Advertisement

Doa (dua’) mengandung arti memohon, meminta, mengundang, memanggil, atau menghimbau. Kata doa itu dapat diguna­kan dengan Tuhan atau manusia sebagai subyeknya, atau sebaliknya sebagai obyeknya.

Doa Tuhan kepada manusia, mengan­dung arti seruan, panggilan, atau ajakan­Nya kepada manusia, agar mereka meng­ikuti jalan hidup yang membawa mereka kepada keselamatan, surga, atau kebaha­giaan. Di dalam al-Quran dapat dijumpai antara lain bahwa Allah menyeru atau mengajak manusia kepada dar as-salrim, “negeri yang sejahtera” (10:25), kepada taman surga dan magfirat, “perlindungan atau kemampunan” (2:221).

Advertisement

Doa manusia kepada Tuhan mengan­dung arti antara lain memohon sesuatu ke­pada-Nya. Menurut ajarah Islam, manusia boleh memohon apa saja kepada Allah, asal saja sesuatu yang dimohon atau di­minta itu termasuk dalam kategori kebaik­an, dan tidak boleh berdoa atau memohon agar kejahatan atau keburukan menimpa dirinya sendiri atau pihak lain.

Mengingat kebaikan yang diharapkan manusia itu berbeda-beda macamnya, ma­ka tidaklah mengherankan bahwa seorang sufi, seperti Rabi`ah Adawiah, tidak meng­harapkan dalam doanya agar cintanya ke­pada Tuhan diterima-Nya dan dibalas pula dengan cinta. Sufi yang lain mengharap­kan dalam doanya agar Tuhan datang dan memperlihatkan kecantikan-Nya. Doa orang kebanyakan tentu lain lagi isinya, lebih Iierorientasi kepada harapan-harapan yang sepadan dengan kebutuhan din me­reka, seperti kesehatan dan mata penghi­dupan yang lebih baik, petunjuk dan jalan keluar dari kesulitan hidup, keampunan dari dosa dan lain sebagainya.

Berdoa kepada Tuhan, seperti memo­hon turunnya hujan pada musim kemarau yang panjang, memohon kesembuhan dan wabah penyakit yang ganas, memohon ke­selamatan ketika kapal yang ditumpangi dihancurkan oleh amukan gelombang laut, dan doa lain semacam itu, dapat menim­bulkan kesan bahwa orang yang berdoa itu sebenarnya mengharapkan terjadinya keajaiban sebagai manifestasi atau akibat bantuan Tuhan kepada orang-orang yang berdoa. Makna dan pentingnya doa menja­di dipersoalkan orang, manakala doa itu dikaitkan dengan kesan-kesan bahwa peristiwa-peristiwa dalam alam ini berlang­sung dalam kerangka hukum sebab-akibat yang teratur dan tertib ; juga bila ia dikait­kan dengan berbagai kenyataan bahwa orang-orang yang tidak berdoa, berhasil juga mendapatkan apa yang diharapkan­nya melalui usaha dan kerja yang benar dan sungguh-sungguh.

Makna dan pentingnya doa memang di­isyaratkan oleh hadis Nabi, yang menegas­kan bahwa doa itu adalah mukhkh al-.`iba­dat (benak atau otak ibadat). Penegasan itu mengandung arti bahwa doa itu adalah unsur yang paling esensial dalam ibadat atau agama; ia haruslah menjadi unsur yang menggerakkan segala macam bentuk ketaatan atau ibadat kepada Tuhan, ter­masuk bekerja keras dengan penuh perhi­tungan, agar harapan yang terkandung da­lam doa itu tercapai. Doa tanpa upaya, se-lama upaya itu masih bisa dijalankan, ti­dak dapat dibenarkan, seperti halnya ti­dak dapat dibenarkan sikap tawakal tan-pa ikhtiar. Selain itu, doa bagi sebagian para ulama dipahami sebagai unsur amat penting, karena mereka yakin bahwa apa saja yang terjadi dalam alam ini, termasuk perbuatan manusia, pada hakikatnya ada­lah manifestasi kehendak dan perbuatan Tuhan. Karena Tuhan yang pada hakikat­nya menciptakan segala peristiwa ini, pada tempatnyalah manusia mengajukan per­mohonan (doa) kepada-Nya, untuk men­dapatkan apa yang diharapkan. Bagi para ulama yang meyakini bahwa Tuhan men­ciptakan alam dan menggerakkannya me­nurut hukum-hukum yang tidak berubah (hukum-hukum itu dalam dunia ilmiah di­sebut hukum alam), kedudukan doa kepa­da Tuhan tetap dipandang penting. Bagi mereka, Tuhan, tanpa melanggar sunnah­Nya (hukum alam) tidaklah terhalang sa­ma sekali untuk memperkenankan sesuatu doa, seperti halnya seseorang dalam batas­batas kemampuannya dan dalam batas-ba­tas hukum alam, dapat dimintakan bantu­annya untuk memenuhi harapan atau per­mintaan orang lain yang berharap atau minta tolong. Bila seorang dokter di za­man sekarang dapat menggunakan sinar tertentu untuk menghancurkan batu yang terdapat dalam ginjal atau lemak dalam pembuluh darah, maka dapat dipahami bahwa. Tuhan dengan menggunakan sinar tertentu lainnya atau dengan kekuasaan­Nya sendiri, tanpa melanggar hukum alam, tidak terhalang untuk memperke­nan suatu doa.

Jaminan bahwa Milan akan rnemper­kenankan doa orang yang berdoa dapat dipahami dari al-Quran 2:186 (Bila hamba­hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka Aku dekat; Aku perkenankan doa si pen­doa, jika ia berdoa kepada-Ku. Maka hen­daklah mereka memenuhi segala perintah­Ku dan percaya pada-Ku, mudah-mudah­an mereka bersikap benar). Para ulama memahami bahwa setiap doa akan dika­bulkan, asal saja orang yang berdoa itu memenuhi tuntutan Tuhan, yang secara garis besar disebutkan dalam ayat 2:186 di atas. Dengan kata lain doa yang dika­bulkan itu adalah doa yang memenuhi syarat. Para ulama juga mengingatkan bah­wa tidak semua doa yang memenuhi sya­rat itu dipenuh dengan sempurna di dunia ini; sebagian doa yang memenuhi syarat itu dikabulkan tidak di dunia, tapi di akhi­rat. Dengan demikian setiap orang yang berdoa bukan saja dituntut untuk mening­katkan kualitas ketaatan dan upayanya, juga diuji apakah mau bersabar dan rela menerima kebijaksanaan Tuhan dalam me­menuhi doanya.

Advertisement