuruh mengkada salat (H.R. Muslim).
  3. Menyentuh, membawa atau membaca al-Quran. Seseorang yang sedang haid dilarang dari hal yang dernikian, karena al-Quran adalah suci, maka untuk men­jaga kesuciannya itu seseorang yang da­lam keadaan kotor tidak dibolehkan
  4. Duduk menetap dalam mesjid, seperti melakukan itikaf umpamanya. Kecuali jika hanya sekedar lewat saja tanpa ber­ Larangan ini timbul, karena ke­khawatiran kurang terjaganya kebersih­an mesjid dad sesuatu yang kotor. Oleh sebab itu dibolehkan jika hanya sekedar lewat tanpa berhenti yang memungkin­kan kotornya mesjid oleh darah men­struasinya.
  5. Puasa, seseorang yang sedang dalam ke­adaan haid dilarang melakukan puasa. Puasa yang ditinggalkannya selama da­lam keadaan haid itu, hams dibayar pada hari lain, setelah ia tidak dalam keadaan haid lagi. la diharuskan mem­bayar puasa yang ditinggalkannya itu berdasarkan hadis Aisyah tersebut di

Mengerjakan tawaf di Ka’bah. Dalam sebuah hadis riwayat Aisyah dikata-. kan, bahwa pada waktu ia akan mela­kukan haji, setelah dalam petjalanan, sebelum sampai di Mekah ia menangis. Rasulullah bertanya mengapa ia mena­ngis. Aisyah menjawab bahwa ia sedang haid, bagaimana ia akan melakukan haji. Rasulullah lalu bersabda: Laku­kanlah segala apa yang diperbuat oleh seorang haji, kecuali tawaf. (H.R. Mus­lim).

Advertisement

Dalam memahami hadis ini ulama ber­beda pendapat antara yang mengharam­kan sama sekali bagi seseorang yang se­dang haid untuk melakukan tawaf. Jika dilakukannya juga, maka tawafnya ti­dak sah. Aliran ini dipegang oleh ulama Syafil dan Hambali. Sedangkan menu-rut ulama Hanafi, seorang yang sedang haid melakukan tawaf, maka tawafnya adalah sah, tetapi ia harus membayar denda atau dam. Jemaah haji pada masa sekarang banyak yang memakai aliran terakhir ini, terutama jika mereka su­dah terdesak untuk pulang ke negerinya, sedangkan ia belum lagi melakukan ta­waf wajib haji.

  1. Haram bagi seorang laki-laki menggauli istrinya yang sedang haid. Larangan ini ditegaskan di dalam surat al-Baqarah ayat 222 yang melarang seseorang meng­gauli istrinya yang sedang dalam keada­an haid.
  2. Darah istihadah, ialah semacam darah penyakit yang keluar dari rahim perempu­an. Seorang perempuan yang terkena pe­nyakit darah istihadah ini, tidak mengha­langinya dari kewajiban salat dan puasa. Seorang perempuan yang normal dan ter­atur datang haidnya, akan mudah membe­dakan mana yang darah haid dan mana yang darah istihadah. Darah istihadah itu datangnya pada waktu-waktu selain dari waktu yang biasa bagi keluarnya darah haid. Dalam keadaan haid, masing-masing wanita mempunyai kebiasaan sendiri-sen­diri. Menurut penyelidikan ulama fikih se­orang perempuan paling cepat biasanya mulai datang bulan setelah berumur 9 ta­hun. Kemudian biasanya setelah berumur 60 tahun ke atas, darah haidnya akan ber­henti dengan sendirinya. Masing-masing mazhab dalam fikih Islam membuat ba­tasan minimal dan maksimal dari keada­an haid. Yang semuanya itu kelihatannya adalah berpedoman kepada kebiasaan wa­nita. Pada dasarnya mereka hampir sepa­kat bahwa kebiasaan rata-rata wanita tidak ada masa haidnya yang di atas dari

lima belas hari. Adapun batas minimum­nya kelihatannya sangat bergantung kepa­da kebiasaan perempuan. Ada mazhab yang mengatakan tiga hari, ada yang me­ngatakan sehari semalam ada pula yang berpendapat tidak ada batas sama sekali. Pembatasan ini hanya perlu dalam kaitan­nya dengan masa halangan salat dan puasa baginya.

Seseorang yang telah kering darah haid­nya diwajibkan mandi berbersih diri. Cara pelaksanaan mandi sama dengan mandi jinabat, dengan membasahkan seluruh ba­dan dan rambutnya. Apabila ia telah me­lakukan mandi, maka barulah halal bagi­nya segala hal-hal yang dilarang seperti tersebut di atas.

Ulama dari kalangan Hanafi menjadikan haid sebagai ukuran waktu dari masa tung­gu (`iddah) seorang perempuan yang di­talak oleh suaminya. Menurut mereka, masa tunggu perempuan tersebut adalah tiga kali haid. Setelah itu Baru ia boleh kawin lagi. Berbeda dengan itu, mazhab Syafil berpendapat bahwa ukuran Iddah­nya adalah tiga kali suci. Perbedaan pen­dapat tersebut berpangkal dari perbedaan pandangan dalam memahami ayat 228 surat al-Baciarah yang menyatakan se­seorang perempuan yang ditalak oleh suaminya diharuskan rnenunggu selama tiga quru. Ulama Hanafi menafsirkan guru dalam ayat tersebut dengan arti haid, se­dangkan ulama dari kalangan Syafil mengartikannya dengan suci. Jikalau di­tinjau dari segi bahasa, kedua arti terse-but, yaitu haid dan suci, adalah arti dari lafal quru, karena lafal ini mempunyai makna ganda yang mencakup dua penger­tian tersebut. Lafal yang mengandung makna ganda dalam istilahnya disebut la­fal musyatarak, yaitu suatu lafal yang me­ngandung atau bisa diartikan dengan be­berapa pengertian.

Advertisement