Advertisement

Dosa sebuah istilah yang berasal dari ka­langan Hindu, dan telah lazim dipakai oleh umat Islam yang berbahasa Indone­sia, sebagai terjemahan dari sejumlah isti­lah dalam al-Quran, seperti: ism, ianb, wizr, dan lain sebagainya. Secara umum dapat dikatakan bahwa dosa, menurut ajaran Islam, mengacu kepada perbuatan­perbuatan jahat atau buruk, yang dilaku­kan dengan sadar dan tanpa paksaan; juga mengacu kepada akibat jahat atau buruk yang dihasilkan oleh perbuatan tersebut.

Dosa dibicarakan dalam fikih, teologi, dan tasawuf. Dalam fikih, perbuatan biasanya dibagi ke dalam lima kategori, yakni: wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Menurut para fukaha, tidak menger­jakan perbuatan yang wajib atau menger­jakan perbuatan yang haram, berarti me­lakukan perbuatan dosa atau berarti mela­kukan perbuatan yang merighasilkan dosa. Dosa, sebagai akibat buruk atau jahat dari perbuatan buruk atau jahat, menurut ajar-an Islam pasti dirasakan oleh pelakunya. Bila di dunia ini, pelakunya belum merasa­kan akibat buruk atau jahat dari perbuat­an dosa itu, niscaya kelak di hari akhirat pasti ia rasakan sebagai sesuatu yang mem­buatnya menderita atau merasa pahit dan tidak berbahagia. Berdasarkan keterangan al-Quran, siapa yang dosanya lebih berat dari pahala perbuatan baiknya, niscaya akan menderita dalam neraka, sedang bila pahala yang lebih berat dari dosa yang ia lakukan, niscaya ia akan berbahagia dalam surga.

Advertisement

Dalam lapangan teologi Islam, persoal­an dosa besar dalam kaitannya dengan iman menjadi persoalan pertama yang ha­rus dikaji oleh para ulama. Kaum Khawa­rij berkeyakinan bahwa dosa besar, bila di­lakukan oleh seorang mukmin dan ia tidak bertobat dari dosa besarnya itu, menye­babkan ia jatuh ke dalam status kafir, yang kelak akan kekal bertempat di nera­ka. Mayoritas umat dan ulama Islam dari dulu sampai sekarang, menolak pandangan Khawarij tersebut, dan tetap menilai muk­min yang melakukan dosa besar itu seba­gai mukmin, bukan kafir, kendati dengan sebutan mukmin yang berdosa. Menurut golongan mayoritas ini, dosa besar tidak­lah menjatuhkan mukmin menjadi kafir, selama ia masih meyakini keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad. Dosa be­sar yang dilakukan mukmin yang berdosa itu, bila lebih berat dari pahala yang. dapat dilakukannya dan bila tidak diampuni Tuhan, akan menyebabkan pelaku dosa itu masuk neraka dulu, sebelum dimasuk­kan Tuhan ke dalam surga. Bi1a dosa be­sarnya itu diampuni Tuhan, tentu muk­min berdosa itu dapat langsung masuk surga kelak di akhirat. Lain lagi pandang­an Mu`tazilah. Dosa besar yang dilakukan oleh orang yang meyakini keesaan Allah dan kerasulan Muhammad, menurut kaum ini, menjatuhkan posisi pelakunya kepa­da posisi fasik, tapi tidak sampai jatuh ke posisi kafir. Baik kafir maupun fasik, menurut pandangan mereka, akan diazab dengan azab yang kekal di neraka, kendati azab untuk fasik lebih ringan dari azab untuk kafir.

Dalam teologi Islam juga dibicarakan tentang kesucian para malaikat dan para nabi dari melakukan dosa. Umumnya para ulama berpaham bahwa tak ada ma­laikat yang jatuh ke dalam dosa, seperti yang terjadi pada iblis. Mereka juga ber­pendapat bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk berbuat baik atau untuk berbuat dosa, namun para nabi dan rasul Tuhan dianugerahi Tuhan kekuatan jiwa, yang dapat mencegah diri mereka dari ke, jatuhan ke dalam dosa. Para nabi dan ra­sul Tuhan adalah manusia-manusia pilih­an, yang menjadi teladan bagi umat ma­nusia dalam hal mengerjakan kebaikan dan menjauhi dosa. Bila para nabi dan ra­sul memohon magfirah kepada Tuhan, maka itu berarti mereka memohon perlin­dungan agar tetap tidak terjatuh ke dalam dosa, dan terlindung dari malapetaka yang diakibatkan oleh dosa-dosa yang dilaku­kan para musuh mereka. Bila mereka ber­istigfar dari 2ungb mereka, berarti mereka memohon perlindungan kepada” Tuhan agar 2un5b (ketidaksempurnaan, tidak mesti berarti dosa) yang masih saja mere­ka rasakan ada pada diri mereka, tidak menyebabkan mereka jatuh ke dalam do­sa.

Apa yang dipandang sebagai dosa oleh para fukaha dan teolog, juga dipandang dosa oleh para sufi. Para sufi ini meman­dang dosa-dosa itu menjadi hijab (dinding) yang menutup mata batin, sehingga mata batin itu tidak mampu melihat Tuhan dan realitas non-empiris lainnya. Mereka bu­kan saja bertobat dari dosa besar dan ke­cil; tapi juga dari apa •saja yang mereka pandang sebagai kekurangan dan keburuk­an, kendati apa yang mereka pandang se­bagai kekurangan dan keburukan, .bukan lagi keburukan dan kekurangan, menurut ukuran para ulama pada umumnya, tapi keutamaan. Merelp berarti bertobat dari suatu keutamaan untuk mendapatkan ke­utamaan yang lebih tinggi, atau secara ma­tematis .bertobat dari nilai delapan untuk mendapatkan nilai sembilan, dan dari nilai sembilan untuk mendapatkan nilai sepu­luh. Tobat demi tobat berlangsung agar tercapai kesucian hati dari hijab dan de­ngan demikian hati memperoleh makrifah hakiki tentang Tuhan.

Islam menegaskan bahwa tidak ada se­seorang yang memikul dosa, kecuali dosa­nya sendiri.

Kejatuhan Adam ke dalam dosa dan kemudian tobatnya diterima Tuhan, menun­jukkan bahwa setiap manusia memiliki po­tensi untuk jatuh ke dalam dosa, di sam­ping memiliki potensi untuk bisa bertobat dan konsisten dalam ketaatan. Kendati Adam pernah berdosa atau orangtua ber­lumuran dosa, namun setiap anak yang di­lahirkan, lahir dengan kondisi fitrah, se­perti fitrah Adam sebelum jatuh kepada dosa.

Advertisement