Advertisement

Fikih menurut bahasa ialah pemahaman. Orang Arab biasa menggunakan kata terse­but pada pemahaman yang mendalam ten­tang sesuatu hal yang rumit. Dalam al­Quran, kata tersebut atau yang berakar darinya digunakan untuk menyatakan ke­cerdasan otak seseorang dalam memahami aspek-aspek agama. lli antara pemakaian­nya untuk pengertian tersebut, firman Allah yang berbunyi li yatafaqqahu fi ad­din (agar mereka melakukan pemahaman dalam agama). Sesuai dengan pengertian tersebut, pada awal Islam kata fikih tidak saja khusus pada pemahaman masalah hu­kum Islam, tetapi mencakup semua aspek keislam Rasulullah sendiri mengarti­annya pada pemahaman agama secara umum. Doanya untuk Abdullah bin Abbas yang berbunyi Allahumma Faqqih hu IT ad-Din (Ya Allah, berikan ia pema­haman dalam agama), jclas bukan dimak­sudkannya pemahaman dalam bidang hu­kum saja. Para sahabat yang terkenal se­ring menggunakan kecerdasan pikiran da­lam memecahkan persoalan disebut fuqa­ha. Umar bin Khattab, khalifah kedua itu, dikenal sebagai seorang yang melebihi pa­ra sahabat lain dalam fikih, yakni kecer­dasan dalam mengatasi persoalan hukum dan pemerintahan. Abu Hanifah (w. 50 H) masih memakai kata tersebut da­lam pengertian umum. Bukunya yang ber­nama al-Fiqh al-Akbar itu membahas ma­salah ketuhanan, kenabian dan lain-lain.

Mkih, seperti dicatat oleh Ahmad Ha­san dalam bukunya The Early Develop­ment of Islamic Jurisprudence (terjemah­annya: Pintu Ijtihad sebclum Tcrtutup), belum tcrpisah dari ilmu-ilmu keislaman lainnya sampai masa al-Ma’mun (w. 218 H). Sampai abad kedua Hijrah fikih rnen­cakup masalah-masalah teologi dan masa­lah-masalah hukum. Ia terpisah dari ilmu teologi, tegas Hasan, adalah pada waktu ilmu kalam diperkenalkan pertama kali­nya oleh kaum Mu`tazilah sebagai ilmu yang tersendiri, ketika karya-karya falsafat Yuriani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa al-Ma`mun. Scbelum isti­lah fikih mencakup persoalan-persoalan dalam ilmu tersebut.

Advertisement

Pada periode berikutnya pengertian fikih menyempit, ia didefinisikan oleh para ahli usul-fikih dengan pengetahuan tentang hu­kum yang menyangkut perbuatan yang di­gali dari dalil-dalilnya yang terinci. Dari pengertian itu dapat dipahami bahwa fikih adalah hukum yang dihasilkan oleh pikir­an atau ijtihad manusia, yang dilandaskan atas            agama: al-Quran dan sunnah. Oleh karena ia adalah hasil pemikiran manusia, Allah tidak boleh disebut faqih (ahli fikih), karena hukum-hukum yang diturunkan-Nya bukanlah berdasarkan pe­mikiran. Dari itu orang membedakan an­tara fikih dengan syariat. Syariat adalah sesuatu yang secara jclas diturunkan dari Allah, sedang fikih adalah sesuatu pema­haman manusia atas dalil-dalil yang untuk melaksanakannya memerlukan pemaham­an manusia. Syariat bersifat mutlak kebe­narannya. Oleh sebab itu ia tidak berubah dan tidak boleh diubah. Sedangkan fikih, olah karena ia dalah pemahaman manusia terhadap dalil-dalil itu, kebenarannya rela­tif dan bisa berubah. Demikianlah fikih akhirnya diartikan dan begitu pula kenya­taannya dalam scjarah. Umar bin Khattab, pada waktu seseorang menyatakan bahwa fatwanya adalah syariat Allah, dengan te­gas ia membantah, katakanlah bahwa itu pendapat Umar, jika ia benar, adalah da­tang dari Allah, dan jika ia salah, adalah datang dari Umar dan dari setan. Pada suatu peristiwa, Umar, khalifah kedua ini memutuskan hukum dalam suatu perkara, dengan putusan yang berbeda dengan pu­tusan sebelumnya dalam kasus yang sama. Waktu ia ditanya mengapa hal itu bisa ter­jadi, ia menjawab, “Putusanku yang dulu itu adalah hasil ijtihadku yang dulu, dan putusanku yang sekarang adalah hasil ijti­hadku yang sekarang.” Contoh-contoh di atas mengisyaratkan bahwa sahabat seba­gai contoh dalam menafsirkan dan me­ngembangkan prinsip-prinsip aI-Quran dan sunnah, tidak menghendaki agar hasil-hasil ijtihad seorang mujtahid yang kemudian disebut fikih itu untuk dipakai sec.ara mutlak buat periode-periode berikutnya. Hal itu pula yang membuat sebagian para tabiin merasa keberatan fatwa-fatwanya untuk dituliskan, sebagai tergambar da­lam bantahan Jabir bin Zaid (w. 93 H), di kala ia mengetahui ada scorang yang hendak menuliskan fatwa-fatwanya, ia membantah: Apakah ia hendak mengabdi­kan (membukukan) fatwa-fatwaku, pada­hal besok barangkali ijtihadku akan ber­ubah.” Perubahan itu tidak mengurangi keterkaitan umat Islam dengan al-Quran dan sunnah, karena perubahan itu hanya menyangkut dengan penafsiran ayat-ayat yang membutuhkan penafsiran. Justru ke­terkaitan umat Islam dengan al-Quran dan sunnah, para ulama sampai masa ke­emasan Islam telah menumpahkan tenaga­nya dalam menjembatani antara perkem­bangan sosial dengan kehendak wahyu, dan oleh karena penafsiran itu diserahkan kepada manusia, maka wajarlah kalau ha­silnya akan berbeda-beda, sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengetahuan yang masing-masing mujtahid memiliki. Hasil-hasil ijtihad yang berbeda-beda itu pada gilirannya dikenal dengan mazhab­mazhab filcih. Jadi fikih dipakaikan kepa­da hasil-hasil ijtihad mujtahid, dan dengan itu fikih adalah suatu hukum Islam yang bercirikan intelektual manusia. Oleh sebab itu ia bisa berubah dan boleh diubah.

Perlu dicatat, bahwa yang tertulis da­lam kitab-kitab fikih yang sampai kepa­da kita sekarang, tidak semuanya yang berupa hasil ijtihad mujtahid, tetapi se­bagiannya adalah hukum-hukum yang se­cara jelas ditunjuk oleh al-Quran dan ha­dis, yang oleh para mujtahid terdahulu telah diterjemahkan ke dalam susunan kata hukum. Oleh karena sebagian penga­rangnya tidak lagi menyebutkan dalil-da­lilnya, sulit bagi yang bukan ahlinya un­tuk membedakan antara keduanya.

 

Advertisement