Advertisement

Falsafat Islam adalah istilah yang mengacu kepada pemikiran-pemikiran fal­safi yang ditulis oleh para filosof muslim, seperti al-Kindi, ar-Razi, al-Farabi, Ibnu Maskawaih dan Ibnu Sina di dunia Islam belahan timur, serta Ibnu Bajah, Ibnu Tu­fail, dan Ibnu Rusyd di dunia Islam belah­an barat. Mereka disebut para filosof mus­lin, karena mereka adalah pribadi-pribadi muslim yang, setelah mempelajari ilmu­ilmu keislaman, lebih mencurahkan perha­tian kepada pemikiran falsafi. Mereka mempelajari dan mengembayigkan pemi­kiran falsafi, tidak dalam rangka untuk berteologi (menjelaskan, memperkuat, atau membela akidah-akidah Islam) seper­ti yang dilakukan oleh sebagian muta­kallim (teolog muslim), tapi demi mencari kebenaran dan mengamalkannya.

Falsafat Islam mulai muncul bersamaan dengan munculnya filosof muslim perta­ma, al-Kindi, pada pertengahan abad ke-9 H (parohan pertama abad ke-3 H), setelah berlangsung gerakan penerjemahan buku­buku ilmu dan falsafat Yunani (pada umumnya) ke dalam bahasa Arab lebih dari setengah abad di Bagdad. Kendati mendapat tantangan dan sebagian ulama, falsafat Islam mencapai puncaknya di ta­ngan al-Farabi dan Ibnu Sina (abad ke-4 dan 5 H). Kedua tokoh itu merupakan dua bintang terkemuka falsafat Islam, se­dangkan tokoh-tokoh lain dapat dipan­dang sebagai satelit-satelitnya. Setelah wa­fat Ibnu Rusyd (1198/595 H) yang me­nulis buku khusus (Tahlifut at-Talifut) bagi pembelaan terhadap falsafat Islam da­ri serangan al-Gazali, falsafat Islam tidak lagi memperoleh perhatian orang di dunia Islam Sunni, sedangkan dunia Islam Syi`i masih mampu melahirkan filosof besar seperti •Mulla Sadra (w. 1640/1050 H). Perhatian kepada falsafat Islam bare bang-kit dan berkembang kembali di dunia Is­lam Sunni, pada satu abad terakhir ini.

Advertisement

Tidaklah benar bahwa para filosof mus­lin lebih mengutamakan atau lebih meng­hargai falsafat yang dihasilkan oleh pemi­kiran akal, dan al-Quran dan Sunnah Na­bi. Seperti bagi para ulama lainnya, bagi para filosof muslim kebenaran al-Quran dan Sunnah Nabi tetap di atas segala-gala­ nya dan tidak dapat diganggu-gagat. Mere­ka tertarik kepada dan membela, falsafat, dari mana pun asalnya, karena mereka me­lihat bahwa upaya falsafat itu adalah upa­ya yang muliar, yang juga dituntut oleh agama, yakni mencari kebenaran dan mengarnalkan kebenaran itu. Mereka meli­hat bahwa dalam al-Quran atau Sunnah Nabi ada suruhan agar umat manusia ini membaca, memperhatikan dan meneliti apa saja gejala yang tampak, merenung dan mengambil (melakukan ana­logi), agar manusia ini mendapatkan ke­benaran tentang wujud yang tampak dan yang tidak tampak; suruhan demikian, bagi mereka, mengandung arti bahwa al­Quran atau pun Sunnah Nabi menyuruh umat Islam untuk berfalsafat atau mem­pelajari falsafat, dan suruhan itu paling kurang mengandung arti sunnah, bila bu­kan wajib. Itulah antara lain sebabnya mengapa mereka tidak ragu-ragu mempe­lajari falsafat dari para filosof Yunani, seperti Plato, Aristoteles, Plotinus, dan lain-lain. Para filosof muslim merasa ter­dorong oleh al-Quran dan Sunnah Nabi, dan sekaligus dapat memungsikan kedua­nya sebagai checking point atau filter terhadap pemikiran-pemikiran falsafi yang dipelajari. Bila pemikiran-pemikiran falsafi yang dipelajari itu, menurut penilaian me­reka, tidak bertentangan dengan ajaran al­Quran dan Sunnah Nabi, tentu pemikiran tersebut diterima dengan baik; bila berten­tangan, tentu mereka tolak, atau mereka kembangkan sedemikain rupa, sehingga ti­dak lagi .bertentangan dengan ajaran al-. Quran dan Sunnah Nabi. Dengan demiki­an tidaklah benar anggapan bahwa falsafat Islam itu hanyalah falsafat Yunani, yang diberi bungkus dan sebutan falsafat Islam. Yang benar adalah bahwa falsafat Yunani dan falsafat lainnya telah dipelajari, di­olah, dan dikembangkan oleh para filosof muslim sedemikian rupa, sehingga menu-rut keyakinan mereka hasil olahan dan pengembangan itu sudah selaras atau tidak bertentangan dengan ajaran al-Quran dan Sunnah, dan itu memang sudah sepantas­nya disebut falsafat Islam atau falsafat da­lam Islam, bukan di luar Islam.

Persoalan-persoalan yang dibahas dalam falsafat Islam, yang terpenting di antara­nya adalah: persoalan akal dan wahyu (atau hubungan falsafat dengan agama), persoalan timbulnya yang banyak (alam) dari yang Mahasatu (Tuhan), yang disebut juga masalah kejadian alam, persoalan roh manusia dan kelanjutan hidup manusia se­telah rohnya terpisah dari badannya.

Di antara pendapat-pendapat yang di­jumpai dalam falsafat Islam, adalah penda­pat bahwa alam ciptaan Tuhan ini bersifat qadim (tidak bermula). Pendapat ini men­dapat sorotan tajam dari pihak ulama, bahkan dikafirkan oleh al-Gazali. Keba­nyakan ulama sering mengatakan bahwa Islam mengajarkan bahwa Tuhan mencip- takan alam ini dari tidak ada menjadi ada, atau dengan kata lain bahwa alam ini pada mulanya tidak ada sama sekali, kemudian baru diciptakan oleh Tuhan. Dengan de­mikian paham bahwa alam itu qadim di­vonis sebagai bertentangan dengan ajaran Islam dan pantas dikafirkan. Ibnu Rusyd telah menjelaskan bahwa ajaran yang di­kemukakan oleh para ulama bahwa Tuhan menciptakan alam dari tidak ada menjadi ada, bukanlah ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi, tapi merupakan pemahaman mere­ka, yang juga perlu disorot. Sebenarnya paham bahwa alam itu qadim tidak ber­tentangan dengan ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi, bahkan sangat logis dan mu­dah memahaminya. Karena Tuhan itu qa­dim dan selamanya mencipta, maka dapat dipahami bahwa alam ini diciptakan sejak qidaml azali oleh Tuhan. Adalah logis bah­wa alam juga qadim.

Advertisement