Advertisement

Gailan bin Marwan (Muslim) ad-Dimasy­qi, seorang tokoh pemikir dan kritik sosial yang muncul di masa akhir khilafah Uma­wiyah. Ayahnya adalah budak khalifah Usman yang kemudian memperoleh ke­merdekaan. Memang Gailan juga digelari “berkebangsaan Mesir” (al-Qibti). Sebe­lum ia memperkenalkan ide-idenya yang kontroversial, Gailan memang telah beker­ja sebagai sekretaris pada administrasi Umawi di Damaskus. Meskipun ia sering dikategorikan sebagai orang terpenting dan paling awal, di samping Matad al­Juhani dan Ja`d bin Dirham, dalam membidani paham Qadariyah, Gailan juga berperan aktif dalam mengoreksi tindak­an-tindakan clan kebijaksanaan penguasa Umawi.

Kritikan dan pendapat Gailan ditang­gapi secara serius oleh para khalifah. Ber­samaan dengan upaya Umar bin Abdul Aziz untuk membenahi pemerintahan Umawi (717/99 H-720/101 H), Gailan mengajukan usul agar khalifah menerus­kan usaha reformnya, termasuk doktrin tentang kemampuan manusia (qudrah) un­tuk menentukan tindakannya sendiri. Ke­lihatannya Umar mampu membungkam Gailan untuk tidak mempopulerkan ide­idenya, tentunya berdasarkan kenyataan bahwa Umar cukup serius dan konsisten meluruskan jalan pemerintahan Umawi. Namun pada masa pemerintahan Hisyam (724/105 H-743/125 H), Gailan semakin mendapatkan pengikut sehingga dianggap mengancam terhadap posisi khalifah yang semakin rawan. Memang pada masa akhir pemerintahan Hisyam, dinasti Umawi di­hadapkan bukan hanya pada krisis politik dan pemberontakan melainkan juga pada krisis “idiologi” dan raison d’etat dengan munculnya gerakan-gerakan alternatif ter­masuk Syi`isme dan Abbasisme. Justru. da­lam konteks inilah dapat dipahami kenapa figur-figur semacam Gailan dan Jed bin Dirham dikejar-kejar kemudian dieksekusi serta para pengikut mereka diasingkari ke sebuah pulau terisolir Dahlak di Laut Me-rah. Menurut satu sumber, berkenaan de­ngan konsep kekuasaan Gailan dan para pengikutnya berpendapat bahwa: “Adalah sah jika pemimpin umat (imam) berasal dari keturunan Quraisy dan keturunan-ke­turunan yang lain, baik Arab maupun non-Arab (`ajam). Syarat utama bagi se­orang imam adalah ia harus twat beragama dan saleh, memahami kandungan al-Quran dan Sunah, bertindak hanya atas dasar kedua sumber tersebut, dan ia haruslah ca­lon terbaik (afdal an-nas) menurut pertim­bangan orang-orang yang berhak mengang­kat imam. Orang-orang ini tidak dituntut untuk menganugerahkan kekuasaan

Advertisement

mah ) kepada calon terbaik di mata Tuhan, tetapi mereka harus memberikannya kepa­da seorang yang berdasarkan ilmu dan tingkah lakunya dapat dianggap sebagai kandidat terbaik . . . Allah mewajibkan kepada calon yang terpilih untuk meneri­ma kekuasaan yang telah dilimpahkan ke­padanya, dan Allah mewajibkan kepada seluruh umat untuk tidak memindahkan kekuasaan tcrsebut kepada orang lain, se­bab ia adalah calon yang terbaik berdasar­kan kriteria ilmu dan tingkah lakunya

Seandainya orang-orang Quraisy menun­jukkan kesewenang-wenangan, menyalah­gunakan kekuasaan dan merendahkan hal­hal yang suci, Allah mewajibkan kepada umat untuk bangkit melawan dan me­nyingkirkan mereka.”

Dengan berbckal ide-ide yang sedemiki­an, tak mengherankan jika akhirnya para pengikut Gailan (Gailaniyah) memenang­kan dukungan bukan hanya di antara kaum oposan tetapi juga di antara tokoh­tokoh Umawi yang ingin melaksanakan reform. Walid bin Yazid 11 yang menggan­tikan Hisyam harus mengakhiri kekuasaan yang baru dinikmatinya kepada suadara­saudara sepupunya di bawah Yazid III yang kelihatannya menjadi pengamat ajar-an Gailan. Memang Yazid III memimpin pemberontakan melawan khalifah Walid dan membunuhnya pada 743 (125 H) de­ngan casus belli guna mengakhiri rezim yang korup dan menegakkan sebuah pe­merintahan di bawah “pemimpin yang terbaik”. Kendatipun Yazid III (w. 744/ 126 H) gagal memenuhi janjinya sendiri dan juga aspirasi kelompok Gailan, is te­lah membuktikan efektifitas koreksi dan kritik yang pernah dipopulerkan Gailan.

 

Advertisement