Advertisement

Gaus atau Qutub adalah istilah da­lam tasawuf yang berkaitan erat dengan masalah kewalian (al-wirayat). Para wali (auliyd ), dalam pandangan kaum sufi, me­miliki kekuasaan rohani yang bertingkat­tingkat, yang kalau digambarkan akan ber­bentuk seperti piramida. Tingkatan terba­wah diduduki oleh para wali biasa yang tersembunyi, mereka bcrjumlah empat ri­bu orang. Tingkatan berikutnya diduduki oleh para akhyar (orang-orang balk) yang berjumlah tiga ratus orang. Tingkatan se­lanjutnya diduduki oleh para abdal (peng­ganti-pengganti) yang bcrjumlah empat puluh orang. Tingkatan seterusnya didu­duki oleh para abrar (orang-orang saleh) yang berjumlah tujuh orang. Tingkatan di atasnya diduduki oleh empat orang autad (tiang-tiang). Tingkatan kemudiannya di­duduki oleh tiga orang nuqabd’ (penggan­ti-pengganti). Dan tingkatan tertinggi di­duduki oleh seorang gauS (penolong) atau qutub (poros).

Siapa sebenarnya dan bagaimana karak­teristik gaus atau qutub itu, di kalangan para sufi sendiri, tidak ada rumusan yang jelas. Bagi kalangan kaum Syi`ah gaus atau qutub itu identik dengan para imam mere­ka. Bagi Ibnu Arabi gaus atau qutub itu mengacu pada konsep realitas Muhammad (haqiqat Muhammadiyat). (Lihat artikel Nur Muhammad atau Insan Kamil). Se­dangkan dalam teosofi Iran gaus atau qu­tub itu menempati kedudukan Sarosh, malaikat Zoroaster yang patuh, yang ber­tugaa mendengarkan dan memberikan il­ham;. yang dalam mitologi sufi disebut Jibril atau Israfil, yang oleh Iqbal sering disebutsebut dalam sajak-sajaknya.

Advertisement

Advertisement
Filed under : Review,