Advertisement

Gaznawi, Dinasti Turki yang menguasai Asia Tengah dan beberapa wilayah Asia Selatan dengan pusat pemerintahan di Gazna. Tak jauh berbeda dan pendiri di­nasti-dinasti sebelumnya seperti Tahiri dan Samani, pendiri dinasti Gaznawi juga berperan sebagai penguasa lokal atas nama sultan. Kemampuan para anggota tentara Turki yang ditempatkan di Gazna untuk mengkonsolidasikan din akibat semakin melemahnya dinasti Samani telah melahir­kan pada 976 (365 H) seorang pemimpin tangguh semacam Sebuktegin. Ia mengam­bil prakarsa untuk menguasai jalur-jalur lalu-lintas ke India, meskipun tetap berpe­ran secara nominal sebagai gubernur (with.) Khurasan atas nama sultan Samani. Sepeninggal Sebuktegin pada 998 (388 H) ia digantikan anaknya, Mahmud.

Mahmud berhasil mengembangkan sa­yap kekuasaan dinasti Gaznawi. Kekuasa­an Samani yang terus menurun dan akhir­nya secara formal diakhiri oleh kelompok Turki Karluk pada 999 (389 H) memberi kesempatan kepada Mahmud untuk mem­perkuat posisinya sebagai penguasa inde­penden. Memang Mahmud berhasil me­nguasai Iran termasuk Rayy, Isfahan, Khwarazm dan Jibal sehingga di satu pi­hak membendung ekspansi Karluk dan di lain pihak menekan orang-orang Buwaih. Namun keberhasilan Mahmud ini akhirnya justru melapangkan jalan, terutama sete­lah ia meninggal pada 1030 (421 H), bagi kekuatan Turki yang lain, Saljuk, untuk menyingkirkan dinasti Buwaih dan juga mengancam eksistensi dinasti Gaznawi. Di camping itu, Mahmud melanjutkan upaya pendahulunya dalam menguasai India ba­gian utara. Kalau Sebuktegin lebih cende­rung hanya mengadakan semacam penja­rahan ke kawasan tersebut, maka Mahmud justru berhasil mengokohkan kekuasaan­nya atas Panjab, termasuk Multan dan La­hore serta sebagian daerah Sind. Hal ini dapat dilihat dan penempatan gubernur­nya di Lahore. Keberhasilan Mahmud me­merankan dirinya sebagai “pcnakluk” (gal) ke daerah-daerah barn tersebut juga membuahkan penghargaan dari khalifah di Bagdad, al-Qadir bi Allah, dengan gelar Yamin adDaulah wa Amin alMillah.

Advertisement

Kekayaan yang diperoleh Mahmud be­serta prestasi yang dicapainya bukan saja sebagai gal yang tangguh tetapi juga seba­gai penantang dinasti Buwaih menjadikan ibukotanya, Gazna, pusat perhatian kaum ulama dan cendekiawan. Sementara penu­lis menyatakan bahwa Mahmud secara se­ngaja memaksa beberapa saljana kenama­an untuk tinggal dan berkarya di wilayah­nya; bagaimanapun, Mahmud menyedia­kan fasilitas dan imbalan yang menarik. Karenanya tak mengherankan bila dijum­pai nama-nama pengarang besar seperti Abu ar-Raihan al-Biruni dan Abu al-Qasim Firdausi. Al-Biruni yang ahli astronomi dan matematika ternyata menghasilkan sebuah karya orisinil dan unik tentang ke­budayaan, pemikiran dan agama di wilayah India berdasarkan pengamatannya yang langsung sewaktu menyertai Mah­mud dalam ekspedisi-ekspedisinya ke sela­tan. Berlainan dengan kebanyakan penulis di wilayah Gaznawi yang mulai cenderung menggunakan bahasa Persia ternyata al-Bi­runi menulis karya-karyanya, termasuk “Bekas-bekas Peninggalan” (al-Astir al­Baqiyah) yang terkenal itu dalam bahasa Arab. Sebaliknya Firdausi yang menjadi terkenal karena magnum opusnya, Syah Nainah, menggunakan bahasa Persia sesuai dengan kandungan karya tersebut yang merupakan epik tentang para raja Iran Ku­na. Memang dari satu segi kelihatan bahwa dinasti Gaznawi menopang bangkitnya bu­daya Iran seperti terbukti dengan semakin populernya pemakaian bahasa Persia seba­gai bahasa ilmu dan dengan penonjolan kebesaran para penguasa Iran masa lam­pau dalam karya tulis. Hal ini akhimya ju­ga membawa kepada meluasnya pemakai­an bahasa Persia di India, kecuali dalam penulisan-penulisan yang berkenaan de­ngan masalah syariat.

Keberhasilan Mahmud yang banyak di­tolong oleh situasi talc menentu di Iran, menjadi sulit dipertahankan oleh para pe­nerusnya, terutama dengan munculnya ke­kuatan baru seperti Saljuk. Pertempuran yang teijadi di Dandanqan di wilayah Khurasan pada 1040 (431 H) antara orang­orang Saljuk dan pasukan Gaznawi di ba­wah Mas`ud (w. 1041/432 H), pengganti Mahmud, menandai superioritas militer kelompok Saljuk; kendatipun peranan pa­ra tokoh setempat tak dapat diabaikan da­lam melicinkan kemenangan kaum Saljuk. Mas`ud pun terpaksa melepaskan wilayah­wilayah Gaznawi di Iran bagian barat serta hampir seluruh Khurasan. Kemunduran ini menjadi lebih terasa akibat perebutan kekuasaan antara para pengganti Mas`ud, hingga akhirnya Ibrahim bin Mas`ud naik tahta. Selama masa pemerintahannya yang panjang (1059/451 H-1099/492 H) Ibra­him mampu menata kembali kekuasaan Gaznawi yang tersisa di bagian timur pe­gunungan Afganistan termasuk wilayah­wilayah di India Utara. Di samping itu is juga berhasil membangun hubungan damai dengan sultan-sultan Saljuk, namun kele­ mahan para penggantinya telah menjadi­kan dinasti Gaznawi sejak 1118 (512 H) sebagai pembayar upeti kepada sultan-sul­tan Saljuk.

Ancaman yang lebih serius terhadap di­nasti Gaznawi datang dari suku-suku Guzz dan Gur. Sebagai pengembara orang-orang Guzz yang pernah menjadi sumber ke­kuatan militer dinasti Saljuk akhirnya me­lawan para penguasa termasuk Gaznawi dan Saljuk. Mobilitas dan ancaman kaum pengembara ini benar-benar melumpuh­kan kekuasaan Gaznawi di bagian utara. Kemudian munculnya orang-orang Gur se­bagai kekuatan baru yang mengincar wila­yah dinasti Gainawi semakin mendesak kekuasaan Gaznawi. Hal ini juga mengaki­batkan semakin pentingnya posisi Lahore sebagai kota kcdua setelah Gazna (Gaz­nin-i Khurd) bagi penguasa Gaznawi. Ka­renanya sewaktu Gazna dihancurkan (1151/546 H) dan kemudian diambil alih tentara Gur pada 1173 (568 penguasa Gaznawi pun secara penuh pindah ke La­hore dan menjadikannya sebagai pusat pe­merintahan. Namun pada 1187 (583 H) La­hore juga direbut pasukan Gur di bawah Ibnu Sam, sehingga penguasa terakhir di­nasti Gaznawi, Khusraw Malik, terbunuh.

Sebagai penguasa di beberapa wilayah Anak Benua India, dinasti Gaznawi ba­nyak menentukan masa depan Islam di Asia Selatan. Walaupun ekspansi mereka tak jauh berbeda dengan capaian pasukan­pasukan Umawi, orang-orang Gaznawi mampu mendirikan pemerintahan yang populer, dan relatif stabil untuk hampir dua abad. Yang lebih penting upaya ke­lompok Gaznawi ini kemudian diikuti oleh orang-orang Gur dan budak-budak Turki mereka yang akhirnya menjadi ci­kal Bakal bagi dinasti-dinasti muslim di Anak Benua India.

 

Advertisement