Advertisement

Dinasti Idrisiyah, adalah keturunan Hasan bin Ali yang bexkuasa di kawasan al-Magrib (Marokko) antara akhir abad ke­8 (-± 789/172 H) sampai perempat terakhir abad ke-10 (± 985/375 H). Idris, pendiri dinasti ini, berhasil menyelamatkan diri dari penghancuran yang dilancarkan kha­lifah Abbasiyah al-Hadi terhadap keluarga Hasan yang memberontak di Hijaz pada 785 (169 H). Memang pemberontakan se­macam ini bukanlah pertama kalinya di­lancarkan keturunan Ali terhadap para khalifah, baik Umayyah maupun Abbasi­yah. Karenanya tak mengherankan jika beberapa anggota keluarga Hasan yang se­lamat berusaha menjauhkan diri dari pe­ngawasan dan incaran khalifah di Bagdad. Dalam hal ini Idris bin Abdullah bin All bin al-Hasan melarikan din ke Afrika Uta­ra hingga akhirnya mendapatkan proteksi dan dukungan orang-orang Barbar di ka­wasan Magrib bagian utara. Kendatipun sampai saat ia meninggal pada 793 (177 H) Idris belum bisa dikatakan memerintah daerah Magrib namun sokongan yang dite­rimanya dari sekelompok masyarakat Bar-bar di Walila telah merupakan modal ber­harga bagi para keturunannya.

Situasi di Afrika Utara, khususnya Mag­rib, sangat menguntungkan bagi upaya pendirian kekuasaan yang otonom. Krisis politik yang melanda Afrika Utara semen­jak dekade terakhir masa kekhalifahan Ba­ni Umayyah telah menjadikan para khali­fah Abbasiyah kurang antusias, atau tidak mudah, melebarkan sayap kekuasaan me­reka sampai ke Magrib. Memang perlawan­an kelompok-kelompok Barbar lebih ditu­jukan kepada pemerintah pusat daripada kepada individu penguasa tertentu. Hal ini bisa dilihat dari dukungan orang-orang Barbar sebelumnya terhadap seorang ang­gota keluarga Umayyah Abdurrahman bin Mu`awiyah bin Hisyam ad-Dakhil yang mengungsi ke kawasan mereka; juga, se­waktu Bani Abbas naik tahta orang-orang Barbar tidak otomatis mendukung pim­pinan baru tersebut. Hanyalah pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid, Tunis se­cara penuh tunduk di bawah seorang amir bernama Ibrahim bin al-Aglab, yang diki­rirnkan khalifah pada 800 (184 H), meski­pun akhirnya ia berhasil mengembangkan kekuasaan otonom di sana.

Advertisement

Mendapatkan iklim politik yang meng­untungkan ini, di samping kecintaan orang­orang Barbar terhadap figur-figur kharis­matis, keturunan Idris berhasil dalam wak­tu singkat mendirikan pemerintahan di Magrib. Sepeninggal Idris, anaknya mam­pu menggalang dukunganlebih luas sehing­ga berhasil mendirikan pusat pemerintah­an di lokasi baru, Fez, pada 808 (192 H). Semakin besarnya kekuasaan Bani Idris ternyata juga menimbulkan oposisi dari kelompok Khawarij Rustamiyah yang me­nguasai Aljazair bagian barat, kendatipun akhirnya kedua pemegang kekuasaan yang bertetangga tersebut sepakat untuk hidup berdampingan secara damai. Namun an­caman yang lebih serius datang pertama dari timur dengan berdirinya khalifah Fa­timiyah di Tunis, yang sebagaimana Bani Idris mempopulerkan legitimasi kepemim­pinan mereka atas dasar hubungan keluar­ga dengan Nabi. Pada 922 (310 H) Fez di­duduki pasukan Fatimiyah dan penguasa Idrisiyah pun menyerah. Walaupun kekua­saan Bani Idris telah diporak-porandakan, rupanya beberapa anggota keluarga terse-but masih tetap berupaya bertahan bah­kan memberontak terhadap penguasa Fatimiyah. Yang lebih tidak menguntung­kan, ternyata Magrib akhirnya menjadi ajang perebutan perluasan wilayah antara khalifah Umayyah di Andalus dan khali­fah Fatimiyah di Tunis. Dinasti Idris be­nar-benar kehilangan kekuasaan resmi pa­da 985 (375 H) di tangan penguasa Umay­yah di Andalus. Hanya karena kecintaan dan hubungan yang terjalin di antara orang-orang Barbar dan Bani Idris, ketu­runan Hasan tersebut tetap berkembang dan populer di Magrib. Memang dinasti Alawiyah (syarif) yang mengambil alih ke­kuasaan di kawasan tersebut pada abad ke-17, dan terus berkuasa hingga kini, juga merekonstruksi, dan mengaku mempunyai, hubungan kekerabatan dengan keluarga Nabi lewat Bani Idris.

Advertisement