Advertisement

Ganimah, satu istilah bagi harta rampas­an yang diperoleh lewat peperangan. Isti­lah ini sudah dikenal suku-suku Arab sebe­lum Islam. Harta yang.langsung diperoleh di medan perang disebut ganimah sedang sekaliannya fai’. Perolehan ini dibagi-bagi menjadi lima atau empat bagian. Pemim­pin suku (syaikh al-qabilah) yang menge­palai pasukan menerima satu bagian, plus barang-barang pilihan (safclydlsaffyah ) lainnya. Al-Quran (8:41) secara jelas mengatur bahwa ganimah dibagi menjadi lima bagian; satu bagian (khums) diperun­tukkan buat Allah, “Rasulullah, kelual-ga­nya, yatim piatu, orang-orang miskin dan musafir.” Sisanya, sebagaimana scbclum Islam, dibagi di antara mereka yang terjun ke medan perang.

Namun dalam perkembangan selanjut­nya timbul spesifikasi istilah untuk mem­bedakan antara dacrah yang ditundukkan lewat peperangan dandaerah yang menye­rah secara damai. Ganimah dipakai sebagai istilah untuk mengidentifisir harta rampas­an lewat peperangan dan fai’ sebagai dae­rah (baca: tanah) yang menyerah secara damai. Tanah far menjadi milik Nabi, se­perti tanah Bani Nadir, Fadak dan Khai­bar. Di antaranya atas dasar rujukan inilah kemungkinan Umar akhirnya berpendapat bahwa semua tanah adalah milik khalifah untuk kepentingan umat. Kalau sebelum­nya tanah sebagai ganimah dibagi-bagi di antara anggota pasukan Islam, maka mini­mal pada masa Umar semua tanah, ideal­nya, adalah milik khalifah. Mereka yang mengerjakan harus membayar “pajak” (kharaj atau ‘usyr) kepada khalifah untuk dimanfaatkan demi kepentingan kaum muslimin. Kendatipun demikian makna ganimah yang orisinil tetap dipertahankan hampir sepanjang masa pemerintahan penguasa-penguasa muslim di Zaman Per­tengahan, bahkan setelah para penguasa tersebut memperkenalkan sistem pengga­jian tetap bagi anggota pasukan. Bagaima­napun beragamnya kebijaksanaan para penguasa awal muslim terhadap sistem pembagian harta rampasan termasuk ta­nah telah mengakibatkan perbedaan sis­tematisasi yang dikembangkan para fUqa­ha” mengcnai masalah harta rampasan (ganimah atau far).

Advertisement

 

 

Advertisement