Advertisement

Firasat umumnya dipahami sebagai ke­mampuan batin yang dimiliki seseorang membaca keadaan atau pdristiwa yang akan terjadi. Istilah ini pada awalnya di­pergunakan dalam bidang tasawuf. Di ka­langan para sufi firasat mengandung arti anugerah Tuhan berbentuk kemampuan rasa (alqalb) menangkap isyarat-isyarat suatu keadaan atau peristiwa yang akan terjadi. Di dalam al-Quran sendiri kata fl­rasat tidaklah dijumpai. Tetapi di dalam banyak literatur tasawuf, kata tersebut disinonimkan dengan kata simcr (kelihat­an) dalam al-Qur’an, seperti yang terdapat dalam surat al-Hijr: 75, surat Muham­mad: 30 dan surat al-Fath: 29. Sebuah hadis Rasulullah menjelaskan firasat ini dengan mengatakan: “Ittaqt7 firasat al­mu`min fa innahu yanzur binarillah” (Ber-

jaga-jaga terhadap firasat orang muk­min, sesungguhnya ia melihat dengan ca­cahaya Allah). Dan juga hadis Nabi: “Inna hu syay’un yaqzifuhu AlMh fi quMbhihim wa `ard alsinatihim” (Sesungguhnya ia ada­lah sesuatu yang dituangkan Allah ke da­lam hati dan lidah mereka).

Advertisement

Ada dua bentuk firasat. Pertama firasat dalam bentuk kesadaran yang dianugerah­kan Tuhan kepada seorang sufi sehingga ia mempunyai kekuatan rohaniah. Kedua fl­rasat dalam bentuk akhlak atau tindakan sebagai hasil dari latihan yang terus mene­rus dari seorang sufi, seperti melakukan sesuatu atau mengucapkan sesuatu secara serta merta, semacam gerak reflek dalam diri manusia biasa. Gerakan serta merta ini biasanya muncul dalam bentuk tindakan seseorang yang tiba-tiba untuk menyela­matkan diri atau menyelamatkan orang lain dari mara bahaya yang akan menimpa.

Sebagai contoh dapat disebut apa yang ditulis Hamka dalam bukunya Pelajaran Agama Islam.

Di ketika suasana revolusi fisik di Mi­nangkabau ia pernah satu kali mendengar suara: “Sebelum pukul delapan pagi lekas berangkat.” Suara tersebut terngiang di telinganya. la mencoba membuka mata, suara tersebut terngiang kembali. Ia coba memicingkan matanya namun suara itu datang lagi: “Sebelum pukul delapan pagi lekas berangkat.” Kepada kawan-kawan seperjuangannya Hamka menyampaikan bahwa pagi-pagi sebelum pukul tujuh me­reka harus sudah berangkat meninggalkan tempat. Keesokan harinya mereka berang­kat sebelum pukul tujuh, melalui pema­tang sawah di tengah ngarai. Tiba-tiba ter­dengar suara mortir berdentum dan bertu­bi-tubi menghantam dangau tempat mere­ka menginap sebelumnya. Hari ketika itu kira-kira pukul delapan.

 

Advertisement