Advertisement

Faid berarti melimpah atau memancar. Term ini, dalam falsafat Islam, dipakai pertama kali oleh al-Farabi, yang terpe­ngaruh oleh paham emanasi Plotinus, un­tuk menggambarkan hubungan antara Tu­han dengan alam semesta. Al-Farabi, seba­gai filosof muslim, meyakini keterangan al-Quran bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan, namun penciptaan alam itu oleh Tuhan, menurut al-Farabi, bukanlah seperti yang dipahami para teolog, yakni dari tidak ada menjadi ada (min al-`adam ila- atau creatio ex nihilo), tapi penciptaan secara Paid (melimpah, me­mancar, atau emanasi). Baginya, ide bah­wa Tuhan menciptakan alam semesta ini, dipahami dengan pengertian bahwa Ia me­mancarkannya, seperti matahari meman­carkan sinarnya. Memancarnya alam se­mesta itu dari Tuhan adalah sebagai akibat dari aktivitas Tuhan bertteaqqyl (berpikir) tentang diri-Nya, atau dengan kata lain: aktivitas ta’aqqul (berpikirnya) Tuhan me­rupakan aktivitas yang menyebabkan ter­pancarnya atau terciptanya alam semesta.

Bila dalam paham emanasi Plotinus di­nyatakan bahwa dari Yang Esa (Tuhan) melimpah Nous (Akal), dari Nous melim­pah Roh Dunia, dan dari Roh Dunia me­limpah mated dunia ini, maka faid al-Fa­rabi lebih terperinci, karena al-Farabi ber­upaya menyesuaikan paham faignya itu dengan paham kosmologi yang dianut kaum terpelajar pada masa hidupnya.. Pa-ham kosmologi masa itu menggambarkan bahwa kosmos ini terdiri dari: bumi yang terletak di pusat kosmos dan sembilan la­pis langit yang mengelilingi bumi, yaitu: (mulai dari yang terjauh dari bumi) (1) langit pertama, (2) bintang-bintang, (3) Saturnus, (4) Yupiter, (5) Mars, (6) Matahari, (7) Venus, (8) Merkuri, dan (9) Bulan. Sebagai akibat penyesuaian de­ngan paham kosmologi di atas, jadilah teori faid al-Farabi sebagai berikut:

Advertisement

Dan Tuhan, karena memikirkan diri­Nya, memancar Akal I. Dan Akal I, kare­na memikirkan Tuhan, memancar Akal II, dan karena memikirkan diri sendiri, me­mancar langit pertama. Dan Akal II, kare­na memikirkan Tuhan, memancar Akal III, dan karena memikirkan dirinya sendi­ri, memancar bintang-bintang. Dari Akal III, karena memikirkan Tuhan,,memancar Akal IV, dan karena memikirkan dirinya sendiri, memancar Saturnus. Dan Akal IV, karena memikirkan Tuhan, memancar Akal V, dan karena memikirkan dirinya sendiri, memancar Yupiter. Dari Akal V, karena memikirkan Tuhan, memancar Akal VI, dan karena memikirkan dirinya sendiri, memancar Mars. Dari Akal VI, ka­rena memikirkan Tuhan, memancar Akal

  • dan karena memikirkan dirinya sendi­ri, memancar Matahari. Dari Akal VII, ka­rena memikirkan Tuhan, memancar Akal
  • dan karena memikirkan dirinya sen­diri, memancar Venus. Dari Akal VIII, ka­rena memikirkan Tuhan, memancar Akal
  • dan karena memikirkan dirinya sendi­ri,’ memancar Merkuri. Dan Akal IX, kare­na memikirkan Tuhan, memancar Akal
  • dan karena memikirkan dirinya sendiri, memancar Bulan. Dari Akal X, kendati memikirkan Tuhan, tidak lagi memancar Akal yang lain, dan karena memikirkan dirinya, memancar materi asal bumi ini dan juga jiwa-jiwa (untuk tumbuhan, bi­natang, dan manusia).

Ada versi lain dalam tulisan yang dinis­bahkan juga kepada al-Farabi, tentang pancaran dari Akal dan seterusnya. Dika­takan bahwa dari Akal I, karena ia wdjib al-wujud dan mcngetahui Yang Awwal (Tuhan), memancar Akal iI, dan karena ia mumkiri al-wujud dan mengetahui dirinya sendiri, memancar falak (langit) tertinggi, baik materinya maupun bentuknya (jiwa­nya). Begitulah bentuk alasan mengapa memancar Akal-Akal serta materi dan ji­wa-jiwa lelangit yang sembilan (Akal, ka­rena ia wEjib al-wujud dan mengetahui Tu­ han, memancarkan Akal berikutnya, dan karena ia mumkin dan mengeta­hui. dirinya, memancar materi dan jiwa la­ngit yang berada di bawah Akal tersebut).

Dari Ibnu Sina, yang juga menganut pa-ham al-faid seperti yang diajukan al-Fara­bi, juga terdapat dua versi keterangan tentang pancaran dari Akal I dan seterus­nya. Disebutkannya (dalam an-Nagt) bah-dari Akal, karena memikirkan al Awwal (Tuhan), muncul Akal berikutnya, dan karena memikirkan dirinya sendiri, muncul langit dengan jiwa dan tubuhnya. Sedang dalam tulisannya yang lain disc­butkan lebih terperinci bahwa dari Tuhan, karena memikirkan memancar Akal I; dari Akal I, karena memikirkan Tuhan, memancar Akal II, karena memi­kirkan dirinya sebagai wcijib al-wujud, memancar jiwa langit pertama dan karena memikirkan dirinya sebagai mumkin al­wujud, memancar tubuh langit pertama. .ladi menurut versi kedua ini, ada tiga aktivitas dari Akal-Akal yang sepuluh: yaitu, memikirkan Tuhan, memikirkan diri sendiri sebagai wajib al-wujud, dan memikirkan diri sendifi sebagai mumkin al-wujrcd; dari tiga aktivitas ini lahir tiga wujud: Akal, jiwa langit, dan tubuh la­ngit.

Paham pancaran al-Farabi juga dianut oleh Suhrawardi al-Macutul, dengan per­bedaan yang tidak esensil. Suhrawardi menyebut paham pancaran itu “al-isyrdq”, menyebut Tuhan Nicr al-Anwdr (Cahaya segala cahaya), dan menyebut Akal-Akal yang Sepuluh dengan Cahaya-Cahaya yang Sepuluh. Digambarkannya bahwa dari Tu­han, karena memandang meman­car Cahaya 1; dari Cahaya I, karena me­mandang keagungan Tuhan, memancar Cahaya II, dan karena memandang keku­rangan diri sendiri, memancar langit per­tama. Demikianlah seterusnya dua aktivi­tas dari masing-masing Cahaya yang Sepu­luh, dengan pancaran terakhir segala yang ada di bumi ini.

Paham faid atau isyrdq, kendati perinci­annya keliru (karena mengikuti kosmologi yang keliru), masih saja memiliki esensi yang menarik, yang bisa sejalan dengan teori relativitas Einstein.

Advertisement