Advertisement

Hadis menurut pengertian bahasa ialah suatu berita atau sesuatu yang baru. Da-lam ilmu hadis istilah tersebut berarti segala perkataan, perbuatan dan taqrir (pengakuan terhadap sesuatu dengan cara tidak memberi komentar) yang dilakukan Nabi Muhammad. Umumnya ahli hadis menyamakan istilah hadis dengan istilah sunnah. Sedangkan sementara ahli hadis mengatakan bahwa istilah hadis itu khusus kepada sunnah qauliyah (perkataan Nabi), sedangkan sunnah- filiyah (perbuatan) dan taqririyah tidak disebut hadis, tetapi sunnah. Jadi dalam pandangan ini sunnah lebih umum dibanding dengan hadis. Sun­nah meliputi segala perkataan, perbuatan dan taqrir Rasulullah, sedangkan hadis khusus kepada perkataannya saja.

Para muhaddisin (ahli hadis) mengarti­kan hadis lebih luas dari yang dipahami oleh ahli usul-fikih. Hadis menurut ahli hadis meliputi segala perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi, balk menyangkut hukum atau tidak, dan baik sesudah ia diangkat menjadi Rasul atau belum. Seperti peristi­wa yang terjadi di Gua Hira sebelum turun ayat pertama. Sedangkan para ahli usul­fikih mengartikan hadis terbatas pada per­kataan, perbuatan dan taqrir Nabi yang bisa dijadikan dasar hukum. Karena yang menjadi kajian di bidang usul-fikih adalah sesuatu yang mungkin dijadikan dasar hu­kum. Oleh sebab itu pula pengertian hadis dan sunnah menurut ahli usul-fikih ialah perkataan, perbuatan dan tacuir Nabi sete­lah ia menjadi Rasulullah.

Advertisement

Hadis Rasulullah mempunyai peranan penting di samping al-Quran. Ia menem­pati tempat kedua sebagai sumber hukum setelah al-Quran. Dalam surat al-Hasyr (ayat 7) Allah menegaskan: “Dan apa-apa yang didatangkan Rasul kepadamu, pe­gangilah ia, dan apa-apa yang dicegahnya, jauhilah ia.” Al-Quran sebagai kitab suci dan pedoman hidup umat Islam diturun­kan pada umumnya secara global, tidak terinci. Untuk mengamalkan wahyu yang bersifat global itu perlu penjelasan lebih lanjut. Kalau tidak demikian, umat Islam tidak mungkin mengamalkannya. Nabi Muhammad sebagai utusan Allah yang pe­nuh dipercayai-Nya diberi wewenang oleh­Nya untuk menjelaskan dan merinci wah­yu Allah yang bersifat global itu.

 

Advertisement