Advertisement

Gua Hira, adalah sebuah tempat yang bersejarah dalam proses kenabian Muham­mad. Gua ini terletak di sebuah bukit ke arah timur laut, tak jauh dari Mekah. Bukit ini sekarang dikenal dengan sebutan Jabal an-M7r (Gunung Cahaya). Sebagai seorang yang tidak puas dengan kehidup­an spiritual orang-orang di sekelilingnya, Nabi Muhammad, sebelum masa kenabian­nya, sering menjauhi kehidupan ramai untuk menyendiri, kadang-kadang beserta keluarganya, ke Gua Hira. Memang ke­tidakpuasan terhadap tradisi spiritual yang ada dan terhadap agama-agama yang ber­kembang telah melanda beberapa individu di Mekah, sehingga mereka berupaya me­nemukan kebenaran dan kepuasan batin. Mereka akhirnya dikenal sebagai liunafa’ (jamak dari hanif) yang berarti “mereka yang meninggalkan” kebiasaan yang ber­laku. Namun tidak diketahui secara pasti bahwa kaurn lzunafa’ ini membentuk satu kelompok spiritual yang otonom apalagi bahwa mereka biasa menggunakan Gua Hira sebagai tempat meditasi dan tafakkur.

Nabi Muhammad menerima wahyu per­tama di Gua Hira. Kebiasaan Nabi selama bertahun-tahun untuk menyepi di tempat tersebut mencapai klimaksnya ketika ia tiba-tiba dibangunkan oleh suara yang menyuruhnya “Bacalah!”. Nabi menjawab “Saya tidak dapat membaca.” Perintah dan jawaban yang sama berulang sampai tiga kali. Akhirnya dalam nada yang lebih tinggi suara tersebut mengajarkan lima ayat seperti yang terkandung dalam awal surat “Gumpalan Darah”i (alAlaq). Demi­Icianlah peristiwa penting awal yang ter­jadi di Gua Hira pada bulan, yang kemu­dian disebut Ramadan, diyakini Nabi se­bagai wahyu Allah pertama yang dibawa­kan malaikat Jibril. Sepulangnya dari Gua Hira. Khadijah berupaya meyakinkannya bahwa ia telah dipilih sebagai Nabi Allah untuk menyampaikan wahyu yang diteri­manya. Memang wahyu-wahyu yang kemudian diturunkan kepada Nabi tidak lagi mengambil lokasi di Gua Hira.

Advertisement

Advertisement