Advertisement

Duruz (orang-orang Druz), bentuk tung­galnya: Durzi, kelompok etnis atau bang­sa yang tempat tinggalnya terutama di daerah pegunungan Libanon, Anti Liba­non, beberapa tempat di Siria dan Haw-ran. Ras induknya tidak diketahui. Jum­lah mereka pada medio abad ke-20 ini se-

kitar 200.000 orang, bekerja sebagai peta­ni atau tuan tanah. Mereka umumnya pemberani, tetapi karma kecenderungan mereka akan kebebasan berlebih-lebihan dan di samping itu mereka senang akan tindak kekerasan, terutama Druz Hawran, tidak jarang terjadi hal-hal yang negatif sifatnya.

Advertisement

Pemimpinnya biasa disebut Amir atau Hakim. Pernah memiliki dua orang pe­mimpin yang terkenal, Amir Fakhr ud-Din yang namanya menjulang pada abad ke-17 dan Amir Basyir pada abad ke-19. Ketu­runan Fakhr ud-Din yang berasal dari ke­luarga Men memprintah sampai permula­an abad ke-18, kemudian keamiran pindah ke keluarga Syihab, keluarga Amir Basyir.

Keagamaan mereka termasuk sub sekte dari Ismailiyah, yaitu al-Hakimiyyah (dise­but juga al-Batiniyyah) yang bermula pada masa al-Hakim, khalifah dinasti Fati­miyyah (996-1021/386-411 H). Pada waktu khalifah ini mengaku sebagai penjelmaan Tuhan, yang pertama kali mempercayainya bernama ad-Darazi. Sua­tu gerakan didirikan untuk memasyarakat­kan kepercayaan baru ini, gerakan ad­Daraziyyah. Timbul kerusuhan dan pim­pinan gerakan pindah ke tangan Hamzah ibnu Ali dari Iran. Disusunnya hierarki keagamaan berdasarkan atas prinsip-prin­sip pancaran tentang penjelmaan. Perta­ma: al-Hakim, merupakan inkarnasi dari “Yang Satu”, dan satu-satunya yang harus disembah. Atas dasar itu, mereka mena­makan diri ahl at-tauhid atau al-muwahi­dun, unitarian. Kedua: al-Huducj, terdiri dari 5 orang imam agung yang secara hi­erarkis adalah: (1) Hamzah sendiri yang merupakan ketua aliran ini adalah inkar­nasi dari Akal Universal, (2) Ismail ibnu Muhammad at-Tamimi dari Jiwa Universal (an-Nafas al-Kulliyyah), (3) Muhammad ibnu Wahab al-Qurasyi dari Kata

rriah), (4) Salamat ibnu Abdul Wahhab as­Samurri dari Sayap Kanan atau Pendahulu (al-Janjh al-Aiman acv as-S5biq), dan (5) Abuul Hasan Ali dari Sayap Kiri atau Pengikut (al Janesal-Aisar aw at-Tali). Ketiga: Wakil-wakil atau kepala-kepala ke­lompok yang derajatnya di bawah 5 orang imam agung yang urutannya menurut de rajat adalah: (1) ad-den (juru dakwah), jel­maan dari jidd (usaha), (2) al-ma’dzun (khatib) dari al-fdtih (pembuka) dan (3) al-mukasir (pembujuk dari khayal (fantasi). Di bawah ini semua adalah para pengikut. Semua hierarki ini yang perlu diperhatikan bukan individu tempat ber­langsungnya penjelmaan, tetapi hidup lestarinya dasar ajaran.

Dasar ajaran yang harus ditaati tersim­pul dalam 7 butir aturan yang dapat disa­makan dengan rukun Islam bagi Ahli Sunnah, yaitu: (1) Cinta akan kebenaran, (2) Yang arif wajib menjaga keselamatan orang lain, (3) Meninggalkan keyakinan Druz terdahulu, (4) Menjauhkan diri dari setan dan orang-orang sesat, (5) Meyakini kebenaran ajaran tentang bersatunya Tu­han dalam din manusia (ittihed al-Lahilt bi an-Nasiit) — yang dikehendaki — pada setiap masa, (6) Menerima dengan ikhlas perlakuan al-Hakim — sebagai Tuhan —atas diri mereka, dan (7) Tunduk dan pa­tuh atas iradat-Nya yang tercemin dalam imam-imam-Nya.

Ketika al-Hakim terbunuh di bukit Mu­qattam 1021 (411H), Hamzah meyakin­kan para pengikutnya bahwa Ia tidak mati, melainkan gaib saja untuk menguji ke­imanan mereka dan kelak akan kembali untuk melaksanakan kekuasaan-Nya mela­lui tangan Hamzah. Ketika Hamzah me­ninggal tahun itu juga, keaktifannya di Mesir berangsur-angsur berhenti, tetapi memberikan dasar ideologi bagi pembe­rontakan petani di Siria. Abuul Hasan Ali, yang lebih dikenal dengan sebutan Bahaud-Din al-Muqtana, mengambil alih pimpinan dan bertindak sebagai wakil dari imam yang gaib sampai ia mengundurkan diri 1042 (425 H). Jasanya bagi Druz, ia berhasil menyusun risalah-risalahnya yang setelah dikumpulkan dengan ditambah beberapa risalah dari al-Hakim, Hamzah dan Ismail at-Tamimi sehingga berjumlah 111 risalah, kumpulan tersebut diberi judul “Rasril al-Ifikmat” (Risalah-risalah ten-tang Hikmah) dan kemudian oleh peng­ikutnya dianggap sebagai kitab suci.

Sepeninggal al-Muqtana, mereka meru­pakan masyarakat tert-utup dan tinggal di Wadi Taym Allah dekat gunung Her­mon; sedangkan pengikut dari daerah per­tanian di Siria membentuk masyarakat yang homogen yang dipimpin oleh keluar­ga bangsawan Arab.

Selama masa isolasi yang panjang terse-but, tumbuh tradisi baru yang sangat ber­beda dengan sistem hierarki keagamaan terdahulu yang agaknya tumbuh pada ma­sa hidup Abdullah at-Tanukhi (w. 1480/ 885 H), seorang moralis Druz. Dalam sis­tern baru ini, masyarakat Druz dibagi 2 golongan, `uqcitil (jamak dari i// cerd as) dan Juhha7 (jamak dari fahi//bodoh). Yang pertama: mereka yang sudah ditah­biskan, setia menghadiri kebaktian setiap Jumat, boleh membaca kitab-kitab rahasia berkenaan dengan kepercayaan mereka dan menjadi penuntun bagi golongan ke­dua. Di antara mereka yang terpelajar dan berakhlak baik sehingga mendapat peng­hargaan dari masyarakatnya, disebut syaikh. Syaikh dari keluarga terhormat di daerah tertentu biasanya diangkat sebagai pemimpin (ryas) mereka. Yang kedua: go­longan yang belum ditahbiskan. Mereka dapat naik ke golongan pertama dengan perjuangan dan latihan yang berat.

Meskipun keyakinannya sebagai uni­tarian tetap dipegang teguh, orang Druz rnenerima fikih Hanafi dengan sedikit mo­difikasi. Mereka ikut menyambut hari ra­ya, tetapi ibadat haji dan puasa Ramadan tidak. Golongan awamnya masih memper­cayai reinkarnasi.

Incoming search terms:

  • arti muqtana

Advertisement
Filed under : Review, tags:

Incoming search terms:

  • arti muqtana