Advertisement

Gaib berarti yang tersembunyi (tidak berada dalam jangkauan pancaindra la­hiyiah manusia). Kata gaib ini dapat di­junipai berpuluh-puluh kali dalam al­Quran, dan sering muncul beriringan de­ngarvilawannya, syahadat, yang berarti se­suatu yang dapat disaksikan. Tuhan dalam al-Quran sering dinyatakan sebagai Yang Mengetahui yang gaib dan syahadah algaib wa asysyahadat).

Gaib kadang-kadang digunakan dalam arti sesuatu yang abstrak, yang bersifat ro­haniah (imatcri). Gaib dalam pengertian begini dapat juga disebut gaib mutlak, se­lamanya tersembunyi dari jangkauan pan­caindra jasmani manusia, karena pancain­dra itu tidak mempunyai kemampuan un­tuk menjangkaunya. Termasuk kepada gaib mutlak ini adalah Tuhan, para malai­kat, para arwah manusia, dan jin/setan/ iblis. Bagi sebagian ulama Islam (para los of muslim dan kebanyakan para sufi), akhirat termasuk gaib mutlak; ia dipan­dang alam rohaniah, alam bagi para arwah manusia, yang telah berpisah dari kehi­dupan yang bersifat jasmani. Dengan kata lain manusia-manusia yang telah menga­lami kematian, berarti arwah mereka telah berada di akhirat, baik dalam keadaan ber­bahagia (dalam surga) atau dalam keadaan menderita (dalam neraka).

Advertisement

Kata algaib dalam ungkapan “orang­orang yang beriman dengan algaib”, da­lam al-Quran 2:3, jelas mengacu kepada sesuatu yang abstrak (gaib mutlak), dan sesuai dengan perincian rukun iman, kata gaib tersebut mengacu kepada Tuhan, pa- ra malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para na­bi atau rasul-Nya, dan hari akhirat, (ke­wahyuan kitab suci dan kenabian atau ke­rasulan para nabi/rasul termasuk perkara gaib-mutlak!).

Kata gaib juga sering digunakan bukan dengan pengertian tersembunyi karena ia bersifat rohani (abstrak). Semua wujud materi, yang dapat ditangkap oleh panca­indra lahir manusia, dapat juga disebut gaib, tatkala ia sedang tersembunyi atau berada di tempat yang jauh schingga tidak teramati atau tidak terdeteksi oleh per­alatan teknologi yang digunakan manusia. Gaib begini disebut juga gaib relatif. Swa­mi yang hidup berjauhan dari istrinya, ka­rena ia sedang merantau (misalnya), dapat disebut gaib dan istrinya, begitu pula istri­nya gaib dari suaminya (lihat al-Quran 4: 34). Orang yang berbuat sesuatu dengan sembunyi (tanpa disaksikan oleh orang lain), orang itu dapat disebut berada da­lam kegaiban (al-Quran 5:94).

Menurut kaum sufi, gaib yang mengacu kepada wujud-wujud rohani, memang ti­dak dapat disaksikan oleh pancaindra lahir manusia, tapi dapat disaksikan oleh mata hati atau mata rohani manusia, asal saja ti­rai-tirai yang membatasi mata rohani itu dengan wujud imateri tersebut telah dapat dilenyapkan. Bila tirai-tirai itu telah dapat dilenyapkan oleh seseorang melalui latih­an rohaniah tertentu, maka yang gaib mutlak itu tidak lagi gaib bagi mata batin­nya.

Tuhan sebagai Zat yang maha mengeta­hui, mengetahui yang gaib dan yang syahadah, memang gaib (tersembunyi) dari jangkauan pancaindra lahiriah manusia, tapi ia bukanlah gaib (bukanlah tidak Na­dir) dari penyaksian terhadap apa saja yang terjadi, termasuk apa yang dilakukan oleh manusia, di manapun ia melakukan­nya (al-Quran 7:7).

Advertisement