Advertisement

Fana dan Baqa (fana’ dan baqa”) ada­lah dua kata yang ‘mempunyai pengertian yang bertentangan. Menurut bahasa, fana berarti hancur, hilang, sirna, atau lenyap; sedang baqa berarti sebaliknya, yakni: te­tap ada, ada terus, tidak hilang, tidak han­cur, tidak sirna, atau tidak lenyap. Kedua kata ini menjadi bahan perbincangan da­lam teologi Islam dan tasawuf.

Teologi Islam membicarakan fana dan baqa dalam kaitannya dengan keberadaan Tuhan dan segenap alam ciptaan-Nya. Ber­kenaan dengan itu terdapat dua kecende­rungan pendirian sebagai berikut:

Advertisement

Pendirian pertama menyatakan bahwa hanya Allah satu-satunya yang bersifat ba­qa, dengan pengertian ada selamanya, tan-pa kesudahan, sebagaimana halnya Ia satu­satunya yang bersifat qidam (ada sejak du­lu, tanpa permulaan); sedangkan segenap ciptaan-Nya (segenarf alam) tidak bersifat baqa, tapi fana saja, dengan pengertian bahwa keberadaannya mempunyai kesu­dahan; alam akan hancur menjadi tidak ada, sebagaimana halnya is pernah tidak ada, kemudian baru ada setelah diciptakan Tuhan. Pendirian ini merupakan satu ben­tuk pemahaman terhadap ayat al-Quran, yang menyatakan bahwa segala sesuatu pasti hancur, kecuali diri-Nya (28:88) dan ayat yang menyebutkan bahwa siapa yang ada di bumi akan fana (hancur), dan akan tetap ada (kekal) zat Tuhanmu yang me­miliki kebesaran dan kemuliaan (55:26­27).

Pendirian kedua juga rnemandang bah­wa Allah bersifat baqa (tetap ada, tanpa akhir) dan tidak akan mengalami kefanaan dalam pengertian apa pun. Ia bersifat de­mikian, sebagaimana halnya juga bersifat qidam (dahulu tanpa pernah didahului oleh tiada). Selanjutnya, menurut pendiri­an kedua ini, segenap alam, kendati dicip­takan oleh Tuhan, tidaklah keberadaannya didahului oleh tiada dan tidak pula akan berakhir menjadi tiada. Justru karena di­ciptakan oleh Tuhan yang bersifat qidam dan baqa, dan justru karena Ia selamanya mencipta, maka segenap alam ciptaan-Nya juga dari segi waktu bersifat qidam (ada “sejak” Tuhan ada) dan baqa (tetap ada, tanpa kesudahan). Sebagaimana dimak­lumi, alam itu terbagi dua, yaitu alam ima­teri dan alam jisim yang tersusun dari unsur-unsur materi. Menurut pendirian kedua ini, hanya alam jisim yang tersusun dari unsur-unsur materi itu yang meng­alami kefanaan, tapi itu hanya dengan pe­ngertian hancur bercerai-berai, tidak de­ngan pengertian lenyap menjadi tidak ada sama sekali. Bumi ini misalnya bisa meng­alami kefanaan, yakni hancur lebur men­jadi debu yang beterbangan; demikian ju­ga dengan benda-benda langit yang tersu­sun dari materi. Fana di sini dapat dipa­harni sebagai satu bentuk perubahan. Materi-materi dengan bentuk tertentu ber­ubah menjadi berbentuk yang lain. Kalau pun materi mengalami kefanaan (hancur), sehingga tidak bisa diamati oleh indera lagi, maka paling jauh hal itu dipahami sebagai perubahan materi menjadi sesuatu yang imateri, bukan lenyap menjadi tiada (nothingradam).

Fana dan baqa menjadi perbincangan pula di kalangan para sufi sejak abad ke­9 (ke-3 H) setelah sufi terkemuka, Abu Yazid al-Bistami (w. 875/261 H) meng­alami dan berbicara tentang fana dan ba­qa. la pernah berkata antara lain: “Aku mengctahui Tuhan melalui diriku, sampai aku fana; kemudian akumengetahui-Nya melalui diri-Nya, maka aku hidup terus.” “Ia telah membuat aku gila pada diriku sampai aku matt; kemudian Ia membuat aku gila pada-Nya, dan aku pun hidup . . .; gila pada diriku adalah kefanaan dan gila pada-Mu adalah kebaqaan”. “Seorang arif fana dirinya karena din Dia.” “Yang Ma-ha Besar adalah cermin diriku, karena Dia lah yang berbicara dengan memakai li­dahku; ada pun aku, sungguh telah Fana.”

Agar tidak timbul salah paham tentang pengertian fana dan baqa, maka para sufi yang hidup sesudah Abu Yazid al-Bistami, berupaya memberikan berbagai macam penjelasan atau ulasan, sehingga tergambar bahwa fana dan baqa dalam tasawuf itu bertingkat-tingkat. Disebutkan bahwa bila seseorang fana dari sifat-sifat tercela, maka itu berarti ia jauh dari sifat-sifat tersebut, atau dengan kata lain : sifat-sifat tercela itu telah lenyap dari dirinya; dengan demi­kian berarti pula ia baqa (tetap, ada) de­ngan sifat-sifat terpuji. Bila ia fana dari si­kap durhaka, itu berarti ia sudah jauh dari sifat tersebut, atau sikap durhaka itu telah sirna dari dirinya; dengan demikian berarti pula ia baqa (tetap ada) dengan sikap taat.

Fana dan baqa tingkat tertinggi dalam tasawuf bisa terjadi, bila calon sufi meng­alami terbukanya higb (tabir), sehingga ia dapat menyaksikan dengan mata batinnya keindahan Tuhan dan amat terpesona. Bi­la wanita-wanita bangsawan Mesir sangat terpesona, ketika melihat wajah Nabi Yu­suf, sehingga tidak merasakan bahwa ta­ngan-tangan mereka telah tersayat-sayat oleh pisau, maka dapat dipahami bahwa sufi yang terpesona melihat keindahan Tuhan, tidak lagi menyadari apa saja se-lain Tuhan. Dalam keadaan demikian, sufi itu dikatakan fana .dari segenap alam, ter­masuk dirinya, dan baqa bersama Tuhan. Dirinya dan alam semesta ini tentu saja te­tap ada, tapi sudah fana (lenyap) dari ke­sadaran si sufi; yang tetap ada dalam kesa­darannya hanyalah Allah. Fana dan baqa tingkat tertinggi ini hanya berlangsung se­saat atau beberapa saat. Setelah itu sufi itu kembali kepada keadaan sebelumnya: ia kembali menyadari dirinya dan alam di sekitamya.

Advertisement