Advertisement

Hadanah adalah tugas menjaga atau mengasuh bayi atau anak kecil yang belum mampu menjaga” dan mengatur diri sendiri. Mendapat asuhan dan pendidikan adalah hak setiap anak dari kedua orang tuanya. Kedua orang tua anak itulah yang lebih utama untuk melakukan tugas ter­sebut, selama keduanya mempunyai ke­mampuan untuk itu. Jika keduanya tidak mampu disebabkan tidak mencukupi sya­rat-syarat sebagai seorang pengasuh menu-rut pandangan Islam, maka dua orang ibu bapak hendaklah mencarikan pengasuh yang mencukupi syarat untuk mengasuh anaknya. Seseorang Baru dianggap cakap dalam pandangan Islam untuk mengasuh seorang anak, apabila ia memenuhi syarat­syarat; selain balig, berakal dan Islam, juga mempunyai kemampuan untuk mengasuh, pengasih kepada anak-anak, taat melaku­kan ajaran agama, dan mempunyai akhlak yang baik. Dengan syarat-syarat itu, se­orang anak diharapkan akan tumbuh se­perti pengasuhnya. Seorang pengasuh yang tidak rnemperlihatkan contoh yang baik terhadap anak asuhnya, dikhawatir­kan anak itu akan berkembang secara tidak baik pula.

Dalam hal apabila dua orang tua se­orang anak berpisah cerai, maka anak itu hendaklah tinggal bersama ibunya, karena ibunya dipandang lebih mengerti dengan kebutuhan seorang anak yang masih kecil, dan anak itupun sedang sangat membu­tuhkan hidup dengan ibunya. Adapun jikalau ibu kandungnya itu berhalangan atau tidak cakap untuk mengasuh karena kekurangan syarat-syaratnya, maka yang lebih utama selanjutnya untuk mengasuh­nya ialah ibu dari ibunya, dan jika yang disebut terakhir ini berhalangan pula, maka yang lebih utama lagi untuk menga­suhnya ialah ibu dari bapaknya. Biasanya pihak-pihak tersebut lebih melihatkan ka­sih sayangnya kepada cucunya. Dan jika­lau pihak-pihak tersebut tidak mampu, maka harus dicarikan tukang asuhnya.

Advertisement

Seorang ibu, selama ia masih sebagai seorang istri, atau sudah dicerai, akan te­tapi masih dalam masa tunggu (iddah), maka dalam menyusukan atau mengasuh anaknya dari suaminya itu, ia tidak ber­hak meminta upah dari suaminya. Ia ha­nya berhak menerima nafkah sebagai se­orang istri atau sebagai seorang yang ma­sih dalam iddah. Hal itu dijelaskan di dalam surat al-Baqarah ayat 223. Akan tetapi, jika ia tidak lagi dalam masa iddah, maka dalam menyusukan dan meng­asuh anaknya dari bekas suaminya itu, ia berhak meminta upah dari ayah anak itu. Ayahnya berkewajiban untuk mem­berikan imbalan jasa, dan memberikan segala biaya yang menyangkut dengan pe­ngasuhan dan pendidikan anaknya. Dalam surat at-Talaq ayat 6 dijelaskan bahwa se­orang perempuan yang sedang hamil di­cerai suaminya, maka suami itu berkewa­jiban menafkahinya sampai ia melahirkan, kemudian lelaki itu harus membayar upah menyusukan dan mempercayakan pemeli­haraan anak itu kepada ibunya.

Selain syarat-syarat pengasuh yang di­sebutkan di atas, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud disebutkan, bahwa seorang ibu yang telah berpisah dari suaminya, lebih utama untuk menga­suh anaknya dari suaminya itu, selama ibu tersebut belum kawin dengan suami ke­dua. Persyaratan tersebut dinyatakan oleh Rasulullah, diduga karena ada kekhawatir­an jikalau suami yang kedua itu tidak me­restui istrinya disibukkan mengasuh anak­nya dari suami lain. Kondisi yang demi­kian jelas tidak mendukung pengasuhan yang baik terhadap anak itu. Akan tetapi syarat tersebut tidak relevan dalam kenya­taan yang tidak jarang didapati bahwa se­orang ayah tiri penuh kasih sayang dan penuh perhatian terhadap anak tirinya. Dalam hal ini bermusyawarah lebih dahu­lu antara pasangan baru mengenai anak itu sangat membantu untuk menyelesai­kan permasalahan.

Tugas mengasuh lebih diutamakan atas ibunya, sampai anak itu mumayyiz (se­cara sederhana mengerti apa yang berman­faat dan yang membahayakan bagi dirinya dalam ukuran umur ± 7 tahun). Setelah ia mumayyiz, maka anak itu diserahkan ke­pada pihak yang lebih mampu, baik dari segi ekonomi maupun pendidikan di an­tara ibu bapaknya. Jikalau keduanya di­nilai mempunyai kemampuan yang sama, maka anak itu diberi hak untuk memilih yang mana di antara kedua ibu bapaknya yang ia sukai untuk tinggal bersamanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dijelaskan bahwa Ra­sulullah dalam suatu kasus memberi pilih­an kepada seorang anak antara tinggal ber­sama bapaknya atau bersama ibunya.

Bagaimanapun seorang anak dari dua orang tua yang sudah berpisah cerai, su­dah tidak lagi dapat menikmati hidup ber­sama kedua orang tuanya. Dan tidak ja­rang pula perceraian itu membuat anak­nya menjadi terlunta-lunta.

Di mana tinggal seorang anak setelah ia mumayyiz, baik bersama ibunya mau­pun bersama ayahnya, ia tetap di dalam asuhan pihak-pihak tersebut, sampai ia balig berakal (lihat Balig). Selama dalam asuhan itu, sepia biaya pendidikannya dipikul orang tua lelakinya. Seorang ayah dalam batas kemampuannya bertanggung jawab atas pendidikan anaknya itu. Ke­wajiban di sini adalah bersifat agamis, di mana apabila hal itu tidak dilaksanakan, ia akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

Mengasuh seorang anak menurut pan­dangan Islam bukan saja dari segi fisiknya, tetapi juga dari segi pembentukan mental. Dalam hal ini sikap tidak peduli dua orang tua harus dihindarkan. Seorang ayah ke luar dari pagi sampai sore, dan seorang ibu, wanita karir yang menghabiskan wak­tunya di luar rumah, tanpa menyediakan waktu untuk anaknya, akan membuat anaknya sebagai seorang “yatim” yang beribu-bapak. Seorang penyair Arab per­nah menyindir sikap orang tua yang demi­kian: “Bukanlah yatim namanya seorang anak yang kesepian disebabkan wafat ke­dua orang tuanya. Tetapi yatim adalah seorang anak yang tidak diambil peduli oleh ibu dan ayahnya.”

 

Advertisement